Bab 6. Ngga Tau Malu

1078 Words
“An, boleh pinjam piyamamu satu?” Anna yang sedang mengeringkan rambut dibuat bingung. Pinjam piyama? Tapi buat apa? dari cermin Anna menatap suaminya. Walaupun penasaran, dia masih enggan untuk menjawab karena masih kesal. Anna memilih melanjutkan mengeringkan rambutnya. Melihat istrinya abai, Adam masuk menghampiri. Dia menepuk pundak Anna sampai wanita itu akhirnya menoleh. “Apa lagi sih, Mas?” “Kamu dengar pertanyaan saya tadi ngga? Saya pinjam piyama kamu.” “Bua tapa aku tanya?” Sejenak Adam terdiam, otaknya seketika blank. Kalau bohong juga percuma, tapi kalau jujur, pasti istrinya semakin marah dan kecewa. Tapi mau bagaimana lagi? Rasanya tidak mungkin Adam membiarkan Aira tidur pakai baju yang basah. Adam takut kalau Aira sakit anaknya akan terdampak. “Aira.” Kening Anna menyerit mendengar nama Aira. Gerakan tangan Anna sejenak terhenti, dia menatap lekat wajah suaminya. “Maksud kamu Aira apa? Kamu mau kasih baju aku ke dia? Memang dia semiskin itu sampai ngga punya baju di rumahnya?” Kata-kata tajam dari mulut Anna membuat kedua tangan Adam terkepal. “Jaga ucapan kamu, An. Kamu kenapa jadi kasar begini? Aku minta baik-baik karna dia ada di sini, ada di ruang tamu. Bajunya basah kuyup, ngga mungkin dia tidur dalam kondisi seperti itu. Nanti bajunya aku ganti, An, kita beli lagi.” “Apa?” Kedua mata Anna membulat menatap Adam. “Dia ada di sini? Ngapain dia berani ke sini? Siapa yang izinin pelakor itu injakkan kaki di rumah ini tanpa seizin aku?” “Anna!” “Apa? ada yang salah sama ucapan aku? Dia emang pelakor, dan sekarang berani ke sini di saat aku masih ada? Gila kalian.” “An, kita lagi dalam masalah. Dan besok saya baru mau selesaikan. Jadi malam ini biarkan Aira menginap. Apa kamu tega biarin dia di luar hujan-hujanan sendiri? Dia lagi hamil, An, saya ngga mau kandungannya kenapa-napa.” Anna menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis fikir dengan jalan fikiran suaminya itu. Bahkan belum resmi bercerai dia sudah berani membawa calon istri mudanya ke rumah ini. “Ngga sekalian kamu suruh dia tidur di kamar ini, Mas?” “Anna Khallisa Darmawa,” geram Adam. Mendengar kekesalan suaminya Anna terkekeh. Ini sungguh terbalik. Seharusnya yang marah dirinya, tapi kenapa berbalik? Anna membanting hairdryer ke lantai, dengan emosi menggebu dia berjalan menuju lemari. Diambilnya satu piyama yang belum pernah dia pakai, lalu Anna melemparnya ke arah Adam. Tanpa mengatakan apapun lagi, Anna keluar dari dalam kamar. Kalau saja tenggorokannya tidak kering, mana sudi dia turun ke bawah yang berpotensi bertemu Aira. “Mba Anna.” Tubuh Anna menegang mendapat sapaan itu. Dia tahu itu suara siapa. Memang siapa lagi kalau bukan Aira? Anna menoleh, menatap datar Aira. Wajah wanita itu memang terlihat pucat, tetapi Anna tidak perduli. “Mba marah sama aku, ya?” “Masih bisa nanya kamu, Ra? Hebat. Urat malu kamu udah putus atau gimana?” “Maaf, Mba.” Aira menunduk, meremas kedua tangannya yang sudah memutih karena kedinginan. Anna berdecih. Maaf? Untuk apa kata maaf itu? Soal kedatangannya ke sini atau karna perselingkuhannya? “Otak kamu di mana, Ra? Kenapa kamu tega banget? Aku ada salah apa sama kamu, Ra?” tanya Anna. “Anna, stop. Jangan tekan Aira, jangan tambahin beban dia. Kamu pengertian sedikit dong.” Adam. Tanpa menjawab, tanpa menoleh, Anna kembali melanjutkan jalannya menuju dapur. Kepergian Anna hanya ditatap oleh Aira dan Adam. Adam menggelengkan kepalanya, lalu dia menghampiri Aira. “Malam ini kamu tidur di sini aja, Ai, udah malam. Ini kamu ganti pakaian, nanti saya antar ke kamar tamu,” ujar Adam, memberikan piyama berwarna putih itu kepada Aira. Aira menggelengkan kepalanya, dia menolak baju yang diberikan Adam. “Aku ngga enak sama mba Anna, Mas. Dia kayaknya ngga suka dan marah banget sama aku. Biar aku pergi aja, besok baru kit—” “Engga, Ai, kamu tetap di sini. Di luar sedang hujan lebat, memang kamu mau ke mana? Saya ngga yakin kamu akan pulang ke rumah. Ai, jangan nekat, ada janin di perut kamu. Kamu harus ingat itu,” potong Adam. “Terima baju ini, segera ganti baju. Ayo aku antar ke kamar,” sambungnya. Kemauan Adam yang tidak bisa dibantah membuat nyali Aira menciut. Benar juga di luar sedang hujan, dan tidak mungkin juga dia pulang ke rumah. Aira menerima baju itu, lalu dia mengikuti Adam menuju kamar tamu. “Ayo masuk, Ai.” Adam mempersilahkan. Aira menganggukan kepalanya. “Ganti baju dulu sana.” Lagi, Aira menganggukan kepalanya. Wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Selagi menunggu, Adam duduk di sofa sambil memijat keningnya yang berdenyut. Belum selesai drama Anna yang ingin menggugat dirinya, sekarang masalah baru telah muncul. Adam memang sudah memperkirakan ini akan terjadi, tetapi tidak secepat ini juga. Beberapa saat menunggu, Aira keluar dari dalam kamar mandi. Kali ini tubuhnya sudah dibalut piyama berwarna putih mililk Anna. Aira menghampiri Adam, dia ikut duduk di sofa. Sesaat keduanya sama-sama terdiam dengan isi fikiran masing-masing. “Kamu mau makan, Ai? Kalau iya saya ambilkan.” “Ngga usah, Mas, aku ngga lapar. Aku Cuma ngga enak sama mba Anna. Aku udah nyakitin dia, dan sekarang aku ada di rumahnya. mba Anna kecewa banget sama aku ya, Mas?” Aira menatap lekat wajah Adam yang duduk di sampingnya. Adam menghembuskan napasnya perlahan. “Ini bukan salah kamu seorang, Ai. Di sini yang lebih bersalah itu saya. Saya yang nyakitin Anna bukan kamu. Biar urusan Anna jadi urusan saya aja. Kamu jangan banyak mikir, ngga baik buat kandungan. Ada keluhan ngga?” “Tadi sih agak kram sedikit, Mas.” “Mau saya periksa?” “Tapi sekarang udah mendingan, Mas, aku gapapa,” jawab Aira dengan sungguh-sungguh. Tidak memaksa, Adam memilih menganggukan kepalanya. Yaudah kalau gitu kamu istirahat, saya tungguin kamu sampai tidur.” “Makasih ya, Mas. Maaf banget jadi ngerepotin.” Adam menggelengkan kepalanya. “Sama sekali engga.” Tanpa keduanya ketahui, sejak tadi Anna mendengarkan percakapan mereka. Bak tertikam anak panah, hati Anna sangat nyeri. Tubuh wanita itu bergetar, rasanya dia tak kuat untuk mendengarkan lagi. Anna pergi, menaiki anak tangga menuju kamarnya. Tanpa menunggu suaminya masuk, Anna mengunci pintu dengan rapat. Terserah suaminya mau tidur di mana, bahkan Anna tidak perduli kalau Adam mau sekamar denga Aira. Anna duduk di tepi ranjang. Bahkan tadi di kamar mandi perutnya juga kram, tetapi suaminya itu tidak tahu. Tangan Anna mengusap perutnya pelan. “Baik-baik kamu di dalam sana ya, Nak. Besok Ibu akan periksa.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD