Aurel menurunkan ponselnya perlahan setelah menutup panggilan dari ibunya. Tangannya masih gemetar, seolah berita barusan belum sepenuhnya dicerna otaknya. Samuel berdiri di seberang kamar, rahangnya mengeras, sorot matanya berubah tajam seperti saat ia menghadapi ancaman nyata. “Apa katanya?” tanya Samuel akhirnya, suaranya tenang tapi berbahaya. “Ada foto kita,” jawab Aurel pelan. “Di internet. Katanya viral.” Samuel langsung meraih ponselnya sendiri. Jemarinya bergerak cepat membuka beberapa aplikasi. Wajahnya semakin menggelap setiap detik berlalu. Ia memutar layar ponsel ke arah Aurel. Foto itu jelas. Terlalu jelas. Mereka berdampingan di Tokyo, tangan hampir saling bersentuhan, sudut pengambilan gambar seolah sengaja menunggu momen paling ambigu. “Ini bukan kebetulan,” kata Samue

