Benar saja apa yang dikatakan oleh Bryan baru saja. Mata Vano memancarkan binar bahagia. Bahagia bukan karena senang bertemu dengan dua orang yang tengah diseret oleh orang-orang Bryan, melainkan dia sudah tidak sabar mencincang dua orang itu yang sudah berani mencelakakan tuan-nya dan juga keluarga Siregar yang amat Vano hormati. “Kau selalu paling pintar untuk membuatku senang dan begitu antusias seperti ini, Bry.” Seringai seperti seorang pemangsa yang siap menerkam mangsanya pun terbit di bibir Vano. Pria berusia empat puluh tahunan itu menatap tajam dua mangsa yang kini dihadapkan tepat di depannya. Berjalan perlahan mendekat dua orang tersebut, namun tidak memindahkan tatapannya sedikit pun, Vano tersenyum semakin lebar ketika melihat dua wajah serangga yang ketakutan melihat dir

