Sementara itu, seribu kilometer dari Surabaya, atmosfer di lantai teratas gedung korporat Dirgantara Group di Jakarta justru terasa berbanding terbalik. Tidak ada aroma bumbu dapur atau riuh canda tetangga, yang ada hanyalah denting pulpen mahal, deru halus pendingin ruangan, dan tumpukan berkas yang menuntut tanda tangan segera. Sadewa Arka Dirgantara melonggarkan ikatan dasinya sedikit lebih turun, lalu bersandar pada kursi kebesarannya. Jam dinding di ruang kerjanya sudah menunjukkan pukul dua siang. Pria itu mengembus napas panjang, merogoh ponsel di atas meja untuk membaca kembali pesan penolakan terakhir dari calon istrinya. Sudut bibirnya terangkat tipis, memancarkan senyum kecil yang jarang sekali diperlihatkan di depan bawahannya. "Pak Sadewa," panggil sebuah suara dari arah pin

