36

1563 Words

Dewa mengatur napasnya yang sempat memburu, mencoba meredam aura membunuh yang sedari tadi menguar dari tubuhnya. Ia membalikkan badan, sepenuhnya mengabaikan keluarga Monica yang kini tengah mematung dengan wajah pias dan tubuh gemetar di sudut lobi Mapolres. Mata abu-abu Dewa menatap lekat kedua orang tuanya yang berdiri anggun di tengah hiruk-pikuk kantor polisi. "Papa sama Mama kapan sampai di Surabaya?" tanya Dewa, suaranya melunak satu oktav, meski sisa Ketegasan masih terdengar jelas. "Setahu Dewa, Papa dan Mama masih ada urusan di Jakarta sampai akhir bulan ini." Dewangga Dirgantara tersenyum tipis, sebuah senyuman sarat wibawa yang sangat mirip dengan milik Dewa. "Papa sengaja memajukan jadwal penerbangan subuh tadi karena ada proyek mendesak di Surabaya Barat. Mama yang bersik

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD