Di dapur bersih mansion utama Pondok Indah yang luas dan bernuansa klasik modern, aroma harum tumisan bumbu dan panggangan daging seketika menggugah selera. Suasana hangat begitu terasa di ruangan bernuansa putih-emas itu, di mana Lintang Ayu sedang sibuk memotong beberapa sayuran hias untuk pelengkap hidangan. Padahal, sejak tiga puluh menit yang lalu, Mama Naomi sudah berulang kali menepuk pelan lengan Lintang, mencoba menjauhkan calon menantunya itu dari area kompor. "Halah, wis toh, Lintang... kamu minggir saja, duduk manis ndek meja bar sana," bujuk Mama Naomi dengan nada lembutnya yang sarat akan rasa gemas. "Ini biar diteruskan sama bibik saja. Mama ndak mau ya gaun cantikmu itu nanti kena cipratan minyak atau bau asap dapur." Lintang hanya terkekeh geli, menggelengkan kepalanya

