Bab 8. Tidak Puas

1096 Words
Evelyn duduk di dalam teater, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang. Dia memaksakan senyum ketika Rayyan menyodorkan popcorn dan minuman kepadanya. "Ini, Lyn. Kok kayaknya kamu tegang?" "Siapa yang tegang, Mas? Nggak kok." Evelyn tersenyum, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Mungkin aku terhanyut sama filmnya, Mas," ujar Evelyn. Rayyan mengangguk paham, lalu merangkul bahu istrinya itu dengan lembut. “Santai saja, oke? Ini waktu kita berdua. Just we are!” Mereka mulai menikmati film, tapi pikiran Evelyn terus melayang pada pertemuan tak terduganya tadi dengan Andre. Dia tidak pernah menyangka bahwa pria itu akan muncul di tengah keramaian seperti ini, sangat berani dan penuh percaya diri. Dia merasa jantungnya semakin berdegup kencang setiap kali membayangkan Andre yang seringkali menyelinap datang, mengancam dunia yang ia bangun bersama Rayyan. Tatapan Rayyan teralihkan sebentar saat layar menampilkan adegan romantis. Evelyn merasakan perhatian suaminya, dan sejenak dia merasa hangat dan aman di sampingnya. Namun, di balik kenyamanan itu, bayang-bayang gelap terus membayangi, menyusup dalam setiap kesempatan, seolah-olah mengingatkannya bahwa kebahagiaannya saat ini adalah sebuah pelarian. "Lyn," Rayyan berbisik, memecah lamunannya. "Kamu tahu, aku sangat bahagia bisa bersama kamu seperti ini," ucap Rayyan jujur. Karena sebenarnya setiap kali ia berjauhan dengan Evelyn, rasa rindu tak tertahan selalu menderanya. Evelyn hanya bisa mengangguk, menahan senyum kecil di bibirnya. Dalam hati, dia berjanji, apa pun yang terjadi dia akan menutup kebenaran yang bisa menghancurkan dirinya. "Aku juga, Mas." Rayyan melirik ke arah istrinya yang sedang fokus menatap layar besar di depannya. Setelah keluar dari bioskop, Evelyn seolah tidak bertenaga. "Sayang, kamu lapar, nggak? Mau makan dulu sebelum pulang?" tawar Rayyan sambil tersenyum. Evelyn ragu sejenak. Dia ingin cepat pulang dan menjauh dari kemungkinan bertemu pria itu lagi, tapi Rayyan tak tahu apa yang sedang dia alami. Dengan mengangguk, Evelyn mengiyakan, "Es krim aja, ya." "Oke, Sayang." Rayyan tersenyum dan menuntunnya ke sebuah kafe kecil di sudut mall yang cukup tenang, di mana di sana menjual berbagai varian es krim. Memang hanya es krim yang Evelyn pesan, karena ia tak ingin terlalu kenyang. Tentu saja itu akan membuatnya perutnya tidak terlalu nyaman. Setelah menikmati es krim, Rayyan dan Evelyn pun memutuskan untuk pulang. Malam semakin larut, dan suasana mall sudah mulai sepi. Rayyan menggandeng tangan Evelyn saat mereka berjalan menuju tempat parkir. Mereka memasuki mobil, dan Rayyan menyalakan mesin, siap untuk perjalanan pulang. Namun, beberapa kilometer kemudian, mereka dihadapkan pada kemacetan panjang. Rayyan menghela napas, "Macet, Lyn." Evelyn berusaha tetap tenang, tetapi entah mengapa tubuhnya terasa semakin berat. Perutnya mulai tidak nyaman, dan sensasi mual perlahan datang. Mungkin karena macet, pikirnya, atau mungkin karena terlalu banyak pikiran berseliweran di kepalanya. Dia menarik napas dalam-dalam, berharap rasa mualnya mereda. "Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Rayyan, melirik sekilas saat menyadari wajah Evelyn yang tampak sedikit pucat. Evelyn tersenyum lemah dan mengangguk. "Aku ... aku nggak apa-apa, kok. Mungkin cuma sedikit pusing." Rayyan mengulurkan tangan dan mengusap punggungnya dengan lembut. "Kalau kamu merasa mual, coba hirup udara dalam-dalam, Lyn. Kita bisa berhenti sebentar kalau kamu butuh." Evelyn mencoba mengikuti saran Rayyan, menarik napas panjang dan berusaha menenangkan dirinya. Namun, kemacetan yang lambat bergerak membuatnya semakin tidak nyaman. Beberapa menit kemudian, Evelyn merasa mualnya semakin menjadi-jadi. Tangannya menggenggam erat kursi mobil, dan dia memejamkan mata, berusaha sekuat tenaga menahan dorongan untuk muntah. Rayyan merasakan kejanggalan itu dan segera menepikan mobilnya saat menemukan area berhenti yang aman. “Lyn, kamu yakin nggak apa-apa?” tanyanya cemas. Evelyn membuka mata dan memandangnya, tersenyum tipis walau rasa mual masih menyergap. "Aku nggak jadi muntah … hanya perlu istirahat sebentar, mungkin." Rayyan mengangguk dan membuka jendela, membiarkan udara segar malam masuk ke dalam mobil. Evelyn menarik napas perlahan, membiarkan udara malam menenangkan perutnya yang terasa bergejolak. Sambil menenangkan diri, dia menyadari betapa Rayyan begitu perhatian padanya, sesuatu yang membuatnya merasa bersalah. "Maaf ya, Mas. Aku jadi merepotkan," gumam Evelyn pelan. Rayyan tersenyum lembut dan menggenggam tangannya. "Nggak apa-apa, Sayang. Kesehatan kamu lebih penting. Aku cuma pengen kamu nyaman. Aku nggak mau kalau sampai anak kita kenapa-kenapa. Evelyn hanya bisa mengangguk pelan, menghindari tatapan Rayyan. Evelyn tahu, dia tak bisa selamanya bersembunyi, namun malam ini dia berjanji akan terus berpura-pura kuat demi cinta dan kebahagiaan mereka yang dia ingin lindungi. Setelah cukup lama berkutat dengan kemacetan, akhirnya mereka sampai di rumah. Setibanya di rumah, Evelyn langsung membaringkan tubuhnya. Rasa mual sudah tidak bisa dia tahan, tetapi bisa bahaya jika Rayyan curiga—pikirnya. "Aku mandi duluan, ya ... gerah," ucapnya seraya mengipasi tubuh dengan tangan. "Ya sudah, kamu saja duluan," jawab Rayyan. "Atau ... mau mandi bareng?" godanya sesaat setelahnya. Evelyn tahu betul itu adalah tanda ajakan untuk ber***ta dari suaminya. Sebenarnya dia enggan sekali melakukan hal itu, apalagi hasratnya hanya bisa terpuaskan oleh Andre yang saat ini telah berada di celah hubungannya dengan Rayyan. Rayyan membuka pakaiannya, lalu beralih pada pakaian Evelyn. Dia melucutinya satu per satu hingga tidak ada lagi yang bersisa. "Kamu memang terlalu cantik, Evelyn ...," bisiknya di telinga Evelyn, bisikan yang membuat dadanya berdesir. Tak perlu menunggu waktu yang lama, Rayyan segera menarik Evelyn ke dalam pelukan. Bibir mereka saling memagut, tarikan napas yang memburu membakar suasana sore itu. "Mas, geli," lirih Evelyn "Tapi enak, 'kan?" Digendongnya tubuh Evelyn menuju kamar mandi, kecupan demi kecupan Rayyan taburkan di seluruh tubuh Evelyn. Beberapa tanda merah pun mulai terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Rayyan sudah bersiap dengan miliknya yang sudah berdiri sejak tadi. Baru saja dia hendak bergerak, tiba-tiba saja dering ponsel milik Rayyan berbunyi. "Kring ...." Suara dering ponsel sontak membuyarkan suasana romantis mereka. "Mas ...." "Biarkan saja, Sayang." Rayyan masih bertarung dengan hasratnya. Evelyn menahan tubuh Rayyan. "Kalau penting gimana?" Rayyan menghentikan gerakannya sebentar lalu menatap lurus ke dalam mata Evelyn. "Kamu jauh lebih penting dari semuanya." Evelyn tersentuh, bagaimanapun juga dia tahu betul kalau Rayyan begitu mencintainya. Dilingkarkan tangannya pada bahu Rayyan. "I Love You, Honey." "Love you more ...." Di bawah guyuran air yang menyegarkan, mereka berdua larut dalam lautan bira**. Baru saja milik Rayyan menghujam, belum genap satu menit dia menghentakkan tubuhnya, dan benar saja ... Rayyan sudah keluar. "Enak sekali, Honey," lirihnya. Pada kenyataannya Evelyn tidak bisa merasakan hal itu, seolah dahaganya belum sepenuhnya hilang. Dia masih haus, tapi sang suami sudah mencapai puncaknya jauh sebelum dia mencapai apa itu yang dinamakan rasa p**s. Semakin ke sini, Evelyn merasa semakin hambar setiap kali melakukannya dengan Rayyan. Apa yang dia lakukan dengan Rayyan hanyalah sebatas kewajiban belaka sebagai seorang istri. "Terima kasih, Sayang," bisik Rayyan. "Sama-sama, Sayang," balas Evelyn. Evelyn merasa begitu kecewa, rasanya ingin sekali dia menuntaskan has*** pada orang yang tepa. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa selagi Rayyan terus berada di rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD