Bab 8. Apartemen Untuk Anna

1602 Words
Diajak pergi melihat apartemen, tapi Anna kebingungan Biru malah berbelok ke rumah sakit. Beberapa kali bertanya mau menjenguk siapa, sayangnya si boss tetap bungkam. Makanya meski penasaran, Anna pun tidak kepo lagi. Anteng mengikuti Biru yang dengan wajah sumringah, melangkah menyusuri koridor di ruang rawat rumah sakit. Sampai kemudian mereka bertemu Rega yang sudah menunggu di sana. Dia itu salah satu bodyguard pilihan, yang biasanya ditugaskan mengawasi nightclub milik kakak Biru. Perasaan Anna seketika was-was. Masalahnya kemarin dia mendengar sendiri, Biru memerintahkan Rega memberi pelajaran ke Arhan. Melebarkan langkahnya supaya sejajar dengan Biru, Anna menarik lengan kemeja bosnya pelan. “Kok Rega di sini? Jangan bilang kita ke sini mau cari Arhan?!” tebaknya curiga. “Kenapa?! Tidak senang mau ketemu mantan?” sahut Biru menyebalkan. “Jadi beneran, kemarin kalian gebukin dia lagi?” Mata Anna terbelalak lebar. “Memangnya kapan aku pernah bercanda?!” Biru mengulum senyum merangkul Anna yang masih cengo. “Biruuu …” “Tenang saja! Sebelum dia mengembalikan uangmu, aku tidak akan membiarkannya mati semudah itu!” Gila! Semarah apapun Anna uangnya dicolong ludes oleh Arhan, tapi dia tidak pernah berniat membalas dengan cara sesadis ini. “Dia di dalam!” Rega masuk ke salah satu kamar rawat. Ada empat ranjang pasien, tapi yang terisi hanya dua. Jantung Anna deg-degan mengikuti Rega yang kemudian berhenti di ranjang paling pinggir. Pas banget gorden pembatas dibuka dari dalam. Pria muda di depan mereka seketika terperanjat, melihat siapa tamu yang datang ke situ. “Anna ….” sapanya gagap dengan muka pucat. Jelas kenal, karena dia salah satu yang ikut karaoke waktu itu. Hanya saja kabur duluan. Anna berdiri mematung menatap Arhan yang terkapar di atas tempat tidur. Gila! Biru benar-benar sinting membuatnya terluka separah itu. Arhan babak belur tidak karuan. Sampai mukanya saja bengkak, nyaris tak bisa dikenali. Setelah melukai punggung tangannya, sekarang tenggorokannya juga dibalut perban. Biru menyeringai menggandeng Anna mendekat ke samping tempat tidur. Arhan yang tertidur pulas, sama sekali tidak menyadari kehadiran Anna dan bosnya. Rega menarik kerah teman Arhan mundur. Memperingatkannya untuk diam. "Bangun! Bisa-bisa kamu nanti bablas ke neraka!” Biru tiba-tiba mencekik leher Arhan. Anna sampai terjengkit kaget bukan main melihat kelakuan gila bosnya. Mata Arhan langsung terbelalak lebar. Wajahnya kaku memerah. Meronta kesakitan berusaha melepas cekikan di lehernya. Tidak ada suara jeritan, karena tusukan di lehernya membuat pita suara Arhan rusak. Dia terancam bisu. “Jangan gila kamu, Biru! Kamu bisa membunuhnya!” Anna menarik tangan Biru hingga cekikan di leher Arhan terlepas. “Kenapa?! Tidak tega mantanmu kesakitan?” Biru menatap greget Anna yang tampak panik. Gandengan tangannya mengerat. “Jangan cari perkara! Ini rumah sakit,” bujuk Anna dengan suara pelan. Tahu, Biru akan makin menggila kalau emosinya ditanggapi dengan amarah. Teman Arhan tidak berkutik. Hanya bisa berdiri menonton temannya kelojotan cengap-cengap dan kesakitan. Kali ini Arhan benar-benar salah cari lawan. Siapa sangka Anna yang dianggap lemah, bisa diinjak. Ternyata dibela oleh bosnya yang bukan hanya anak konglomerat, tapi juga bengisnya kayak iblis. Biru kembali menatap Arhan nyalang. Menyeringai melihatnya yang seperti orang sekarat. Sumpah! Rasanya Biru ingin mencincangnya hidup-hidup, setiap kali ingat bagaimana pria bangsatt ini tertawa dengan muka penuh nafsu menghajar dan menindih Anna. Benar-benar menjijikkan. “Berteriaklah yang keras! Sama seperti saat kamu tertawa dan memaki Anna, yang menangis kesakitan kamu hajar!” Biru menunduk. Menjambak rambut Arhan yang masih meringis kesakitan. “Bukankah kemarin kamu datang mencarinya ke tempat kost?! Lihat, sekarang Anna datang ke hadapanmu! Apa lagi yang kamu mau darinya, ha?!” Arhan menggeleng ke Anna yang melongo kaget. Benarkah kemarin Arhan mendatangi tempat kostnya? Tidak mungkin kan Biru mengada-ada. “Serius?! Dia kemarin ke tempatku sana?” tanya Anna berdebar. “Iya, dia sudah hampir menyergapmu saat pulang kerja kemarin sore. Tapi, lebih dulu dihadang oleh Jeno. Kalau tidak, kamu sudah celaka dua kali di tangannya!” sahut Rega memberitahu soal kemarin. Mendengar itu Anna justru menatap Biru yang menghempas kasar jambakannya ke Arhan. Tidak menyangka, dia menyuruh anak buahnya untuk menjaganya dari jauh. “Sekarang paham kan, kenapa aku memintamu pindah dari sana. Makanya jadi orang jangan suka ngeyel!” omel Biru greget banget ke Anna yang kemudian nyengir, mengeratkan rangkulan di lengannya. “Terima kasih,” ucapnya. Mata Arhan menatap sinis, mendapati bagaimana Anna yang terlihat mesra dengan bosnya. Andai bisa bicara, dia pasti memaki mantan pacar sialannya itu. Kelihatannya saja polos. Ternyata diam-diam juga selingkuh dengan bosnya. “Dengar baik-baik, bangsatt!” Biru menuding ke Arhan yang tidak berkutik. “Selama uang itu belum kamu bayar lunas, jangan harap kamu bisa hidup tenang! Semalam tenggorokanmu. Tiga hari lagi kalau uang itu belum kembali, aku congkel matamu! Paham!” ancam Biru bukan sekedar menggertak. Arhan tersengal. Melirik memohon ke Anna, tapi tidak digubris. Biru menggandeng Anna hendak pergi dari sana. Siapa sangka dengan nekatnya Arhan menyambar tangan Anna, hingga gadis itu menjerit kaget. “Ehhhh …” Anna meronta berusaha melepas cekalan tangan Arhan. “Keparatt!” Biru menoleh. Menggeram menyambar tangan Arhan, lalu memelintir keras. Wajah bengkak Arhan mendongak dengan mata melotot menahan sakit. Tubuhnya gemetar hebat. Temannya sudah hampir jantungan begitu melihat Biru juga menarik kasar selang infus Arhan, hingga terlepas. “Biru, sudah! Lepas!” Anna meraih tangan bosnya, melepas cekalannya dari Arhan. “Sialan! Sampah!” umpat Biru menarik Anna menjauh dari samping Arhan. “Ingat, tiga hari lagi kalau uang itu belum kembali, matamu yang akan jadi gantinya!” Biru merangkul Anna pergi dari sana. Meninggalkan Arhan yang menggeliat kesakitan, belepotan basah oleh cairan infus dan darah dari luka bekas jarum. Rega yang mengekor di belakang hanya cengar-cengir disuguhi kelakuan anak bosnya. Melihat Biru dikerubuti lalat berkutang, sudah biasa bagi mereka. Mengira dia bakal betah dengan dunia malam dan model sexy yang jadi mainannya. Ternyata sekarang sudah ketemu pawangnya. Lucu melihat Biru yang biasa sadis dan galak, sekarang jadi mode bucin gitu. Mana cewek yang bikin si bunglon klepek-klepek, lugunya amit-amit lagi. Sampai parkiran, Rega pergi dari sana. Sedangkan Biru membawa Anna melihat apartemen. Tidak jauh dari studio Seven, supaya Anna tidak perlu ribet dengan perjalanan pulang perginya. Dari Biru belok ke apartemen tadi, Anna sudah dibuat melongo. Bagaimana dia mau membayar sewanya nanti, sedang apartemennya saja semewah itu. Mau protes, takut. Nanti bosnya kalap lagi, seperti ketika dia menolak pindah malam itu. “Masuk!” Biru menarik tangan Anna yang malah bengong di depan pintu. Berada di lantai dua puluh. Baru melihat ruang depannya saja, sudah membuat Anna enggan masuk. “Kamu lihat-lihat dulu tempatnya. Kalau cocok, besok aku minta orang memindahkan barang-barangmu ke sini. Perabotannya juga sudah komplit!” ucap Biru merogoh ponselnya yang berdering. Entah siapa yang telpon, hingga dia pilih mengabaikannya. “Biruuu …” “Apa?” sahut Biru menoleh ke Anna yang malah masih berdiri di belakangnya. “Ini berlebihan. Aku cari kost yang biasa saja, banyak kok di sekitar sini,” ucapnya hati-hati. Takut kena bentak bosnya. “Nggak! Di sini lebih nyaman dan … Haish! Sialan!” Ponsel Biru kembali berdering. Melihat siapa yang menelpon, Biru malah mengumpat marah menolak panggilan. Mendecak keras, dia menatap Anna yang juga sedang kumat keras kepalanya. “Buruan, lihat ke dalam! Jangan bawel! Kemarin kena omel mama. Sekarang kamu juga mau bikin pusing!” dengusnya melangkah ke balkon, mengangkat telponnya yang kembali berdering dengan muka jengah. Menghela nafas panjang, Anna menatap punggung Biru yang menjauh dengan perasaan sesak. Biasanya kalau uring-uringan gitu, salah satu gundik bosnya lagi tantrum ngajak ngedate. Anna sudah terlalu hafal dengan kelakuan mereka. Tersenyum getir, dia melangkah melihat-lihat setiap sudut di sana. Dia yang hanya asisten fotografer, mana pantas menempati apartemen semewah ini! Lumayan luas, dengan fasilitasnya lengkap dan kamar tidur yang besar. Gajinya tiga bulan, belum tentu cukup bayar sewa sebulan tempat ini. Anna berdiri mematung di jendela besar kamar di sana. Pemandangan menghampar ibu kota dengan gedung-gedung menjulangnya. Dia masih menimbang, apakah akan pergi dari Seven. Karena untuk bertahan di samping Biru, rasanya juga dia tak sekuat itu. Dulu bukan urusan melihat sepak terjang bosnya, tapi bohong kalau sekarang dia tidak sakit. Berharap Arhan mengembalikan uangnya. Jadi nanti bisa dipakai untuk mencari tempat kos, juga menyambung hidup selama belum mendapat pekerjaan baru. Kapan pergi? Nanti kalau dia sudah menyerah dengan sakitnya. Sekarang akan dia nikmati dulu akibat dari kebodohannya. “Kenapa malah bengong di situ?” Biru menghampiri Anna yang berdiri melamun. “Sudah lihat semua?” tanyanya. “Sudah,” angguk Anna. “Suka?” Biru yang berdiri menyandar tembok menarik gadis itu mendekat, merengkuh pinggangnya. Anna gelagapan. Menatap gugup Biru yang mendekapnya merapat. Menelan ludah kasar. Jantungnya berdegup kencang mendapat tatapan lekat mata tajam menghujam bosnya. “Suka, nggak?” ulang Biru. “Kalau ujung-ujungnya maksa harus tinggal di sini, buat apa juga mesti tanya?!” sahut Anna kesal, tidak pernah diberi pilihan sesuai keinginannya. Boss sintingnya itu malah tertawa. Merapikan poni Anna, lalu mendekat mencium bibirnya. Dari lumatan lembut, lalu cecap dan belitan lidahnya membuat Anna kewalahan. Tersengal mendongak, dengan tangan mencengkram kemeja Biru saking gemetar oleh ciuman panasnya. “Karena aku maunya yang terbaik buat kamu!” ucap Biru mengelus wajah merona Anna yang terengah. “Tapi … tempat ini berlebihan! Aku tidak butuh apartemen sebesar dan semewah ini!” protes Anna menoleh menatap sekeliling kamar. Yang benar saja, tempat tidurnya saja empat kali lebih besar dari kasurnya di kamar kos. “Tempat tidur sebesar itu buat apa coba?!” gumamnya menggerutu. Biru menyeringai mencium ujung bibir Anna yang meliuk geli di pelukannya. “Kalau begitu aku kasih tahu, gunanya ranjang sebesar itu buat apa!” bisik Biru dalam sekali hentak mengangkat tubuh Anna ke gendongan. Anna masih ngeblank, ketika kemudian dia dilempar ke tempat tidur dan ditindih tubuh kekar bosnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD