Bab 52

890 Words

Aurel benar-benar tidak bisa tidur malam itu. Sepanjang waktu, wajah Samuel terbayang terus di kepalanya—bukan saat pria itu marah, bukan saat mereka berdebat, tapi saat Samuel menarik selimutnya dengan gerakan halus, lalu keluar kamar tanpa suara. Aneh. Sangat aneh. Dan justru itu yang membuat jantungnya terasa seperti menanggung beban yang dia sendiri tidak mengerti. Pagi datang terlalu cepat. Ketika Aurel membuka mata, aroma kopi dan roti panggang menyeruak dari arah dapur. Sesuatu yang jarang—ya, sangat jarang—terjadi. Karena biasanya, Samuel sibuk dengan rapat pagi atau pergilah sebelum Aurel bangun. Aurel turun perlahan, masih dengan rambut berantakan dan wajah setengah mengantuk. Begitu melihat sosok Samuel berdiri di depan kompor, lengan kemeja digulung, celemek tergantung rapi,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD