6 | Balap Liar

2254 Words
Rajen langsung menarik gas penuh. Ban belakang sempat berdecit sebelum mencengkeram aspal. Dalam hitungan detik, dia sudah berada di posisi kedua. Andai Rajen masih menjadi bagian keluarga Atmaja, hal seperti ini pasti akan langsung jadi nilai minus saat dirinya adalah calon penerus. Tapi sekarang dia sudah bukan lagi bagian mereka, maka tak perlu Rajen pusingkan soal image. Sudah lima tahun berjalan, bahkan Kakek Uyut Atma pun sudah tiada, tetapi dendam Rajen masih utuh untuk membuat kehidupannya 'berhasil' ketika sudah diusir. Tidak peduli bagaimana prosesnya, yang penting hasil. Oh, jantung Rajen berdetak menggebu-gebu. Jiwa ambis yang tertanam dalam diri membuatnya berhasrat memenangkan tiap perlombaan, Rajen selalu bertekad untuk jadi pemenang. Fokus Rajen tajam ke jalanan, situasi malam itu di Senayan cukup lengang daripada tadi saat masih pukul delapan. Ah ... andai tidak kena tipu, andai aplikasi pencari cuannya tidak gulung tikar, andai Rajen bisa mempertahankan sistem platform supaya tetap berjalan baik, langkahnya menuju kesuksesan sudah lumayan dekat. Rumah tinggal direnovasi—ralat—dibangun ulang dengan fondasi yang baru. Tapi Rajen membuat uang itu hilang sampai yang tersisa adalah rasa sesak. Perhiasan Humaira sudah cukup banyak walau belum setara dengan jumlah berlian Mami Dikara, tetapi setidaknya lebih dari satu set emas 24 karat. Sayang sekali, Rajen membuatnya hanya tersisa cincin nikah macam awal terusir. Malah anting istri semasa gadis pun harus dijual. Mata Rajen berkaca-kaca di balik helm fullface-nya, dia tambahkan kecepatan. Oh, tidak. Di sampingnya, motor merah itu kini melaju sejajar. “Gas terus kalau berani!” teriak pengendaranya. Si motor merah. Rajen tidak menjawab. Dia hanya kembali menambah kecepatan. Andai Rajen masih bagian keluarga Atmaja, hari ini mungkin sedang di California—sebagaimana Jagat, sang kembaran. Mengenyam bangku pendidikan S1 dan S2 di sana, bahkan bisa jadi lanjut S3. Andai Rajen masih bagian keluarga Atmaja ... ah, sudah cukup. Rajen benci keluarga itu. Yang bahkan mengharamkan anak-keturunannya karena sebuah kesalahan dalam hidup Rajen, padahal bukan benar-benar salah Rajen sepenuhnya. Kelak, Rajen sendiri yang akan mengharamkan keluarga Atmaja untuk setiap darah dagingnya. Lihat saja .... Gedung tinggi yang berdiri gagah dengan nama Luxe itu, nanti, entah di keturunannya yang mana ... akan jadi terlihat kecil sebab keturunan Rajenlah yang menapaki titik tertinggi kejayaan—yang digadang-gadang sebagai sosok dongkrak emas. Rahang Rajen mengetat. Tikungan pertama mendekat. Tanpa ragu, Rajen memiringkan motor. Tubuhnya condong, hampir menyentuh aspal. Ban mencengkeram kuat, menjaga keseimbangan di batas yang nyaris mustahil. Agaknya Rajen takjub pada diri sendiri yang bisa mengendalikan motor dengan spek pembalap begini. Ya, mungkin karena saat masih jadi bagian keluarga Atmaja, Rajen suka nge-drive di jalanan mansion mengitari lapangan golf. Sayang, momen-momen dirinya melakukan itu tak pernah dikisahkan. Rajen merasa keren. Oh! Satu pembalap di depannya goyah sedikit. Ini kesempatan. Rajen langsung menyalip dari sisi dalam. Gesit dan ekspres. Hingga sekarang ... Rajen yang di depan. Tapi belum aman. Motor merah masih di belakangnya, sangat dekat. Rajen rasa pengendara motor merah itu yang paling jago di sini. Detak jantung Rajen kian meningkat. Dia harus memenangkan balap liarnya malam ini. Harus. Dan pemenangnya hanya ada juara satu, tidak dengan juara dua. Berbekal tekad karena butuh uang, lalu jiwa ambisius Rajen yang mendarah daging di setiap kompetisi, ditambah kemampuannya dalam membawa motor nungging. Kini mereka memasuki jalan lurus yang panjang. Dan di sinilah babak penentuan. Rajen menunduk lebih rendah. Gas diputar habis. Mesin meraung seolah ingin meledak. Kecepatan meningkat drastis. Batinnya terus merapalkan 'harus menang' secara berulang. Sepuluh juta, ingat. Di kaca spion, lampu motor merah masih terlihat. Sontak Rajen menarik napas. Belum lagi di depan tampak ada tikungan tajam. Rajen bisa tersalip di detik-detik terakhir jika begini, dan itu sangat tidak dirinya inginkan. Maka Rajen membuat keputusan. Tanpa mengurangi kecepatan secara signifikan, Rajen tetap melaju. Bahaya. Rajen tahu keselamatan adalah taruhannya. Tapi ... sepuluh juta .... “Gila!” teriak seseorang dari jauh. Motor merah mencoba mengejar, tetapi ragu. Rajen masuk tikungan dengan kecepatan tinggi. Motor miring ekstrem. Ban sedikit tergelincir—hanya sepersekian detik. "KYAAA!" Bukan suara Rajen, itu pekikan orang-orang yang berkumpul di dekat garis finish. Di ujung sana. Tentunya tidak terdengar di sini, yang ada di pendengaran Rajen hanya suara mesin dan hantaman angin. Oh! Rajen berhasil menguasai kembali kendali. Dan dia keluar dari tikungan. Sendirian di depan. Sorakan serupa tadi lantas terdengar di kejauhan. Rajen terus melaju hingga garis finish yang ditandai seadanya. Begitu melewati garis itu, perlahan Rajen mengurangi kecepatan. Napasnya berat. Tangan sedikit gemetar. "HUUU!" Riuh gemuruh dan tepukan tangan mengudara. "RAJENDRAAA!" Bang Bendrong terdengar amat sangat bangga. "Bravo!" Lalu satu per satu motor lain menyusul. Orang-orang mengerubungi Rajen, bahkan yang baru ingin mengenalnya. Rajen tersenyum penuh kemenangan. Ber-tos ria dengan Bang Bendrong. Rasanya jika begini, Rajen bisa minta tarif lebih. Di sisi lain, si motor merah berhenti. Pengendaranya membuka helm, tatapannya lurus di Rajen. “Dia gila,” katanya. Dan seorang gadis yang mengibarkan bendera final untuk para pembalap itu ... setapak demi setapak langkahnya sampai di hadapan Rajendra. Sontak tatapan Rajen tertarik ke arah gadis itu. Bagaimana tidak? Benar-benar pas di hadapan. Orang lain pun sampai membuka jalan untuk gadis itu. Yang kini menjulurkan tangan, gadis berjaket kulit hitam dengan bra sport, lalu rok mini. Rajen balas juluran tangan itu dengan dua telapak tangan disatukan di depan dadaa. Tak hanya itu, tatapan Rajen juga langsung alih ke Bang Bendrong sambil bilang, "Mana sepuluh jutanya?" Wajar kalau si gadis syok di tempat, lantas menarik juluran tangan yang tidak berbalas. Tak hanya gadis itu yang tidak menyangka, melainkan hampir semua yang melihat dan menyoraki 'cie-cie' kala Rajen dihampiri olehnya—si pemegang bendera putih. Dia ditolak? *** Gawat. Ponsel Rajen kehabisan baterai. "Jam berapa ini, Bang?" Setelah Rajen menerima angsuran uang cash senilai sepuluh juta dari Bang Bendrong. Rupanya, acara balap kali itu disponsori beliau. "Setengah satu. Betewe, tadi lo keren banget di tikungan. Sejauh ini nggak ada yang—eh, eh, mau ke mana, Raj?!" Tahu-tahu sudah menumpaki matic-nya, memakai helm. "Pulang dulu, Bang!" "Lha ... party-nya? Minum dulu minum!" Ada bir dan beragam jenis minuman kesukaan anak muda tongkrongan, tentu bukan selera Rajen. Di samping itu, dia cuma mengincar uangnya. "Next time, Bang. Duluan, ya! Thanks!" Rajen sempurnakan pamitnya dengan bunyi klakson. "Lho, lho ... Rajen!" Ini seruan dari kawan lain, kawan baru Rajen. Tak ada Idam, dan Rajen mulai akrab dengan anggota tongkrongan Bang Bendrong lainnya. Ada Ajis, Diva, dan ... lupa tadi siapa. By the way, Rajen meminta agar Idam merahasiakan tentang siapa dirinya. Yang Idam tahu, kan, Rajen ini calon penerus Atmaja Group. Itu pun tahu dari mulut kawan SMA Rajen. Syukurlah orang-orang di jalanan tidak tahu latar belakangnya, lagi pula ini juga hal-hal yang sudah dihapuskan. Tunggu! Sekarang bukan itu poinnya, melainkan ... jam satu dini hari. Gawat. Humaira