Bab 8

1071 Words

Hujan turun perlahan, mula-mula hanya gerimis halus, lalu berubah menjadi deras yang mengguyur tanpa ampun. Tetes-tetes air menimpa rambut dan bahu Aurel, membasahi gaun lembut yang kini menempel di kulitnya. Namun ia tak bergerak, seolah tak merasakan dingin yang menusuk tulang. Tatapannya kosong, terarah pada langit kelabu yang tak memberi jawaban. Angin membawa aroma tanah basah dan bunga yang merunduk, tapi Aurel tak peduli. Dadanya terasa sesak oleh percakapan barusan, oleh suara ayahnya yang memintanya menjual kehormatan demi keluarga. Air mata yang tadinya mengalir di pipi kini bercampur dengan hujan, tak lagi bisa dibedakan mana yang berasal dari langit, mana dari hatinya. Tubuhnya mulai gemetar. Ujung jarinya dingin. Tapi ia tetap duduk di ayunan rotan itu, membiarkan setiap tet

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD