Aku terbangun karena suara dering kecil, seperti alarm halus. Samar-samar aku merasakan kehangatan di lenganku. Ketika aku membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah lengan Samuel yang melingkupi pinggangku dengan kuat, seolah ia tidak pernah tidur sepanjang malam. Ia masih tertidur, napasnya teratur, tapi wajahnya tetap tegang. Bahkan dalam tidurnya, ia terlihat seperti seseorang yang terus bersiap menghadapi perang. Aku menatapnya beberapa detik. Semua ini terasa tidak nyata. Bagaimana pria berbahaya yang menakutkan banyak orang bisa memelukku seolah aku adalah sesuatu yang harus dijaga dengan seluruh hidupnya? Jam di nakas menunjukkan pukul 6 pagi. Aku bergerak pelan, mencoba duduk tanpa membangunkannya, tapi lengannya justru menahan lebih kuat. “Kemana?” suara beratnya terdenga