pasti marah nanti, pasti Rajen kena omel istri. Bilangnya, kan, sebelum tengah malam sudah di rumah. Lihatlah, jam segini Rajen baru sampai. Saat suasana sekitar sudah mencekam karena tidak ada aktivitas orang-orang. Rajen ketuk pintu. "Ra ...." Humaira, Rajen sebut namanya. Ketuk pintu lagi. Tak lama, pintu dibuka. Hal pertama yang Rajen lihat adalah raut penuh perhitungan dari sang istri. Sebentar, Rajen masuk dulu. Tak lupa motornya dibawa masuk dan parkir di ruang tamu. Begitu pintu ditutup dan dikunci kembali, mulailah Humaira mempertanyakan, "Sampai jam segini pun ada yang order, ya?" Suaranya pelan, tentu karena takut anak mereka terbangun. Rajen melebarkan senyum. Merogoh saku. Walau uang banyak bukan solusi, tetapi paling tidak dua ratus ribu bisa Rajen jadikan bukti. "Hasilnya." Dua lembar uang merah itu Rajen sodorkan ke istri. "Besok masak opor, ya, Sayang." Apa, sih! "Aku nanya apa tadi?" Jutek Humaira berkicau. Uangnya sengaja tidak dia ambil, hingga Rajen yang memasukkan uang dua ratus ribunya ke saku daster Huma. "Uangnya ada, berarti ada yang order." Raut Huma masih sangsi. Rajen lalu merangkul tubuh sang istri, dia ajak masuk ke kamar. "Udah malem, pasti kamu nggak tidur nungguin aku. Gih, tidur. Aku mau bersih-bersih dan ganti baju dulu, habis itu nyusul." Kepala Huma dikecup. Entah sejak kapan Rajen begitu manis padanya, paham bahwa kecupan bisa memberi efek tenang, paham bahwa rengkuhan bisa memberi efek damai. Oh, tentu sejak Rajen menyadari dosa-dosa kekejamannya kepada Humaira di awal pernikahan. "Hape Mas kenapa nggak aktif?" Rajen sudah duduk di tepi ranjang, menyusul Humaira yang rebah di sana. Bicara super pelan. "Nah, untung diingetin. Kehabisan daya tadi di jalan pulang." Lekas Rajen men-charger-nya. "Aku khawatir," bisik Humaira. "Aku harap ini cukup jadi yang pertama dan terakhir, nggak usah ambil orderan malem lagi." Rajen meringiskan senyuman. Tak bisa jujur atas apa yang sebetulnya dia lakukan. "Uangnya lumayan, Ra." Humaira terdiam. Waktu terus berjalan. "Mas ... Bara udah gedean, aku bisa ikut cari kerja." No, no. Sejak awal tidak pernah Rajen izinkan. Dia menentang keras gagasan itu. Apa kata keluarga Atmaja nanti? Menurut Rajen jika sampai Huma kerja juga, itu berarti dirinya gagal. "Udah, ya, tidur. Aku udah nemu kerjaan yang lumayan, nanti sambil cari yang lain ... di kantoran." Tapi bagaimana kalau hasil hari ini hanya bagian dari kebetulan? Di samping itu, ini pun Rajen sampai pulang lewat tengah malam. Humaira kurang setuju, tetapi dia memilih mengakhiri obrolan. Sejak lulus kuliah, Huma tidak diperbolehkan bekerja. Katanya, harga diri Rajen terluka kalau-kalau wanita yang menjadi istrinya sampai harus bekerja. Hell. *** Pagi hari, Bara menggendong tas kecil gambar Hulk kesukaannya. Dia ingin menjadi besar seperti tokoh idolanya itu, tampak keren karena semua orang kecil, dia sendiri yang besar. Seperti biasa, Bara sekolah diantar oleh Rajen. Berdua, naik matic. Posisi Bara nanti berdiri di depan. Awalnya begini terasa asing bagi Rajen, biasa diantar-jemput naik BMW dulu, sekarang malah anaknya sama sekali tidak menyicip sensasi antar-jemput pakai kendaraan roda empat. "Kasian banget anak Pamud, diantar-jemputnya pake motor. Dulu Pamud ke mana-mana selalu pake mobil, kecuali pas motoran nyetir sendiri. Itu pun moge miliaran harganya." Tahu Honda RC213V-S, kan? Motor yang dibanderol sekitar tujuh sampai sembilan miliar. Ini motor Rajen sebelum seluruh fasilitasnya ditarik. Motor ini adalah versi jalan raya dari motor MotoGP Marc Marquez, salah satu motor termahal yang pernah masuk ke Tanah Air. "Nggak kasihan, kok. Bara kayaknya lebih happy daripada Pamud pas kecil dulu diantar-jemput mobil," timpal Huma. Dia saksi bagaimana Rajen saat kecil. Zaman SD, kan, satu sekolah. Sontak Rajen melirik Humaira. "Wajah Pamud merengut mulu, lho, pas itu. Mamud inget banget," imbuh Huma. Oh, ya? Itu merengut karena yang Rajen lihat setelah turun dari mobil adalah Humaira, si murid beasiswa miskin. Kan, Rajen benci sekali. Dulu, bukan sekarang. Dan Rajen memilih tidak mengutarakannya. Bara sedang menghabiskan segelas s**u sebelum berangkat sekolah. Kehidupan Rajen seperti itu, 180 derajat bedanya dengan Danapati Jagat Atmaja. Yang kini sudah dinobatkan sebagai pewaris takhta tertinggi untuk Luxe. Bila Rajen tinggal di rumah sederhana, maka Jagat di apartemen mewah. Rajen pagi-pagi mengantar anak sekolah, sedangkan Jagat pergi ke kampus tempat kebanyakan calon CEO menempuh pendidikan di negeri nun jauh sana. Rajen hanya memakai kaus tanpa lengan berwarna hitam dibalut jaket, sedangkan Jagat rapi berkemeja dan celana bahan. Rambut Rajen disisir acak, lain dengan sang kembaran yang merupakan calon CEO Atmaja Group, disetel rapi bahkan dari setiap helai rambutnya. Rajen di sini sibuk mengirimkan lamaran ke beberapa perusahaan, sambil kerja di bengkel dan menunggu info balapan. Sedangkan Jagat di sana segalanya sudah tersaji, tinggal Jagat yang perlu disiapkan untuk menempati kursi nomor satu di Luxe. Kursi impian Rajendra dulu. Di sini ... Rajen penuh oli dan kotor, mencari uang bukan dari bidang yang sudah dia geluti sebagai sarjana karena keadaan—kepepet. Di sana ... Rajen melihat kembali unggahan media sosial yang menginfokan momen pertunangan para pewaris; Jagat dan Seruni. Jagat pewaris Atmaja Group, lalu Seruni pewaris Bumantara Corp. Harusnya Rajen yang di sana. Pewaris terpilih utama Atmaja Group. Harusnya .... Melihat acara tunangan yang sangat 'terhormat' itu seketika hati Rajen teriris. Pasalnya, hari pernikahan Rajen diselenggara seakan begitu memalukan, penuh aib. Ya, walaupun memang aib. Ah, sudahlah. Rajen hanya perlu menjadi unggul. Membuktikan bahwa dirinya sangat layak dan keluarga Atmaja rugi besar telah membuang seseorang seberharga dirinya. "Ah—!" "Kenapa, Raj? Waduh. Dam! Ambil betadine sama plester, Dam! Si Rajen kukunya kecongkel!" *** "Luka kecil, kok." Tapi Humaira sampai menangis. Dan meski yang luka Rajen, tetap Humaira yang terlihat sangat kesakitan. Dia tiup-tiup luka Rajen. Sedang diganti plesternya. "Lha, malah kamu yang sesenggukan." Rajen sontak menarik Huma ke dalam dekapan. Huma sedih. Lagi pula dunia otomotif itu bukan bidang Rajen sekali. Tapi Huma tidak bisa bilang agar Rajen berhenti bekerja. "Kalung aku ...." Suara Huma parau khas tangis. "Jual aja, deh." Matanya berair menatap Rajendra. "Uangnya kasih aja lagi ke Pak Idris." "Uluh, uluh ...." Rajen malah terkekeh. Huma sontak mencebik. Tapi tangisnya kembali. Yang Rajen pupuskan dengan raut jenaka. "Kayaknya kamu kecintaan banget, nih, sama Mas." Mas gendeng! Usia juga masih lebih tua Humaira. Tapi, ya ... meng-mas-kan diri supaya kelihatan lebih dewasa suami ketimbang istri. "Bukan masalah kecintaannya, Raj—" "Eh, eh. Sebut apa?" "Mas. Bukan karena kecintaan, tapi ini bahaya. Lagian kamu paham aja nggak soal perbengkelan, basic kamu nggak di sana. Takutnya nanti bukan cuma kamu yang celaka, tapi pemilik kendaraan yang dibengkelin sama kamu, gimana?" "Kamu nggak percaya kebolehan suamimu berarti. Dibilang aku ini tipe yang cepet belajar, cepet bisa. Kalau luka dikit mah wajarlah." Tetap Huma kurang setuju. Tapi baru mau membalas tutur kata itu, bibirnya malah dibungkam dengan ciuman. Hmph! Belakang kepala Huma dibuat nempel dengan sandaran kursi, tubuh Rajen mencondong. Percayalah, Rajen sudah mahir di bidang sabotase bibir Humaira. Dia kulum, dia lumat, dan .... "Mamut, Bala mau makan cama opoool!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD