Musik perlahan mereda, namun Samuel tidak langsung melepaskan Aurel. Seolah ia enggan menjauh, bahkan sedetik pun. Aurel bisa merasakan tatapan para tamu menusuk dari segala arah, tapi genggaman Samuel di pinggangnya justru membuatnya merasa sedikit aman. Hanya sedikit. Setelah tepuk tangan menggema memenuhi ballroom, Samuel akhirnya mengendurkan pelukannya. Tapi ia tidak pernah benar-benar melepaskan Aurel. Tangannya tetap memegang tangan Aurel, menuntunnya keluar dari tengah kerumunan. Begitu mereka tiba di sisi ruangan yang lebih sepi, Aurel menatapnya, masih berusaha memproses kata-kata yang Samuel bisikkan saat menari tadi. “Samuel…” “Hmm?” Ia menanggapi tanpa melepaskan tatapan dari keramaian, seolah mengawasi ancaman yang tak terlihat. “Kamu bilang… kamu nggak akan biarkan sia

