10

1209 Words

“Mbak… bangun, Mbak!” Tok. Tok. Tok. Kalinda sudah berdiri di depan pintu kamar Lintang sejak sepuluh menit yang lalu. Awalnya masih sabar. Masih pakai nada halus. Tapi semakin lama—ketukannya makin cepat, makin keras, makin membuat darah tinggi. “Lintang!” kali ini tidak lagi pakai embel-embel “mbak”. Walaupun begitu masih saja tak ada jawaban. Kalinda memicingkan mata, menatap pintu itu seolah bisa menembus isi kamar dan segera menarik putrinya untuk bangun. “Ya Allah… punya anak perawan satu kok kebonya Masya Allah…” gerutunya, dan tangannya kini sudah berpindah ke pinggang. “Ini kalau bukan anak sendiri, sudah aku siram pakai air satu ember dari tadi!” Tok! Tok! Tok! Kalinda mengetok pintu itu lagi. Ketukannya berubah jadi gedoran kecil. "Ya Allah Mbak. Apa gak pedes itu mata

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD