Bab-1
"Mama punya solusi agar punyamu itu bisa berfungsi," ucap Nyonya Jihan pada anaknya yang tengah duduk di kursi kebanggaan.
"Solusi gimana, Ma? Semua cara dari Mama udah aku coba, nyatanya tetap gagal." Bima kembali mengusap wajahnya untuk yang keseribu kali. Ia sudah tahu dari awal, kedatangan ibunda tersayang ke gedung hasil kerja keras banting tulang siang dan malam, hanya ingin meminta menantu dan cucu yang belum juga bisa dikabulkan oleh Bima.
Ya, hingga usianya yang sudah hampir kepala empat, Bima belum juga menemukan seorang wanita yang bisa membangkitkan hasratnya sebagai seorang laki laki normal.
Semua wanita yang sempat dekat dengannya, hanya bisa membuatnya jatuh cinta, tetapi tidak bisa membangunkan Pusaka kebanggaan.
"Mama mau kamu secepatnya nikah Bima, kamu itu sudah tua, Mama malu ditanyain sama teman arisan Mama kapan kamu nikah? Mama capek jawabnya."
"Harusnya mereka tanya sama aku dong, kapan aku nikah? Ngapain mereka nanya sama Mama kapan nikah? Kalau Mama nikah lagi, terus Papa mau di kemanain?" Bima menekan alis tebalnya lalu menenggak air mineral yang berada di atas meja.
"Bima! Mama serius! Cepat dong cari wanita yang bisa membuat Burungmu itu berkicau!" rengek Nyonya Jihan pada anak semata wayang yang gantengnya kebangetan. Mirip artis Hollywood lokal.
"Aku udah nyari ke mana-mana, Ma, tapi belum ketemu. Sabar dong, lagian aku masih muda. Mama pernah kan liat artis korengan di televisi, mereka udah tua belum nikah juga."
"Korea Bi, Korea! Bukan korengan!"
"Iya, itu maksudnya." Bima mengangguk berkali kali.
"Ya udah, sekarang kamu pake cara Mama aja. Dijamin cara ini ampuh dan bisa bikin Burung kamu itu berdiri tegak siap menyemburkan larva."
Bima menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lebih tepatnya, sedikit pegal karena harus meladeni ocehan mamanya hampir setiap hari. Setiap jam. Setiap menit.
"Cara apa?" tanya Bima yang akhirnya menanggapi usul dari sang Mama, karena dia sudah lelah mendengar ocehan mamanya.
"Kamu cari Ibu Susu." Nonya Jihan menyeringai lebar memasang wajah tidak berdosa yang membuat Bima ingin menggaruk wajahnya sendiri.
"Ibu s**u? Memangnya aku bayi? Ngga ah, yang bener aja dong Ma kalau ngasih ide. Masa nyusu jadi solusi bangunin Burung?"
"Mama lagi mode serius ini Bima! Mau ya, nanti Mama cariin Ibu s**u yang masih fresh, dan pastinya dia baru satu kali bongkar mesin, jadi kalau Burung kamu berhasil berdiri, kamu bisa sekalian icip icip, kan ngga kendor kendor amat."
Lagi lagi Nyonya Jihan memasang wajah menggemaskan yang bikin Bima menyatukan giginya hingga mengeluarkan suara mengilukan.
Ingin rasanya berteriak mengusir Nyonya Jihan, tetapi dia takut jadi Malin Kundang.
"Memangnya Mama tahu dari mana kalau cara itu bakal berhasil?" Bima menegakkan tubuhnya, kali ini menyimak baik baik penjelasan Nyonya Jihan.
"Mama tahu dari teman Mama, dia lulusan Dokter spesialis masalah kesuburan terbaik di luar negeri. Percaya deh, pasti cara itu berhasil bikin Burung kamu berkicau."
Bima menopang dagunya dengan kedua tangan yang ia letakan di atas meja. Usul dari ibunya memang agak menggelikan, tetapi dia penasaran apakah cara itu akan berhasil?
Seumur umur dia tidak pernah meminum ASI, mungkin hanya waktu dia masih jadi larva.
"Mau ya? Nanti Mama carikan Ibu s**u yang cantik dan seksi. Bohay, semok yang bikin kamu bergairah." Nyonya Jihan menyeringai.
"Biar aku cari sendiri. Aku takut Mama malah bawa Nenek Nenek lagi. Udah kempot, alot, pahit."
"Ya udah terserah kamu aja. Yang penting kamu mau pakai cara Mama tadi."
"Iya, aku coba cara Mama. Semoga berhasil."
Nyonya Jihan berdiri dari tempat duduknya lalu mendekati anak semata wayang yang dia harapkan akan memberinya banyak cucu. "Pokoknya kamu coba cara itu, Mama jamin Burung kamu bakal berdiri tegak, dan sekali sembur langsung jadi anak."
"Hmm, semoga saja."
Nyonya Jihan tersenyum lebar. Akhirnya setelah sekian purnama, kali ini Nyonya Jihan bisa tidur dengan nyenyak, karena anaknya mau mengikuti permintaannya. Dia sudah tidak sabar ingin menggendong cucu dari anaknya yang masih terlihat sangat tampan awet muda, walau sudah berusia tiga puluh lima tahun.
Untuk pertama kalinya dia yakin kalau usaha Bima kali ini pasti berhasil. Dia juga sudah menentukan menantu pilihan untuk Bima setelah nanti Burung anaknya bisa berdiri tegak.
"Ingat ya! Jangan sampai kamu jatuh cinta sama Ibu s**u itu! Kamu hanya memperkerjakan dia sebagai Ibu s**u bukan istri! Mama tidak ingin ada cinlok cinlokan segala! Karena Mama sudah menyiapkan wanita pilihan untukmu!" Pesan yang terus terngiang di telinga Bima dan tidak akan dia langgar.
Dia juga tidak berniat untuk menjatuhkan pilihan pada wanita yang akan menyusuinya. Tidak mungkin dia mau jatuh cinta sama wanita yang hanya di sewa untuk membangunkan Burung Perkututnya.
***
Bima membuka lowongan pekerjaan mendadak di perusahaannya. Ia meminta HRD mencari sekretaris cadangan. Walau awalnya HDR tidak mengerti dengan maksud bos besarnya mencari sekretaris cadangan, tetapi HRD tetap menuruti.
"Memangnya ada sekretaris cadangan? Bukannya sekretaris cuma satu?" gumam HRD yang bernama Johan. "Ah, sudahlah. Namanya juga orang kaya kadang maunya suka aneh."
HRD mulai memanggil calon sekretaris cadangan untuk datang ke gedung perusahaan milik Bima Perkasa.
Keputusan Bima untuk mencari sekretaris tentu membuat hati Sella--sekretaris aslinya menjadi ketar ketir.
Dia adalah sekretaris andalan di perusahaan Bima Perkasa, tetapi ... apakah posisinya akan segera digeser dan digantikan?
Sella menghentakkan kaki lalu masuk ke dalam ruangan Bima tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Ia ingin mengeluarkan unek unek di dalam isi kepalanya pada Bima, karena Bima tidak memberitahu alasan kenapa bosnya itu mencari sekretaris baru.
Selama ini kinerjanya sangat bagus, bahkan selalu mendapat pujian dari Bima, lalu sekarang? Dia akan segera dipecat?
"Silakan perkenalkan namamu!" tanya Bima yang saat ini sedang melihat berkas berkas para calon sekretaris cadangan.
"Pak, maaf, saya mau tanya. Kenapa Bapak mencari sekretaris lagi tanpa memberitahu saya? Memangnya saya salah apa Pak, kok saya tiba tiba mau di ganti sama sekretaris lain?" Sella tidak bisa menahan emosinya. Suaranya terdengar parau karena tak kuasa menahan kesedihan.
Bagaimana tidak sedih, kalau pekerjaannya selama ini sangat baik dan gajinya bekerja dengan Bima sangat besar. Gaji yang ia dapat itu untuk membiayai keluarganya di kampung.
Bima menatap Sella lalu memijat kerutan keningnya. "Kok kamu yang masuk?"
"Iya, maaf Pak, saya hanya mau tanya kenapa kok Bapak cari sekretaris baru? Memangnya saya salah apa Pak? Bapak kok mecat saya? Kenapa Pak? Saya salah apa?" Isak Sella.
