Teman Lama

1019 Words
"Kau kemana saja, Selena!" Suara Vey terdengar sangat marah. "Maafkan aku, aku hanya berkeliling saja, madam." "Lalu kenapa kau tidak membawa ponsel mu?!" "Aku lupa membawanya." Vey menggelengkan kepalanya. "Kau tahu sendiri, saat Boss datang kau harus menyambutnya di pintu masuk! dan tadi kau tidak menyambutnya dan aku susah menghubungimu!" "Maafkan aku, madam, aku kira Tuan masih 3 hari lagi untuk kembali ke kastil." "Itu gunanya ponsel, Selena! Boss tidak bisa di prediksi kau harus selalu siap!" Nada Vey sedikit meninggi walau sebenarnya baru pertama Boss di luar prediksi seperti ini, Boss selalu On Schedule. "Maafkan aku, madam, aku akan memperbaikinya, aku berjanji." Vey mendengus namun emosinya cukup mereda, untung saja dia tahu Selena gadis yang cepat mengerti dan selalu memperbaiki kesalahannya. "Baiklah! tapi Boss sangat marah padamu, Selena, mungkin malam ini Boss tidak akan mengunjungimu." Selena terdiam. "Tapi aku akan membujuk, Boss, kau siap-siap saja di kamarmu, persiapkan tubuhmu, pakailah baju dan parfum yang aku siapkan untukmu." "Terimakasih, madam." "Berendam dahulu bersihkan badanmu, dan ingat! kau harus sangat bersih." "Baik, Madam." Selena berlalu pergi meninggalkan ruangan Vey. Walau Vey sedikit sebal pada Selena tetapi sepertinya dia cukup tertarik dengan Selena. Dia seperti bukan gadis biasa. *** Nickolas memandang David dengan penuh amarah. "Kau mengenalnya?!" Suara bariton Nickolas terdengar agak menakutkan. Namun David terlihat santai, tidak terlihat takut sama sekali. "Dia temen satu sekolahku, Boss." "Satu Sekolah?" Nickolas terdiam sejenak. "Ya, yang berarti teman satu sekolah kita, Boss." Nickolas nampak terlihat sedang berpikir. "Lebih tepatnya sih adik kelas, umurnya beda 2 tahun dengan kita." "Apa aku juga mengenalnya?" David berpikir sejenak dia takut salah bicara. "Seharusnya Boss mengenalnya, dulu dia cukup populer, Boss." "Begitukah? tapi aku sama sekali tidak mengenalinya." David tersenyum. "Mungkin nanti juga, Boss, akan mengenalinya emmm maksudku Boss pasti akan mengingatnya." Nickolas hanya terdiam. "Apa kau begitu dekat dengannya?! hingga kau berani menyentuh pundaknya?!" Deg! Jantung David tiba-tiba berdetak dengan cepat, ternyata Boss nya itu melihatnya saat memegang pundak, Selena. David tidak bermaksud apapun sebenarnya, dia hanya sangat senang karena melihat Selena lagi. David mencoba mencari alasan yang masuk akal, dia tahu Bossnya itu tidak suka jika miliknya di sentuh orang lain. "Tidak, Boss, aku hanya merasa senang bisa bertemu teman lama, aku tidak akan pernah lagi berani menyentuhnya, Boss." Nickolas sebenarnya bingung dengan apa yang terjadi padanya, Selena hanya seorang Jalang yang dipilihnya untuk musim ini. Biasanya dia tidak keberatan jika jalangnya itu di sentuh orang lain tetapi gadis itu, Argh! memikirkannya hanya membuat kepalanya sakit. "Baiklah." Emosi Nickolas mereda. Ada seseorang mengetuk pintu ruangannya. Dan itu Vallery alias Vey. "Ada apa, Madam Vey?" Yang bertanya adalah David, tapi Vey menghiraukannya dan langsung tertuju pada Bossnya. "Boss! saya minta maaf, ini memang keteledoran saya, saya dengar Boss marah besar di depan pintu masuk." Nickolas tidak menjawabnya. "Dia gadis yang polos, Boss, tapi dia cukup pintar dan memahami semua peraturan yang harus dilakukan saat bersama Boss, hanya saja, saya tidak menduga Boss datang lebih cepat." Nickolas mendengus. "Katakan saja dengan cepat! apa maumu, Vey!" "Boss kumohon tetap lah temui gadis itu, dia sudah kupersiapkan dengan sangar baik." Nickolas mendengus lalu berjalan meninggalkan Vey tanpa menjawabnya, membuat Vey nampak stress karena dia tidak pernah gagal mendidik jalang untuk Sang Bossnya itu. "Tenang Vey, kali ini kau tidak perlu bekerja ekstra." Ucap David sambil berjalan pergi. Vey masih terdiam ditempat masih mencerna perkataan David yang terdengar misterius itu. *** Juan termenung di rooftop sambil meminum wine dengan raut muka terlihat kusut. Entah berapa botol dia meminum wine itu. "Ayah sudah menduga akan hal ini, dia akan terpilih" Suara serak ayahnya itu membuat Juan kembali tersadar. Juan hanya mendecih nampak kesal dengan sang ayah. "Kau tahu, Juan, ayah mengirim Selena, karena ayah tahu dia bukan gadis sembarangan." "Selena tidak akan mudah lengah, tidak akan tersentuh bahkan oleh Nickolas." Juan terdiam. "Tetap saja misi itu sangat berbahaya untuknya ayah!" Juan masih tidak menerimanya. "Lalu jika bukan Selena, siapa lagi Juan?!" "Ayah mempercayainya, dia akan melakukannya dengan baik, ayah sudah membekalinya, dan ini demi Black Moon!." Juan sebenarnya tidak menyangkalnya untuk misi ini memang hanya Selena yang mampu melakukannya. "Percayalah pada ayah! dan ingat pesan ayah, buang perasaanmu itu, Juan." Ayahnya menepuk pundak Juan dan berlalu meninggalkannya. Membuat Juan diam dengan perasaan tidak menentu. *** Selena tampak gelisah di kamarnya, dia setengah bimbang, dia menatap sebuah botol kecil pemberian ayahnya. Botol kecil itu berisi ramuan khusus untuk memanipulasi orang, dengan setetes saja orang yang meminumnya akan langsung tertidur lelap namun menimbulkan efek mimpi seperti sedang bercinta. Sangat berguna di saat nanti Nickolas mulai menyuruhnya untuk memuaskan nafsunya. Jujur di hati terdalam Selena, dia merindukan Nickolas meskipun sakit di hatinya kembali terasa jika mengingatnya. Bunyi pintu terdengar. Selena menyimpan kembali ramuannya itu di meja rias. Ah! mungkin itu hanya Madam Vey yang akan memarahinya lagi, pikirnya. Selana membuka pintu itu dengan raut muka malas. No! mata tajam namun sialnya indah itu menatap Selana dengan dalamnya, seperti ada kerinduan yang tidak bisa di gambarkan. "Tu-an." Selana terbata, sungguh tidak menyangka jika yang di depannya adalah Nickolas. Selana sedikit shock karena beberapa detik lalu baru saja dia memikirkan Nickolas dan sekarang dia ada dihadapannya. "Kau tidak menyuruhku masuk?!" Suara bariton berat nan lugas itu terdengar sangat merdu di telinga Selena. Selana paham dan langsung mempersilahkan Nickolas masuk. Dan menutup pintu. Nickolas langsung mendekat pada Selena yang masih terdiam di dekat pintu. Dia mendekat secara perlahan membuat jantung Selena berdesir, entah mengapa, rasa rindu itu kian menguap. Nickolas membelas rambutnya, menyelipkan rambutnya di daun telinganya. Mata Selena terpejam saat Nickolas mulai membelai wajahnya, dia tidak menepis bahkan menikmati setiap sentuhan dari tangan Nickolas. Entah apa yang dipikirkan Nickolas tapi nyatanya dia merasakan kerinduan yang tiada tara. Nickolas menyentuhnya dengan lembut, dan dia tidak pernah melalukannya pada wanita mana pun. Nickolas terhenti di bibir Selana yang mungil dan tebal itu, dia mengusapnya lembut penuh cinta. Selena membuka matanya saat tangan kekar itu berhenti di bibirnya. Pandangan mereka bertemu, tatapan penuh tanda tanya namun sarat rindu dari mata Nickolas dan tatapan penuh kerinduan dan rasa sakit dari mata Selena. Dalam hitungan detik dan tanpa perhitungan. Selena mendekat dan menempalkan bibir mungilnya itu di bibir sexy Nickolas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD