bc

Terjebak! Mantan Pendendam Kini Bosku

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
revenge
family
system
second chance
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
campus
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Lima tahun lalu, Aruna Kirana terpaksa memutuskan hubungan dengan Aray Mahendra karena tekanan Elza Adiwangsa dan fitnah Tasya Clarissa. Aray yang tidak mengetahui kebenaran percaya bahwa Aruna meninggalkannya demi Damian, senior kaya raya yang selalu dekat dengan Aruna.

Lima tahun kemudian, Aruna diterima bekerja di Aksara Nexus Teknologi, tanpa tahu bahwa CEO perusahaan itu adalah Arayyan Mahendra Adiwangsa, mantan kekasihnya yang kini telah berubah menjadi pria dingin dan pendendam.

Aray ingin menghukum Aruna. Namun, semakin ia menyakitinya, semakin ia sadar bahwa hatinya masih sama: ia tidak mampu melihat Aruna terluka. Di tengah intrik kantor, kehadiran Damian, fitnah Dona, kemunculan Tasya, dan tekanan Elza, Aray dan Aruna dipaksa menghadapi pertanyaan terbesar mereka: apakah cinta yang pernah dihancurkan oleh kebohongan masih bisa diperbaiki oleh kebenaran?

chap-preview
Free preview
BAB 1 | Di Bawah Hujan, Kita Berakhir
Rintik hujan jatuh di taman kampus seperti jarum-jarum kecil yang menusuk kulit. Aruna Kirana berlari melewati lorong fakultas dengan napas memburu. Ujung roknya basah. Rambutnya yang tadi pagi ia rapikan kini mulai berantakan diterpa angin. Di tangannya, map berisi berkas wisuda hampir terlepas karena ia menggenggamnya terlalu kuat. Hari itu seharusnya menjadi hari yang bahagia. Hari kelulusan. Hari ketika orang-orang tersenyum bersama keluarga, saling memberi bunga, berfoto di depan auditorium, lalu pulang dengan d**a penuh bangga. Namun bagi Aruna, hari itu justru terasa seperti hukuman. Ponselnya terus bergetar sejak tadi. Nama yang muncul di layar membuat dadanya sesak. Aray Mahendra. Panggilan pertama tidak ia angkat. Panggilan kedua ia abaikan. Panggilan ketiga membuat tangannya gemetar. Lalu pesan itu masuk. Kamu di mana? Belum sempat ia menjawab, pesan berikutnya datang. Masih sama Damian? Langkah Aruna berhenti di bawah atap koridor. Hujan semakin rapat di depan matanya. Ia memejamkan mata, mencoba menahan sesuatu yang sejak beberapa minggu terakhir terus menumpuk di dadanya. Lelah. Ia sangat lelah. Lelah menjelaskan bahwa Damian hanya teman satu tim akademik. Lelah meyakinkan bahwa pulang bersama Damian bukan berarti ada hubungan lain. Lelah menenangkan Aray setiap kali pria itu melihat sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Dan yang paling melelahkan, Aruna lelah melihat cinta yang dulu terasa hangat perlahan berubah menjadi ruang interogasi. Ponselnya kembali bergetar. Jawab aku, Aruna. Aruna menggigit bibir. Ia tahu Aray menunggunya di taman samping auditorium. Tempat biasa. Tempat mereka sering duduk setelah kuliah selesai. Tempat Aray dulu menggambar simbol aneh di sudut buku catatan, lalu berkata dengan mata berbinar bahwa suatu hari simbol itu akan ia pakai untuk sesuatu yang ia bangun sendiri. Dulu, taman itu menyimpan mimpi. Hari ini, taman itu akan menjadi tempat mereka mengubur semuanya. Aruna menarik napas panjang, lalu menerobos hujan. Air membasahi wajahnya seketika. Sepatunya menginjak genangan kecil. Beberapa wisudawan menoleh saat melihatnya berlari sendirian di tengah rintik hujan, tetapi Aruna tidak peduli. Ia hanya ingin ini selesai. Sebelum hatinya benar-benar hancur oleh tuduhan yang sama. Aray berdiri di bawah pohon trembesi tua. Ia mengenakan kemeja putih di balik toga yang belum sepenuhnya ia pakai. Rambutnya sedikit basah terkena hujan. Di satu tangannya, ada kotak kecil berwarna cokelat muda. Kotak itu dibungkus sederhana, dengan pita biru tua yang tidak terlalu rapi. Saat melihat Aruna datang, wajah Aray tidak melembut. Justru mengeras. Matanya turun ke arah belakang Aruna, seolah mencari seseorang. Aruna tahu siapa yang ia cari. Damian. Padahal Damian tidak ada di sana. “Sendiri?” tanya Aray. Bukan sapaan. Bukan kekhawatiran melihat Aruna basah kuyup. Bukan pertanyaan mengapa ia terlambat. Hanya satu kata yang terasa seperti tuduhan. Aruna berhenti beberapa langkah di depannya. Napasnya masih terengah. Air hujan mengalir dari pelipis ke dagunya. “Iya,” jawabnya lirih. “Aku sendiri.” Aray tertawa kecil. Pendek. Dingin. “Sekarang sendiri.” Dada Aruna terasa ditarik paksa. “Ray…” “Kenapa? Aku salah?” Aray melangkah mendekat. “Bukannya tadi kamu bersama Damian?” “Dia hanya mengantar berkas ke ruang dosen. Kami satu tim, Ray. Aku sudah jelaskan berkali-kali.” “Dan aku juga sudah mendengar alasan itu berkali-kali.” Aruna menatapnya tidak percaya. Alasan. Penjelasannya selalu dianggap alasan. Setiap kata yang ia susun baik-baik selalu berubah menjadi pembelaan yang tidak pernah cukup di telinga Aray. “Aku tidak tahu harus menjelaskan dengan cara apa lagi,” kata Aruna, suaranya mulai bergetar. Aray menatapnya tajam. “Mungkin dengan jujur.” Hujan turun lebih deras. Kalimat itu jatuh di antara mereka, lebih dingin daripada air yang membasahi tubuh Aruna. “Jujur?” ulang Aruna pelan. “Iya. Jujur.” Aray mengangkat dagunya, matanya penuh luka yang dibungkus amarah. “Jujur kalau kamu memang mulai memilih dia. Jujur kalau selama ini aku cuma laki-laki bodoh yang kamu biarkan berharap.” “Hentikan.” “Kenapa? Sakit dengarnya?” “Karena itu tidak benar!” Suara Aruna pecah lebih keras daripada yang ia rencanakan. Beberapa orang yang berteduh di koridor jauh menoleh, tetapi taman itu cukup sepi untuk menyembunyikan sebagian besar kehancuran mereka. Aray diam sejenak. Lalu senyum miring muncul di bibirnya. Senyum yang tidak pernah Aruna kenal. “Tidak benar?” katanya pelan. “Lalu apa yang benar, Aruna? Kamu selalu punya waktu untuk Damian. Selalu ada alasan saat pulang terlambat. Selalu membela dia setiap kali aku bertanya. Apa aku harus pura-pura buta?” Aruna merasa matanya panas. Bukan karena hujan. Karena kecewa. Karena pria yang dulu menjadi tempatnya pulang kini berdiri sebagai orang yang paling sulit mempercayainya. “Aku membela Damian karena dia tidak salah,” ujar Aruna. “Karena kamu menuduh dia tanpa bukti.” “Dan kamu membelanya lagi.” “Karena kamu salah!” Aray menggenggam kotak kecil di tangannya lebih kuat. “Jadi aku yang salah?” Aruna terdiam. Ia melihat kotak itu. Kotak kecil yang basah di sudutnya. Pita birunya mulai lemas terkena hujan. Untuk sesaat, hati Aruna mencelos. Ia tahu Aray menyiapkan sesuatu. Ia tahu pria itu pasti datang dengan harapan. Dan itu membuat segalanya terasa