Pelukan Samuel begitu kuat hingga aku kesulitan bernapas. Tapi aku tidak ingin melepaskan diri. Tidak sekarang. Tidak ketika tubuhnya adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa aman. “Masuk mobil. Sekarang,” suaranya rendah, kokoh, dan tidak menerima penolakan. Pengawal segera membuka pintu. Samuel menarikku masuk lebih dulu, kemudian menyusul dengan gerakan cepat, seolah takut aku akan direbut dari tangannya dalam sedetik saja. Begitu pintu tertutup, mobil langsung melaju kencang meninggalkan hotel. Aku memandang keluar jendela, mencoba menenangkan degup jantungku yang berantakan. Namun kata-kata Chelsea terus terngiang. Hadiah. Milik seseorang. Lorenzo. Aku meremas ujung coat yang kupakai, berusaha mengerti. “Samuel… siapa Lorenzo?” Samuel tak langsung menjawab. Tangannya mengep

