1
Adelia Wiratmoko adalah koas yang diperbantukan untuk mengisi kekosongan posisi asisten dokter umum di IGD Rumah Sakit Permata.
Adelia yang akrab dipanggil Lia itu baru satu bulan bekerja di RS. Permata. Dan kabarnya siang ini, pemilik rumah sakit akan datang untuk melihat rumah sakit yang baru dibangunnya enam bulan lalu.
"Del ... Kamu gak kepo sama pemiliki rumah sakit ini? Katanya dokter ganteng dan masih muda," ucap Nia yang terburu -buru memebri tahu Adelia di meja kerjanya.
Pagi ini, Adelia masuk shift satu. Pukul enam pagi, ia sudah mulai bertugas. Untungnya saja, pasien tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pasien rujukan saja dari puskemas desa.
Adelia melirik sekilas ke arah Nia dan menggeleng dengan cepat. Entah sejak kapan, sifat dan sikap Adelia menjadi dingin dan sangat tidak disukai banyak orang. Adelia selalu memilih menyendiri, sulit berkomunikasi dan membatasi diri dalam pertemanan. Tidak ada yang salah. Hanya saja, orang -orang di dekatnya jadi malas bersamanya kecuali Nia. Ia tahu betul Adelia itu seperti apa. Luka Adelia itu sangat dalam dan sampai detik ini tidak pernah sembuh.
"Kamu kenapa sih? Ini sudah sepuluh tahun. Masa iya, belum bisa move on dari Dendra, Lia?" ucap Nia meletakkan berkas di meja IGD.
Lia menarik napas dalam dan menghembuskan pelan napas itu.
"Kamu kalau mau lihat bos besar, sana lihat saja. Aku gak mau," jelas Lia tegas.
"Oke. Aku juga gak kepo kok. Cuma pengen ajakin kamu aja. Karena di depan rame banget. Katanya ada konfrensi persnya juga," jelas Nia lagi.
"Oh. Kayaknya pemilik rumah sakit ini sangat terkenal sampai bawa pers. Pasti sombong sekali," tuduh Lia ketus.
"Hmmm ... Maybe," jawab Nia terkekeh.
Bisa jadi seperti itu. Tapi memang tidak semua begitu.
Di dalam mobil mewah, Dendra sengaja menyetir mobilnya sendiri. Ia sudah membaca profil rumah sakitnya yang menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Senyumya terbit, bibirnya tertarik ke atas membuat lengkungan bulan sabit yang sempurna sekali.
"Kamu disana, Lia. Apa kabarmu?" bisik Dendra dengan rasa bahagia.
"Kamu pasti tambah cantik. Kamu pasti sudah menjadi dokter spesialis sesuai dengan impianmu dulu. Maafkan aku, Lia ..." bisik Dendra di dalam hati.
Ya, Sepuluh tahun yang lalu. Saat itu malam perpisahan. Malam yang seharusnya bukan bnera -benar menjadi perpisahan lama bagi mereka.
Dua hari sebelum pesta promp night di Sekolah mereka. Dendra diminta Denis untuk membuat keputusan.
Dan ternyata Dendra tidak bisa memilih apa yang ia inginkan. Ia harus mengikuti perintah kedua orang tuanya.
Selepas SMA, Dendra harus menikahi Vena. Gadis itu adalah korban pemerkosaan dan ingin mengakhiri hidupnya jika tidak menikah dengan Dendra.
Pilihan yang sulit, bukan?
Ide gila, muncul begitu saja diotaknya. Sebelum ia menikah, ia ingin merenggut kegadisan Lia. Ia tidak rela, jika Lia harus bersama dengan laki-laki lain.
Lamunan itu buyar, mobil mewahnya sudah hampir sampai di Rumah Sakit Permata. Sekumpulan wartawan juga sudah berkumpul di halaman Rumah Sakit miliknya itu.
Semua mata memandang ke arah Dendra yang sudah turun dari mobilnya.
Berbagai pose datar, dingin, namun terlihat dewasa, matang dan sangat tampan dengan mudah diambil oleh para fotografer. Sebenatr lagi, nama Dendra akan melambung tinggi.
Konferensi pers berlangsung sangat cepat. Tidak sampai satu jam, acara temu itu selesai. Intinya, Dendra Mahesa adalah pemilik Rumah Sakit Permata yang kini membuat namanya semakin melejit.
Dia bukan saja pewaris dari kedua nama besar Mahendra Group dan Mahesa Group. Tetapi juga dokter muda yang jenius. Identitas kehidupannya sangat tersembunyi dan privasi sekali. Tidak ada yang bisa menyentuhnya.
Nia berlari dnegan sangat cepat sekali. Ia yang tadinya tidak kepo menjadi sangat penasaran. Siapa pemilik Rumah Sakit Permata ini.
Manajemen yang tersusun rapi. Para pekerja yang benar-benar dibahagiakan. Dan pasien yang sangat dihormati. Mau pasien itu punya uang atau tidak, pasien yang datang harus diberi tindakan tanpa pilih kasih.
"Lia!" Teriakan Nia begitu keras dari kejauhan. Suara hak sepatu yang berlari cepat begitu terdengar seperti gempa kecil.
Lia menoleh ke arah Nia dan menunggu Nia yang sudah sampai di meja IGD sambil menarik napas dalam untuk mengontrol degup jantungnya yang kian menari cepats ekali.
"Kenapa?" tanya Lia begitu datar.
"Noh ... Kamu mesti lihat, siapa pemilik rumah sakit ini. Cepat Lia, mumpung belum selesai," titah Nia memegang dad4nya yang mau lepas jantungnya.
"Enggak ah .. Gak penting," ucap Lia tertawa kecil.
Ia malah membereskan peralatan pribadinya ke dalam tas. Sebentar lagi, jadwal ia bertugas selesai. Ia hanya menunggu dokter jaga setelah ini. Baru deh, Lia bisa pulang dengan tenang.
"Dendra! Pemilik Rumah Sakit ini adalah Dendra Mahesa! Mantan kamu, Lia ..." jelas Nia dnegan susah payah.
Lia melongo tak percaya. Kenapa? Kenapa semesta begitu jahat padanya? Kenapa?
Deg ...
Deg ...
Deg ...