Bab 12. Sandiwara

1006 Words
Bi Ijah merapikan kasur mewah yang penuh dengan sisa cinta sang majikan. Ia menarik seprei kotor dan segera menggantinya dengan yang bersih. "Ya Allah ... Tuan Rayyan ...." Sesungguhnya, hati Bi Ijah merasa tak rela jika Evelyn bermain api di belakang Rayyan. Bi Ijah tahu jika Rayyan begitu tulus mencintai istrinya. Bi Ijah pun tak menampik jika Rayyan adalah orang yang baik. Tapi seorang pelayan sepertinya bisa apa, selain berpura-pura dan menutup mata. Ia butuh pekerjaan ini—pekerjaan yang memberikannya gaji cukup tinggi si usianyanyang sudah tua. Sedangkan Evelyn sendiri, dia tengah asyik menikmati kudapan manis untuk mengisi tenaganya kembali setelah energinya terkuras habis di atas ranjang bersama sang kekasih hati. "Sudah, Nyonya," ucap Bi Ijah saat melangkah keluar dari dalam kamar Evelyn. "Segera masukkan ke dalam mesin cuci, Bi ... Ingat, jangan macam-macam. Awas aja kalau sampai Mas Rayyan tahu soal ini!" ancamnya seraya bergelayut manja pada lengan Andre. "I-iya, Nyonya," jawab Bi Ijah dengan kepala tertunduk. Bi Ijah segera menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya, lalu bergegas pergi untuk mengerjakan sisanya sesuai perintah sang majikan. Lagi pula, dia juga begitu muak melihat pemandangan yang tak seharusnya dia lihat. "Ndre, kamu yakin kalau Bi Ijah akan tutup mulut, 'kan?" Evelyn menoleh, dan menatap cemas pada Andre yang berada di sampingnya. "Kamu masih nggak percaya, Lyn? Bukankah hubungan kita selama satu tahun ini aman-aman saja. Sedangkan kita tahu kalau Bi Ijah sudah melihat semuanya. Itu membuktikan kalau nenek tua itu masih menutup mulutnya rapat-rapat," jawab pria tersebut. "Kenapa kamu tiba-tiba tanya hal itu, Lyn?" lanjutnya. "Aku ... Aku hanya khawatir, itu saja," ucap Evelyn. Andre membelai Evelyn dengan lembut. "Tenang saja, semua baik-baik saja." "Tapi sekarang sudah beda, Ndre. Rayyan sudah tahu kalau aku hamil. Jadi sudah pasti dia akan lebih sering berada di rumah." Kekhawatiran jelas terpancar di wajah Evelyn. "Sampai kapan drama itu harus berjalan? Aku lelah ...." "Tentu saja ... setelah kamu bisa mendapatkan sebagian besar harta Permana," jawab Andre dengan sorot mata yang kini berubah tajam. "Sepertinya aku nggak bisa. Aku rasa tabunganku mungkin sudah cukup banyak, kita juga bisa jual beberapa properti yang pernah Rayyan belikan untukku. Tapi aku ingin semua ini berakhir, Ndre." Evelyn menundukkan kepala dan tampak buliran air mata mulai menggenang di pelupuknya. "Jangan nekat, Evelyn! Apa kamu pikir uang itu akan cukup untuk masa depan anak ini? Itu masih terlalu kecil." Ucapan kasar pun akhirnya keluar dari mulut sang Andre. Evelyn terkesiap mendengarnya. Yang Evelyn tahu, selama ini dirinya selalu dimanjakan dan dilimpahi kasih sayang oleh Andre saat Rayyan terlalu sibuk. Sekarang, kenapa pria itu berani membentaknya?. "A-aku hanya lelah bersandiwara—" "Belum saatnya, Lyn. Kamu nggak mau 'kan kalau nanti hidumu akan kembali susah seperti dulu?" Evelyn menggeleng cepat. "Tentu saja nggak mau!" "Jadi, kita ikuti saja alur drama ini. Jika kamu bisa mendapatkan yang besar, kenapa harus cukup dengan yang kecil," ujar Andre dengan sebuah senyuman yang sulit untuk bisa diartikan. Kedua mata Evelyn membelalak, dia sungguh tak percaya jika dengan mudahnya Andre berkata demikian. "Hah? Apa kamu nggak cemburu? Atau jangan-jangan sebenarnya ... kamu nggak sungguh-sungguh mencintaiku ...." "Hei! Kenapa kamu mengatakan hal yang mengerikan seperti itu? Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Evelyn. Cinta yang bahkan membuatku mau gila rasanya. Tapi aku harus bagaimana? Aku akan mengalah karena semua ini demi masa depan kita, dan juga anak kita," elaknya. Evelyn menghela napasnya berat, sebenarnya dia sudah muak menjalani drama yang pelik ini. "Oke, aku akan coba lanjutkan semuanya." "Nah, gitu dong." Pria itu menyeringai. Meski Evelyn sudah lelah dengan sandiwara yang tengah dia mainkan, tetapi sudah tidak ada jalan lain selain mengikuti alur permainan ini. Andre kembali membelai rambutnya dengan lembut, lalu menciumi tubuh Evelyn kembali. Sedangkan Evelyn, hanya bisa menikmati gejolak yang kini kembali datang menghampirinya. Tapi, tiba-tiba saja pria itu menghentikan gerakan tangannya, lalu bangkit dan segera meraih pakaiannya. "Aku pulang, takutnya suamimu keburu pulang," ucapnya. Evelyn membenamkan tubuhnya di atas d**a bidang sang idaman. "Padahal aku masih ingin terus, sayang sekali ...." "Hei ... kita bisa kembali lakukan itu jika ada kesempatan, tenang saja," sahutnya. "Janji?" "Ya, tentu saja, Sayang. Saat ada kesempatan, akan kubuat kamu sampai mabuk kepayang ... seperti biasa," godanya seraya mencubit hidung bangir Evelyn. Andre segera memakai kembali pakaiannya. Bersiap pergi sebelum sang pemilik rumah sebenarnya kembali. Sebelum pergi, mereka kembali b******u untuk terakhir kalinya. Andai tidak khawatir Rayyan kembali, mungkin mereka bisa saja kembali melakukannya. "Aku pergi dulu, Lyn." "Bye, Ndre ...." Andre berlalu pergi dengan cepat meninggalkan Evelyn yang masih dalam lelahnya setelah percintaan tadi. Dia merindukan saat dimana Rayyan sibuk dengan pekerjaannya dan pergi lama. Dengan bebas bisa mengundangnya tinggal untuk menghabiskan malam yang panas, tapi ada kemungkinan itu akan sulit terjadi kembali. Evelyn merasa cintanya pada Rayyan sudah mulai memudar, yang dia dapatkan dari pernikahannya hanyalah limpahan kekayaan yang bisa memenuhi kebutuhan jasmaninya saja, tetapi tidak dengan yang lainnya. Baru saja Andre keluar, suara mobil Rayyan sudah terdengar memasuki halaman. Evelyn yang mendengarnya buru-buru merapikan diri. Jantungnya berdegup sangat kencang, keringat dingin mengalir di pelipisnya, meski ruangan itu sudah tak lagi panas dari pergumulan mereka. Tetap saja dia masih takut ketahuan. Evelyn merasa darahnya seakan berhenti mengalir. "Rayyan sudah kembali, apa dia melihatnya?" batin Evelyn cemas. Memang wajar dia cemas, karena selang perginya Andre dengan kedatangan Rayyan hanya terpaut beberapa saat saja. Evelyn mengerahkan seluruh keberaniannya, menahan napas untuk menutupi kegugupan, dan melangkah ke ruang depan. Rayyan terlihat lelah, setelan jasnya sedikit kusut, tetapi ia tetap menatap Evelyn dengan penuh cinta saat pintu terbuka. "Evelyn, Sayang, aku pulang," ucapnya dengan senyum yang tulus. Evelyn memaksakan senyuman sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Mas, kamu sudah pulang? Kok tumben cepat sekali. Kukira kamu akan pulang larut malam, Mas." Rayyan menggeleng sambil membuka kancing bajunya. "Aku memang sengaja memutuskan untuk pulang lebih awal. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, aku selalu merindukanmu, Lyn," katanya seraya mendekat dan mencium pipi istrinya. Evelyn merasa tubuhnya kaku, ingin mundur tapi dia tak bisa. Evelyn berusaha untuk tetap tenang, tak ingin Rayyan mencium aroma asing yang mungkin masih tertinggal di tubuhnya. Ia menarik Rayyan ke ruang tamu, mencoba untuk mengalihkan perhatian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD