Bab 83

1079 Words

Aurel menurunkan ponsel perlahan setelah percakapan dengan ibunya berakhir. Tangannya gemetar, bukan karena udara dingin, melainkan karena kalimat terakhir yang masih berputar di kepalanya. Foto-foto itu sudah tersebar. Wajahnya dan Samuel. Di Tokyo. Di hotel. Terlalu dekat untuk sekadar rekan bisnis. Ia menelan ludah dan menatap Samuel yang berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu tidak berkata apa-apa, tetapi sorot matanya berubah drastis. Bukan lagi kebimbangan atau keraguan seperti tadi. Ini waspada. Tajam. Seperti seseorang yang tahu bahaya sedang mendekat. “Kita harus bicara,” kata Samuel akhirnya, suaranya rendah dan terkendali. Aurel mengangguk. Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, mencoba menenangkan napas. Samuel berjalan mendekat lalu duduk di kursi seberang meja ke

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD