Aurel berdiri membelakangi jendela besar kamar itu, cahaya sore memantul lembut di rambutnya. Dia masih memegang ujung gaun rumah yang dipinjamkan padanya, seakan butuh sesuatu untuk digenggam agar tidak kehilangan keseimbangan. Wajahnya sudah tak semuram tadi, tapi jelas masih ada kecemasan yang belum sempat ia rapikan. Sementara itu, Samuel berdiri beberapa langkah di belakangnya, memandang punggung gadis itu seperti seseorang yang sedang menakar jarak aman—bukan karena takut, tapi karena tidak ingin menakut-nakutinya. Namun pada titik tertentu ia akhirnya melangkah mendekat. “Kalau kamu mau lihat rumah ini, aku bisa ajak keliling,” ucap Samuel tenang, suaranya rendah tapi tidak memaksa. “Sampai kamu merasa nyaman tinggal di sini.” Aurel menelan ludah pelan. “Aku… tidak mau merepotkan.

