Bab 50

1207 Words

Aurel menghabiskan sisa tehnya perlahan, menikmati hangat yang mengalir dari tenggorokan hingga dadanya. Samuel masih di seberang, duduk tegap dengan cara yang entah bagaimana justru terasa nyaman dipandang. Tidak ada ketegangan seperti biasanya. Tidak ada jarak yang membuat Aurel ingin kabur. Hanya ketenangan yang asing tapi menyenangkan. Ketika Aurel meletakkan cangkirnya, Samuel bangkit dari kursinya. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru, seperti seseorang yang tidak ingin mengejutkan siapa pun. “Kamu mau aku tunjukkan rumah ini sekarang, atau nanti setelah makan malam?” tanyanya. Aurel mengerjap. “Sekarang boleh?” “Tentu.” Samuel berjalan mendekati pintu, lalu berhenti. Ia memutar tubuhnya sedikit, menatap Aurel. “Aurel.” “Hm?” “Kalau kamu merasa capek atau kewalahan, bilang sa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD