BAB 6

1794 Words
Gadis itu kelihatan bosan. Arata melirik Aurelie yang sedang memandangi sebuah patung karya Rodin tanpa ekspresi. Mereka sudah berada di museum itu selama lebih dari dua jam dan walaupun jelas-jelas tidak tertarik pada seni patung, gadis itu cukup sabar menemaninya. Tidak mengeluh sedikit pun. Arata memutuskan tidak memperpanjang penderitaan Aurelie dan mengajaknya makan siang di kafe yang ada di taman museum. Makanan yang disajikan sederhana saja, tapi suasananya menyenangkan. “Bosan?” tanya Arata sementara mereka menunggu pesanan diantarkan. Aurelie tersenyum dan melipat kedua lengannya di meja. “Mm, sedikit,” jawabnya jujur, lalu mengangkat bahu. “Tapi aku sudah terbiasa. Julien sering mengajakku kalau ada pameran arsitektur, sedangkan aku buta soal arsitektur.” Arata tertawa kecil. “Kalau begitu, setelah makan siang, kita ke tempat lain yang lebih menarik. Bagaimana? Ada saran?” “Bagaimana kalau ke Jardin du Luxembourg?” tanya Aurelie, lalu berpikir lagi. “Atau kau mau belanja? Kita bisa ke Boulevard Saint-Germain atau rue de Grenelle. Tidak, laki-laki tidak suka berbelanja ... Ah, benar! Aku harus menunjukkan tempat kesukaanku! Sudah pernah melihat kota Paris dari ketinggian?” Arata menggeleng. Ia baru menyadari ia senang mendengar celotehan gadis itu. Ia suka mendengarkan suara Aurelie. Seolah memahami perasaan Arata, Aurelie terus berceloteh panjang-lebar. “Julien dan aku suka sekali melihat pemandangan kota Parisdari puncak Arc de Triomphe,” katanya dengan mata berbinar-binar. “Benar-benar menakjubkan! Banyak orang lebih suka melihat kota Paris dari puncak Eiffel, tapi menurutku pemandangan dari puncak Arc de Triomphe adalah yang terbaik. Bisa membuatmu sulit bernapas. “Aku paling suka berada di tempat yang tinggi, karena aku akan merasa ... mm, bagaimana mengatakannya, ya? Rasanya begitu jauh dari peradaban. Kau mengerti maksudku? Rasanya seperti meninggalkan beban di tanah dan kita melayang bebas. Aku dan Julien suka ke sana kalau sedang stres. Aku jamin, setengah jam di sana perasaanmu langsung jauh lebih baik.” “Kita akan ke sana malam nanti karena pemandangan malam kota Paris lebih indah.” Aurelie terdiam sejenak untuk menarik napas, lalu bertanya, “Kau sungguh-sungguh belum pernah melihat-lihat kota Paris?” Matanya yang besar menatap Arata dengan pandangan bertanya. “Begitulah.” Arata berusaha menahan senyum. Gadis itu sanggup bercerita terus kalau memang diperlukan. Gadis yang menarik. “Aneh... Sudah berapa kali kau datang ke Paris?” tanya Aurelie. Arata mendongak dan berpikir-pikir. “Wah, aku tidak ingat.” Aurelie mengangkat bahu. “Aneh sekali kalau datang ke Paris dan tidak berkeliling. Kau selalu datang untuk urusan kerja?” Arata ragu sejenak. “Tidak juga,” jawabnya pelan. “Lalu kau datang untuk apa? Tidak mungkin untuk berlibur karena kau bilang kau bahkan tidak berkeliling dan melihat-lihat kota.” Arata menunduk dan bergumam, “Mencari seseorang.” “Apa?” tanya Aurelie dan mencondongkan tubuh ke depan karena tidak mendengar dengan jelas. Arata mengangkat wajah dan mengulangi, “Aku ke sini untuk mencari seseorang.” “Siapa?” Pertanyaan yang wajar, tapi Arata tidak ingin menjawab. Ia masih belum yakin mau menceritakannya pada orang lain. Untung saja saat itu makanan pesanan mereka datang sehingga Arata tidak perlu langsung menjawab. “Kau mencari siapa?” tanya Aurelie sekali lagi setelah pelayan pergi. Gadis itu benar-benar tidak mau melepaskannya. Jawaban apa yang bisa diberikan? “Ceritanya panjang,” Arata mengelak, tidak langsung menjawab pertanyaan Aurelie tadi. “Lain kali saja kuceritakan.” Gadis itu tidak mendesaknya lagi. Aurelie memang suka berceloteh panjang lebar, tetapi ia tidak suka memaksa, meskipun sebenarnya dia penasaran. Setelah selesai makan, Aurelie membawanya berkeliling kota, dengan penuh semangat menunjukkan tempat-tempat menarik, seperti pemandu wisata berpengalaman. Arata menyadari Aurelie gadis yang ekspresif. Ia tidak hanya bercerita dengan kata-katanya, tapi juga dengan mata dan gerakan tubuhnya. Mungkin karena cuaca hari ini cerah, mungkin karena angin juga tidak bertiup terlalu kencang, atau mungkin juga karena ia mendapat teman seperjalanan yang menyenangkan, Arata merasa santai hari itu. Gembira dan santai. Sudah lama sekali ia tidak mengalami perasaan seperti ini. Kapan terakhir kalinya ia merasa gembira? Pasti sebelum ibunya meninggal dunia. Dan sudah pasti sebelum ia tahu rahasia itu. Ia merasa lengannya disiku pelan. Ia menoleh dan melihat Aurelie sedang menatapnya dengan alis berkerut. “Apa yang sedang kaupikirkan?” tanya gadis itu sambil tersenyum. Kerutan di dahinya menghilang. “Tidak ada,” Arata berbohong. Aurelie mendengus pelan, masih tetap tersenyum. “Bohong,” gumamnya dengan nada riang. “Kau tahu, Julien juga sering begitu.” “Sering bagaimana?” Aurelie mendongak. Senyumnya masih menghiasi bibirnya. Sepertinya memikirkan Julien saja ia bisa tersenyum. “Aku selalu tahu kalau Julien sedang banyak pikiran,” kataya. Arata mendengar nada bangga dalam suara gadis itu. “Alisnya akan berkerut dan dia lebih banyak diam. Kalau ditanya apa yang sedang dipikirkannya, dia hanya akan menjawab ‘tidak apa-apa’ dengan nada berat.” Aurelie menoleh mamandangnya dan senyumnya melebar. “Sama seperti yang kau lakukan tadi.” Arata mengangkat alisnya dan ikut tersenyum. Gaids itu punya senyum yang menular. “Taman yang indah,” komentar Arata mengalihkan pembicaraan. Mereka sedang berjalan-jalan di Jardin du Luxembourg. Arata memandang berkeliling. Banyak juga orang—orang yang menikmati jalan-jalan sore di taman ini seperti mereka. Aurelie menggumam dan mengangguk. “Aku dan Julien suka ke sini. Kadang-kadang kalau kami berdua punya waktu senggang, kami akan duduk-duduk dan mengobrol tanpa tujuan.” Arata memandang gadis itu dengan bimbang. “Ah! Itu ada bangku kosong,” seru Aurelie tiba-tiba. “Ayo, kita duduk di sana.” Arata membiarkan dirinya ditarik ke arah bangku kosong tidak jauh dari sana. Aurelie menyandarkan tubuhnya, mendongak, memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, dan mengembuskannya. “Hari yang indah sekali,” katanya pada dirinya sendiri, lalu menyiku lengan Arata pelan. “Lihat, daun-daun sudah mulai berwarna cokelat. Bagus sekali, bukan?” Arata memandang gadis itu sambil tersenyum samar. “Kami—Julien dan aku, maksudku—suka sekali musim gugur,” desah Aurelie. Ia menoleh menatap Arata. “Kau tahu bagian yang paling menyenangkan?” Arata menggeleng, masih tetap memandangi gadis itu. “Aku paling suka merasakan angin musim gugur di wajahku. Membuat ujung hidung dan kedua pipiku terasa dingin,” kata Aurelie sambil tertawa. Ia menyentuh ujung hidung dan pipinya untuk menegaskan kata-katanya. Arata menimbang-nimbang sesaat, lalu berkata, “Ada yang ingin kutanyakan.” Gadis yang duduk di sampingnya itu menoleh. “Apa itu?” Arata ragu sejenak, lalu memutuskan untuk bertanya. “Apakah kau dan Julien ...?” Aurelie mengangkat alisnya, menunggunya melanjutkan. “Kau tahu maksudku,” Arata meneruskan dengan enggan. “Apakah kau dan Julien ... pacaran?” Aurelie mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tertawa terbahak-bahak. “Oh, astaga! Tidak,” jawabnya ketika tawanya mereda. “Tidak, kami tidak pacaran. Kenapa bertanya seperti itu?” Arata mengangkat bahu. “Kau selalu menyebut-nyebut namanya. Julien juga sering membicarakan dirimu.” Aurelie menatapnya lurus-lurus. Matanya berbinar-binar. “Julien sering membicarakan aku?” tanyanya perlahan. Arata membalas tatapannya. Baiklah, seharusnya ia tadi tidak mengatakan hal itu. Sekarang ia merasa tidak ingin menjawab, tapi ... “Ya—” Aurelie tersenyum senang dan menunduk memandangi kakinya. Saat itu juga Arata tahu. Gadis itu menyukai Julien. “Kau menyukainya?” Kenapa mulutnya bergerak sendiri? Arata menyesali kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Bagaimanapun itu bukan urusannya. Aurelie berpikir sejenak. “Dia teman yang baik,” jawabnya diplomatis. Ia menoleh menatap Arata dan tersenyum lagi. Tiba=tiba ia berkata, “Hei, aku baru sadar warna matamu abu-abu. Sama seperti aku. Kau lihat? Mataku juga abu-abu.” Arata menatap mata kelabu gadis yang duduk di sampingnya itu dan tersenyum. Mata kelabu yang bersinar ramah, hangat, dan ekspresif. Mata yang dengan mudah mencerminkan apa yang sedang dirasakan pemiliknya. Mata yang bisa dipercaya. “Lensa kontak, bukan? Aku tahu lensa kontak berwarna sangat digandrungi anak-anak muda di Jepang,” tambah Aurelie agak bangga karena merasa punya sedikit pengetahuan tentang tren anak muda di Jepang, entah itu benar atau tidak. Arata tidak langsung menyadari bahwa Aurelie masih membicarakan tentang warna matanya yang tidak biasa bagi orang Asia. Akhirnya ia balas bertanya, “Kau sendiri memakai lensa kontak?” Aurelie teringat warna matanya sendiri. “Enak saja,” protesnya. “Ini warna asli mataku.” “Ah, benar,” kata Arata sambil menengadah. “Julien pernah bilang ayahmu orang Prancis.” “Ya. Ibuku orang Indonesia. Selain warna mataku, aku memang lebih mirip ibuku.” “Oh, Indonesia?” “Kenapa?” “Aku punya kenalan yang bisa berbahasa Indonesia di Tokyo.” “Oh ya?” Arata tertawa kecil. “Dia tetanggaku. Apartemennya tepat di sebelah apartemenku. Gadis manis yang pendiam, tapi bisa berubah segalak singa kalau perlu. Kadang-kadang dia suka mengomel dalam bahasa Indonesia.” “Kau mengerti apa yang dikatakannya?” Arata mengangkat bahu. “Hanya beberapa kata. Aku suka bertanya apa yang diomelkannya.” Aurelie mengangguk-angguk. “Aku jadi ingin belajar bahasa Jepang.” “Kau ingin belajar bahasa Jepang?” Arata mengulangi ucapan Aurelie. “Kenapa?” “Tidak kenapa-kenapa. Aku memang suka belajar bahasa asing,” sahutnya sambil mengangkat bahu. “Kalau tidak salah, dalam bahasa Jepang kau harus menambahkan kata san pada nama orang, bukan?” Arata mengangguk. “Kalau kau sudah mengenalnya dengan baik, kau boleh memakai kata chan.” “Arata-san? Atau Kurokawa-san?” tanya Aurelie tidak pasti. “Dua-duanya boleh, Aurelie-chan.” “Hei, kau tahu, aku suka caramu menyebut namaku,” kata Aurelie dengan wajah berseri-seri. “Julien tidak pernah menyebut namaku dengan benar.” Arata merasa senang. Ia punya satu kelebihan dibandingkan Julien. Nah, pikiran apa itu? Kenapa sekarang ia membanding-bandingkan diri dengan Julien? Arata menghapus pikiran itu dari benaknya. Tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi. “Allo?” kata Aurelie setelah menempelkan ponsel ke telinga. Arata bisa melihat perubahan ekspresinya. Matanya berkilat-kilat dan senyumnya melebar. ‘Telepon dari Julien,’ pikir Arata tanpa bisa dicegah. “Julien!” seru gadis itu gembira. Arata memalingkan wajah. ‘Benar, bukan?’ “Kau sudah sampai? ... Belum? ... Tentu saja, aku bisa menjemputmu ... Kau bawa oleh-oleh untukku? ... Wah, kau memang baik sekalii ... Oke, sampai jumpa!” Aurelie menutup ponselnya. Ia masih tersenyum sendiri. “Julien pulang hari ini?” tanya Arata berbasa-basi. Aurelie mengangguk. “Aku mau pergi menjemputnya,” katanya, lalu ia teringat sesuatu. “Oh ya, maaf. Aku tidak bisa menemanimu ke Arc de Triomphe malam ini.” “Tidak apa-apa. Kita bisa pergi lain kali.” Aurelie bangkit dan merapikan syalnya. “Mau kuantar pulang?” Arata menggeleng. “Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku ingin ke tempat lain dulu. Kau pergi saja.” “Baiklah,” kata gadis itu sambil tersenyum. “Aku pergi dulu. Terima kasih karena sudah mentraktirku makan siang. Lain kali giliranku.” “Terima kasih karena sudah menemaniku hari ini.” Aurelie melambaikan tangan. “Sampai jumpa.” “Sampai ketemu lagi, Aurelie-chan.” Arata memandangi Aurelie yang berlari-lari kecil menjauhinya dan menarik napas panjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD