Malam yang Menghancurkan Segalanya
"Maaf ...."
Suara wanita itu pecah saat tubuhnya jatuh berlutut di depan Zevanya Larasati. Tangannya gemetar ketika menggenggam ujung gaun pengantin Laras.
"Maaf ... aku mohon ... jangan ambil suamiku."
Ruangan yang semula dipenuhi tawa dan ucapan selamat mendadak sunyi. Semua kepala menoleh ke arah mereka. Laras membeku di tempat.
Otaknya seolah berhenti bekerja ketika melihat wanita dengan perut membesar itu menangis di hadapannya.
"Dia suamiku," lanjut wanita itu di sela isak tangis. "Kami sudah menikah dua tahun ... aku sedang hamil anaknya ...."
Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan. Tatapan para tamu berpindah dari wanita itu kepada Laras. Lalu kepada pria yang berdiri di sampingnya. Pria yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya.
"Mas ...?"
Suara Laras terdengar lirih. Hampir tak terdengar. Namun Aditya tetap diam. Tidak membantah, tidak menyangkal dan tidak juga membela. Diamnya terasa jauh lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun. Jantung Laras berdegup keras. Gaun putih yang sejak pagi dikenakannya mendadak terasa menyesakkan.
Beberapa jam lalu, ia masih tersenyum saat menandatangani surat nikah dan menerima ucapan selamat dari keluarga serta kerabat. Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya kini berubah menjadi mimpi buruk.
Laras kembali menatap wanita yang masih berlutut di hadapannya. Wanita itu menangis tanpa henti.
Memohon.
Mempertahankan haknya.
Sementara dirinya berdiri di sana seperti seseorang yang baru menyadari bahwa ia telah menjadi orang ketiga dalam kehidupan orang lain. Dadanya terasa sesak. Malu, hancur dan yang paling menyakitkan, marah pada dirinya sendiri.
Dia tidak menyangka kalau Aditya sudah membohonginya selama ini. Selama menjalin hubungan dengan Aditya, tidak ada masalah apapun yang mencurigakan. Aditya selalu siap saat dia butuhkan. Aditya tidak menunjukkan seperti seorang pria yang sudah berumah tangga.
Kenapa dia tidak tahu?
Kenapa dia bisa sebodoh ini?
Senyum tipis muncul di bibirnya. Walau sakit, tetapi masih bertahan.
"Bangunlah."
Wanita itu menggeleng.
"Aku mohon ... aku tidak punya siapa-siapa lagi."
Kalimat itu menusuk tepat ke dalam d**a Laras. Namun justru karena itulah ia semakin yakin. Perlahan, Laras menarik tangannya dari genggaman wanita itu.
"Aku tidak akan mengambil sesuatu yang bukan milikku."
Ruangan semakin sunyi. Bahkan suara napas para tamu seolah menghilang. Dengan tenang, Laras mengangkat tangan kirinya. Cincin yang baru beberapa jam lalu disematkan di jarinya ia lepaskan perlahan. Logam itu terasa dingin. Sedingin kebohongan yang baru saja terbongkar.
Ia menatap Aditya untuk terakhir kalinya. Tatapan tanpa harapan. Tanpa air mata.
"Harusnya kau jujur sejak awal, Mas."
Aditya menatapnya. Wajah pria itu terlihat sedikit pucat.
"Laras, aku bisa jelaskan."
"Tidak perlu."
Satu kalimat itu memutus segalanya.
"Setidaknya kalau kau jujur sejak awal, aku tidak akan dipermalukan seperti ini di depan semua orang."
Laras menjatuhkan cincin itu ke lantai.
Ting!
Suara kecil itu terdengar begitu keras di tengah keheningan.
"Aku minta cerai."
Tidak ada yang berani bicara. Tidak ada yang berani menghentikannya.
Laras berbalik. Ia berjalan meninggalkan pelaminan yang beberapa menit lalu masih menjadi simbol kebahagiaannya. Kini tempat itu hanya menyisakan rasa muak.
Tatapan para tamu mengikuti langkahnya. Namun ia tidak peduli. Ia tidak ingin menangis di depan mereka.Tidak akan.
Karena sejak kecil, Laras sudah terbiasa menghadapi semuanya sendirian. Dan malam ini, ia hanya kembali mengingat caranya bertahan.
---
Hujan turun ketika Laras keluar dari gedung resepsi. Gaun pengantinnya telah berganti dengan pakaian sederhana. Jeans biru dan atasan polos. Pakaian yang sejak tadi tersimpan di dalam tasnya. Seolah jauh di dalam hatinya, ia memang sudah bersiap untuk pergi.
"Laras!"
Suara itu membuat langkahnya terhenti.
"Laras, tunggu!"
Ibunya berlari kecil menghampiri. Wajah wanita paruh baya itu dipenuhi kecemasan.
"Laras, dengarkan Ibu dulu."
Namun Laras menarik tangannya saat sang ibu mencoba meraihnya.
"Untuk apa, Bu?"
Suaranya terdengar dingin.
"Untuk menyuruh aku sabar?"
Ibunya terdiam sesaat. Lalu mengangguk pelan.
"Semua ini sudah terjadi. Tinggal dijalani saja."
Laras tertawa kecil. Pahit.
"Dijalani?"
Ia menatap ibunya lekat-lekat.
"Seperti Ibu menjalani semuanya dulu?"
Wajah wanita itu berubah.
"Waktu Ayah pergi karena perempuan lain, Ibu diam."
"Ibu ...."
"Waktu orang-orang menghina Ibu, Ibu diam."
"Laras ...."
"Waktu Ibu dipaksa menerima semuanya, Ibu juga diam."
Suara Laras mulai bergetar. Bukan karena lemah. Melainkan karena terlalu lama menahan.
"Dan sekarang Ibu mau aku melakukan hal yang sama?"
"Laras, tidak semua masalah harus dilawan."
"Khusus yang ini harus!"
Untuk pertama kalinya malam itu, Laras benar-benar meledak. Matanya memerah. Napasnya memburu.
"Aku tidak mau hidup dengan terus menunduk hanya supaya orang lain merasa nyaman!"
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. Bukan karena lemah, melainkan karena lelah.
"Aku sudah cukup dipermalukan hari ini."
Suaranya mulai melemah.
"Jangan suruh aku menerima ini juga."
Ibunya hanya terdiam. Dan diam itu terasa seperti jawaban. Laras menghapus air matanya dengan kasar.
"Kalau Ibu memilih bertahan, silakan."
Ia melangkah mundur.
"Tapi aku tidak akan."
Hanya suara hujan yang tersisa di antara mereka. Tanpa menunggu jawaban, Laras berbalik dan kembali berjalan. Meninggalkan gedung resepsi. Meninggalkan pernikahan yang baru saja menghancurkan hidupnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ... Laras memilih dirinya sendiri.