"Siapa yang bilang saya mecat kamu? Saya juga ngga bilang kalau saya mencari sekretaris pengganti. Saya hanya mengatakan pada HRD untuk mencari sekretaris cadangan. Bukan berarti saya mecat kamu."
"Iya, maksudnya apa Pak sekretaris cadangan itu? Saya kurang mudeng, Pak? Tolong dijelaskan Pak." Wajah Sella terlihat semakin sedih, murung seperti baru saja putus cinta.
Bima menggelengkan kepala tidak mengerti kenapa Sella justru menuduhnya yang bukan bukan?
"Saya sakit hati loh Pak, kalau Bapak cari sekretaris cadangan atau apapun itu. Selama ini kan saya kerja sama Bapak dengan bersungguh-sungguh. Sudah hampir lima tahun saya kerja di perusahaan ini dan saya ngga pernah melakukan kesalahan. Tapi kenapa Bapak mau cari sekretaris lagi?" Sella mengambil tissue di atas meja Bima lalu menyemprotkan ingus.
Sroottt!
Suara ingus yang disemprot Sella membuat kedua alis tebal lelaki yang memiliki lesung Pipit itu mengerucut.
"Sudah bicaranya? Kalau sudah silakan kamu keluar, saya masih banyak urusan. Lagian siapa juga yang mau mecat kamu? Saya bilang saya mau cari sekretaris cadangan."
Bima tidak mungkin mengatakan dia mencari Ibu s**u untuk membangkitkan Burungnya. Sedekat apapun dia dengan para pekerjanya, tidak mungkin dia mengatakan kekurangannya pada orang lain. Dia adalah orang terkaya di negaranya.
"Tapi, Pak. Saya belum mengerti maksud dari sekretaris cadangan?"
Bukannya pergi Sella justru duduk di depan meja Bima. Membuat bosnya menatap heran pada sekretaris cantiknya itu.
Ya, memang Bima akui Sella itu cantik, seksi, tubuhnya montok, dan kulitnya putih mulus tanpa ada sedikit pun bintik hitam.
Namun tetap saja kecantikan dan kemolekan tubuh sintal Sella tidak bisa membangkitkan selera bercinta Bima.
"Tapi apa lagi Sella Marlela?" Bima memajukan tubuhnya ke depan.
"Sella Angraeni Pak. Marlela siapa? Mantan Bapak?" Sella kembali menyemprotkan ingusnya.
DEG!
Mata Bima tertuju pada buah ... Sella yang terlihat sangat besar. Selama ini dia tidak pernah memperhatikan kalau sekretarisnya itu memiliki buah ... sebesar itu.
"Bapak kenapa?" tanya Sella menatap bingung. Namun dilihat dari arah mata Bima, Sella akhirnya menyadari apa yang sedari tadi dipandang oleh bosnya.
Dengan cepat Sella berdiri lalu merapikan kancing pakaiannya yang sedikit terbuka karena buah ...,nya membengkak.
"Kamu sudah menikah? Sudah punya anak? Kapan kamu melahirkan? Perasaan kamu kerja terus setiap hari, bahkan ngga pernah ngambil cuti? Saya juga ngga pernah melihat perutmu membesar selama ini?"
Pertanyaan tanpa jeda dilayangkan Bima sambil terus memperhatikan buah d**a Sella yang membulat sempurna.
"Sa-saya? Saya belum menikah, pacar aja saya ngga punya," ucap Sella menjadi gugup dan takut melihat tatapan bosnya.
"Tapi itu kamu kok kayak Ibu Ibu lagi nyusuin tiga anak?" Bima memajukan bibirnya menunjuk buah d**a Sella.
Bima baru ingat kalau selama ini Sella sering sekali berganti pakaian, hampir tiga kali sehari seperti minum obat.
'Jangan jangan ASI-nya meluber,' gumam Bima dalam hati.
"Saya punya masalah sama hormon Pak. Jadi saya memproduksi ASI walau belum menikah dan punya anak," aku Sella sambil menunduk menatap lantai.
Ia memukul kepalanya sendiri, menyesal kenapa dia mengatakan penyakitnya pada bosnya itu?
"Nah itu dia, ternyata kamu orangnya!" seru Bima menjentikkan jari.
"Bapak mau mecat saya? Karena penyakit saya ini?" Sella menyadari sesuatu. Ia menatap Bima dengan kedua mata membulat sempurna.