Evelyn berusaha menguasai dirinya, menyembunyikan kepanikan yang sempat melintas di wajahnya. Ia meneguk teh perlahan, mencoba mengulur waktu sebelum menjawab. "Kenapa tiba-tiba ingin periksa, Mas?" tanyanya sambil memasang ekspresi tenang. Rayyan tersenyum kecil, menatap Evelyn dengan lembut. "Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Aku ingin jadi ayah yang siaga sejak awal." Evelyn merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. "Tapi... aku masih merasa baik-baik saja, Mas. Mungkin nanti saja kalau aku merasa ada keluhan?" Rayyan mengernyit, sedikit heran dengan reaksi istrinya. "Lyn, ini bukan soal ada keluhan atau tidak. Aku cuma ingin memastikan kondisi kamu dan calon bayi kita sehat." Jantung Evelyn berdetak semakin cepat. Ia berusaha mati-matian menenangka