lebih menyakitkan. Karena ia juga datang dengan sisa cinta. Namun cinta saja ternyata tidak cukup jika setiap hari harus dipaksa membuktikan diri tidak bersalah. “Aku tidak bilang kamu selalu salah,” kata Aruna lebih pelan. “Tapi akhir-akhir ini, kamu tidak pernah benar-benar mendengarkanku.” Aray menatapnya, keras. “Aku mendengar semuanya.” “Tidak.” Aruna menggeleng. “Kamu hanya mendengar bagian yang sesuai dengan ketakutanmu.” Wajah Aray berubah. Kata-kata itu tepat mengenai bagian yang ia sembunyikan. Bagian yang takut kehilangan. Bagian yang merasa belum cukup. Bagian yang selalu melihat Damian sebagai laki-laki yang lebih pantas, lebih mapan, lebih aman. Namun luka yang tidak mau diakui sering kali keluar sebagai amarah. “Hebat,” ucap Aray dingin. “Sekarang kamu juga menyalahkan ketakutanku.” “Aku tidak menyalahkanmu karena takut,” kata Aruna. “Aku hanya tidak sanggup terus dihukum karena sesuatu yang tidak aku lakukan.” Aray terdiam. Hujan mengisi jeda di antara mereka. Aruna menarik napas, tetapi udara yang masuk ke dadanya terasa tajam. Ia tidak ingin mengucapkan kalimat itu. Tidak hari ini. Tidak di hari wisuda. Tidak di taman yang pernah menjadi tempat mereka menyusun mimpi. Namun mungkin justru karena tempat ini pernah terlalu indah, ia tidak sanggup lagi melihatnya berubah menjadi ruang tuduhan. “Aku capek, Ray.” Mata Aray menajam. “Aku capek setiap hari harus membela diri.” Suara Aruna mulai bergetar lagi. “Aku capek ditanya hal yang sama. Aku capek dicurigai. Aku capek melihat kamu menatapku seolah aku sedang menyembunyikan pengkhianatan.” Aray menelan ludah, tetapi wajahnya tetap dingin. “Kalau kamu tidak melakukan apa pun, kenapa kamu ingin pergi?” Pertanyaan itu menghantam Aruna. Ia tertawa kecil, tetapi suaranya terdengar patah. “Karena tinggal juga rasanya seperti terus diadili.” Aray memandangnya. Lama. Sangat lama. Lalu ia berkata pelan, “Jadi ini akhirnya.” Aruna mengepalkan tangan. Kuku-kukunya menekan telapak. Ia berharap Aray menahannya. Bukan dengan amarah. Bukan dengan tuduhan. Hanya dengan satu kalimat percaya. Katakan yang sebenarnya, Run. Aku akan dengarkan. Atau, Maaf. Aku takut kehilanganmu. Atau bahkan, Jangan pergi. Namun Aray hanya berdiri dengan senyum miring yang semakin dingin, seolah sudah menemukan jawaban yang ia takutkan sejak awal. “Silakan,” katanya. “Ucapkan.” Aruna menggeleng pelan. Air matanya bercampur dengan hujan. “Jangan paksa aku.” “Kenapa? Takut terlihat jahat?” Aruna menatapnya, terluka. Kalimat itu menjadi dorongan terakhir. Semua lelah, kecewa, sakit, dan cinta yang sudah terlalu lama ditekan meledak begitu saja. “Iya, kita putus!” teriak Aruna akhirnya. Suara itu pecah di bawah rintik hujan. Aray diam. Aruna terengah, seolah baru saja berlari sangat jauh. Dadanya naik turun. Tangannya gemetar. Namun kalimat itu sudah keluar, dan tidak bisa ditarik kembali. “Kita putus, Ray,” ulangnya lebih pelan, tetapi lebih hancur. “Kalau mencintaiku membuatmu terus curiga, dan dicintai kamu membuatku terus merasa bersalah, mungkin kita memang harus selesai.” Untuk pertama kalinya, Aray tidak langsung membalas. Matanya turun ke kotak kecil di tangannya. Aruna melihatnya membuka sedikit tutup kotak itu. Di dalamnya, sesuatu berkilau samar meski tertutup bayangan hujan. Sebuah gelang tipis. Bandul kecil berbentuk lengkung menyerupai huruf A yang terputus, dengan satu titik di bawahnya. Napas Aruna tercekat. “Ray…” Aray menutup kotak itu kembali. Pelan. Sangat pelan. Lalu ia mengangkat wajah. Senyum miring itu kembali muncul. Namun kali ini, senyum itu membuat bulu kuduk Aruna meremang. Bukan karena ia bahagia. Bukan karena ia menang. Melainkan karena sesuatu yang hangat di mata Aray seperti padam saat itu juga. “Baik,” katanya. Satu kata. Terlalu tenang. Terlalu dingin. Aruna merasa ada yang lebih menakutkan daripada kemarahan Aray. Yaitu saat Aray berhenti menunjukkan sakitnya. Ia mundur satu langkah. “Ray, aku—” “Jangan.” Aray memotongnya. “Kamu sudah memilih.” “Aku tidak memilih siapa pun.” Aray tertawa pelan. “Tentu.” Nada itu membuat d**a Aruna semakin sesak. Ia ingin menjelaskan lagi. Ingin mengatakan bahwa ini bukan tentang Damian. Bukan tentang laki-laki lain. Ini tentang hubungan mereka yang berubah menjadi tempat paling melelahkan untuk bernapas. Namun ia tahu, saat ini Aray tidak akan percaya. Mungkin sudah lama ia tidak percaya. Aruna menghapus air dari wajahnya, entah air mata atau hujan. “Aku pergi,” katanya lirih. Aray tidak menahan. Ia hanya menatap. Tatapan itu mengikuti punggung Aruna saat perempuan itu berbalik, melangkah menjauh dari taman yang pernah menyimpan begitu banyak kenangan. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Setiap langkah membuat d**a Aruna terasa robek, tetapi ia memaksa dirinya terus berjalan. Karena jika ia menoleh, mungkin ia akan kembali. Jika ia kembali, ia akan terperangkap lagi dalam siklus cinta, curiga, tangis, dan pembuktian yang tidak pernah selesai. Di belakangnya, Aray berdiri di bawah hujan. Kotak kecil itu masih di tangannya. Pita birunya kini basah sepenuhnya. Ia menatap punggung Aruna sampai perempuan itu hampir menghilang di ujung koridor. Lalu senyum di bibirnya menghilang. Yang tersisa hanya dingin. Aray menggenggam kotak itu kuat-kuat. Dalam diam, harga dirinya runtuh. Bukan karena Aruna berteriak putus. Bukan hanya karena ia ditinggalkan di hari wisuda. Tetapi karena di bagian terdalam dirinya, ia merasa telah menjadi laki-laki menyedihkan yang memohon kepercayaan dari perempuan yang mungkin sejak awal memang tidak pernah benar-benar ingin tinggal. Ketika Aruna hampir sampai di koridor, suara Aray terdengar. Tidak keras. Namun cukup tajam untuk menembus hujan. “Aruna...” Langkah Aruna berhenti. Ia tidak menoleh. Ia tidak sanggup. Beberapa detik berlalu. Lalu Aray mendekat satu langkah, suaranya turun menjadi bisikan dingin yang membuat bulu kuduk Aruna meremang meski jarak mereka tidak lagi dekat. “Suatu hari nanti, saat kamu tahu siapa aku sebenarnya…” Aruna menahan napas. Aray tersenyum tipis dalam hujan. “Kamu akan menyesal pernah membuangku.” Aruna memejamkan mata. Di taman kampus yang basah itu, hubungan mereka memang berakhir. Namun ancaman dalam suara Aray membuat Aruna tahu satu hal. Perpisahan ini bukan penutup. Ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
761.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
991.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.8K
bc

Not just, the Beta

read
352.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook