Pagi masih muda ketika pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Narita. Udara Jepang yang dingin segera menyapa kulit Aurel begitu ia melangkah keluar dari pintu pesawat. Napasnya terlihat seperti kabut tipis setiap kali ia menghembuskan udara. Samuel berjalan di depan, posturnya tegap dan langkahnya tergesa menandakan ia ingin segera menyelesaikan segala urusan bisnis yang menunggunya. Okan mengikuti dengan koper di tangan, sementara Aurel sedikit di belakang keduanya, menikmati setiap jengkal pemandangan baru di sekitarnya. Rubah-rubah kecil pada elemen arsitektur bandara, suara ramah pengumuman dalam bahasa Jepang, sampai para pelancong dengan pakaian musim dingin — semuanya membuat Aurel merasa seperti memasuki dunia yang benar-benar berbeda. “Kau berjalan terlalu lambat,” tegur Samu

