Wanita terpilih

1081 Words
Nickolas menghisap rokok elektrik favoritnya didalam mobil mewah anti peluru, dia memang sang bos besar dengan gaya anak muda. Dia menikmati setiap nikotin yang dia hisap, sebenarnya berbanding terbalik dengan hatinya, ia malas untuk melakukan pemilihan jalang malam ini, namun mau bagaimana lagi wanita yang dia pilihlah yang akan menemaninya untuk beberapa bulan ke depan. Hasrat seksualitas yang tinggi mengharuskannya melakukan itu, tidak sembarang wanita dapat tidur dengannya, harus dengan pemilihan yang ketat dan tentu saja sesuai dengan seleranya. Nickolas berjalan dengan gagah dengan dua ajudan saat sampai di tempat tujuannya, semua pegawai di sana terlihat membungkuk memberi hormat saat sang Bos melewati mereka, dia memasuki ruangan khusus di salah satu bar miliknya yang bernama Giant Bar A+. Nickolas berjalan perlahan masuk keruangan itu, dia berjalan santai dan tertuju pada 5 wanita cantik didepannya, semuanya terlihat menggoda Nickolas dengan berbagai gaya. Dan belum ada yang menarik perhatian Nickolas. Sesaat Nickolas terdiam dengan gadis yang berada di tengah, dia terlihat menundukkan kepalanya enggan menatapnya tapi Nickolas yakin dia sempat melihatnya karena mata mereka sempat bertemu saat Nickolas pertama masuk ke ruangan itu. Pesona Nickolas tidak ada yang bisa membantahnya kecuali ya! wanita itu, Nickolas sampai tertegun melihat wanita itu menundukkan pandangannya. "Siapa kau?" "A-ku." Selena menjawabnya dengan terbata, menatap sekilas dan langsung menundukkan pandangannya lagi, ini seperti bukan dirinya, Selena wanita tegas tidak pernah seperti ini sebelumnya. "Tatap mataku jika berbicara!" Deg Hati Selena berdenyut nyeri mendengar suara bariton berat itu membentaknya. "Namaku Selena." akhirnya Selena memberanikan dirinya menjawab dengan tegas dan mulai menatap tajam lawan bicaranya itu. Nickolas tersenyum miring. "Bawa dia!" perintah Nickolas pada ajudannya langsung. "Maksud bos? bos memilih wanita ini?" Nickolas hanya menatap tajam ajudan yang nampak terkejut itu. Ajudan itu langsung mengerti apa maksud Bosnya itu, Nickolas langsung pergi meninggalkan ruangan itu. "Mari nona ikut dengan kami." ucap sang ajudan pada Selena. "Tidak, Tidak! apa-apaan ini?! proses pemilihan saja belum dilakukan?!" "Ya benar!" "Ini salah!" Seorang wanita protes namun di ikuti dengan protesan wanita lainnya. "Ini pilihan bos! dan sudah mutlak!" Ajudan itu langsung membawa Selena keluar dari ruangan itu dan Selena hanya terdiam mengikuti, sungguh dia tidak bisa berpikir, pikirannya saat ini sangat kacau. "Dasar jalang itu!" "Mungkin dia pakai guna-guna!" "Wanita licik!" Semua wanita yang tidak terpilih itu terus saja mendumel akan terpilihnya Selena yang tanpa melalukan apapun bisa langsung menarik hati sang Bos Nickolas. Mereka tidak tahu saja nasib buruk tengah menghampiri mereka. Mereka semua akan di jual ke rumah bordir. *** Rasa canggung terasa bagi keduanya. Nickolas dan Selena saat ini tengah berada di mobil yang sama dengan posisi hanya terhalang pembatas kursi mobil. Terlihat mereka di kawal oleh dua mobil yang berada di depan dan di belakang mereka. Di dalam mobil mereka berdua hanya terdiam. Ini terasa berbeda bagi Nickolas, biasanya dia akan mencicipi sedikit sang wanita terpilih di dalam mobil namun sekarang bahkan dia merasa gugup saat akan menyentuh wanita disampingnya itu. Nickolas heran sendiri dengan dirinya saat ini. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Nickolas mengeluarkan rokok eletrik dan mulai menghisapnya. "Dagola?" Suara merdu berpadu lembut tiba-tiba bertanya padanya. "Ya." Nickolas hanya menjawabnya dengan satu kata dan itu membuatnya menyesal, Nickolas seolah kehilangan kesempatan untuk bicara lebih panjang dengannya, dia yakin wanita di sampingnya itu akan kembali terdiam dengan jawaban singkatnya. "Aku juga pakai dagola." Selena mengeluarkan rokok eletrik dari dalam tas yang di bawanya. Dia menunjukkan rokok eletrik berwarna pink dan menunjukannya pada Nickolas. "Sungguh wanita ini tidak bisa ditebak." Selena menghisap rokok eletrik miliknya dan aroma strawberry langsung tercium berbarengan dengan kepulan asap yang keluar dari mulut manisnya. Senyum Nickolas sedikit terangkat. "Strawberry?" "Ya, aku memang suka yang manis dan segar." jawab Selena sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum, manis berpadu sexy mungkin itu sedikit gambaran di mata Nickolas melihat senyuman Selena. "Kau mau mencoba punyaku?" tawar Nickolas. "Memang boleh?" "Tentu saja." Nickolas lalu menyerahkan rokok elektrik berwarna hitamnya itu pada Selena. Damn! sebenarnya ini belum pernah terjadi sebelumnya, tidak pernah ada yang bisa menyentuh barang milik Nicholas termasuk Dagola barang yang tidak pernah Nicholas tinggalkan. "Uhuk! uhuk!" Selena terbatuk saat akan mengeluarkan asap dari dalam mulutnya. "Ini terlalu berat, apa ini rasa cerutu?" Nickolas sedikit terkekeh melihat wajah menggemaskan Selena. "Ku kira kau perokok handal, ternyata amatiran." ejek Nickolas. "Aku memang bukan maniak rokok, tuan Nickolas, aku memakainya ketika ingin saja." Selena menjawabnya dengan wajah sedikit cemberut. "Begitu? ternyata sama sepertiku." "Jangan bergurau, tuan, rasa dagola milik tuan saja seperti tembakau asli, sangat jelas tuan perokok berat." "Serius, aku hanya memakainya ketika ingin." Obrolan santai mereka terdengar jelas oleh Pak Supir yang bernama Jaya. Pak Jaya sampai tersenyum dibalik masker yang menutupi sebagian mukanya itu, dia baru melihat sisi lain dari bos besarnya yang terkenal garang. Biasanya dia mendengar bunyi desahan kenikmatan dunia saat mengantarkan sang bos dengan wanita pilihannya namun kali ini berbeda. "Sejak kapan, tuan Nickolas merokok?" "Apa aku harus menjawabnya?" "Terserah, bagaimana tuan saja! tapi setahuku kau tidak suka rokok." kalimat akhir itu Selena ucapkan begitu pelan namun masih terdengar samar di telinga Nickolas. "Tahu dari mana aku tidak suka merokok?" Selena diam, ternyata indra pendengaran Nickolas sangat tajam. "A-ku.. A-ku." "Tuan sudah saatnya." Pak Jaya mengintrupsi obrolan keduanya. Nickolas terdiam, karena saking asiknya mengobrol dia tidak sadar bahwa mobilnya sudah menepi. Salah satu ajudan dari mobil depan membuka pintu mobil yang mereka tumpangi. Dia mengeluarkan alat suntik kecil dari koper mini yang dia bawa dan mengarahkannya pada Selena. "Apa ini?" tanya Selena sedikit terkejut. "Biar aku saja." perintah Nickolas pada ajudannya itu. Nickolas mengambil alih suntikan itu. "Tempatku sangat rahasia, nona, kau akan dibius dahulu." Selena mengerutkan dahinya. "Tenang saja, ini tidak sakit, jika kau takut tataplah mataku." Ucapan Nickolas benar-benar membuatnya mati rasa hingga dia repleks memandang mata hitam legam milik Nickolas. "Sudah." ucap Nickolas lalu menyerahkan bekas suntikan itu pada ajudan. Mata Selena mulai terlelap, obat bius nya bekerja sangat cepat. Ajudan sudah siap seperti biasa akan mengangkat tubuh sang wanita karena akan dipindahkan ke mobil belakang. Tangan Nickolas langsung menyingkirkan tangan sang ajudan. "Dia di sini bersamaku!" "Ba-ik, Bos." ajudan langsung mengangguk dan pergi kembali ke mobilnya walau nyatanya dia sangat terkejut dengan tindakan bosnya yang tidak biasa itu. Nickolas berusaha membuat Selena merasa nyaman walau dalam keadaan tidak sadarkan diri, dia menyingkirkan pembatas kursi dan merebahkan Selena di pangkuannya. "Siapa kau sebenarnya, Selena? aku merasa aneh saat bersamamu." Nickolas dengan tidak sadar membelai rambut coklat indah Selena dengan lembutnya. "Ini akan semakin menarik." Pak Jaya pun bergumam dalam hatinya dengan senyuman tak terbaca sambil melihat Nickolas dan Selena dari spion mobil. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD