Di dalam kabin mobil, suasana terasa begitu kontras. Di balik kemudi, Lintang hanya diam seribu bahasa dengan pandangan lurus menatap jalanan Surabaya yang mulai merayap padat oleh kendaraan kaum pelaju pagi. Kedua tangan manisnya mencengkeram setir agak kuat, menyalurkan sisa-sisa rasa jengkel dan dongkol yang masih menggumpal di dalam dadanya. Pikiran Lintang melayang jauh, mengulang kembali wajah tanpa dosa Sadewa saat berpamitan tadi. Sementara di kursi penumpang sebelah, Linggar sama sekali tidak terpengaruh oleh atmosfer mendung yang dipancarkan sang kakak. Bocah gembul itu sejak tadi sibuk mengoceh riang, menceritakan tentang tugas menggambar bebas hari ini hingga rencana bermain sepak bola plastik bersama teman-teman kelas satu SD nanti saat jam istirahat. "Mbak Lintang, nanti pu

