"Dokter Abraham!" Seruan kecil terdengar saat Abraham melangkahkan kakinya menyusuri lorong. Dia baru saja melakukan kunjungan ke kamar-kamar pasiennya. Pria yang mengenakan Sneli putih lengan pendek itu menolehkan kepalanya, menatap sosok perempuan muda yang kini melangkah ke arahnya dengan membawa 2 plastik yang sepertinya berisi kopi. Dia adalah dokter Elina. Berdiri di hadapan Abraham dan tersenyum manis menghadapnya. "Iya? Ada keperluan apa, dokter Elina?" Abraham bertanya seraya mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban dari perempuan muda di hadapannya. "Saya tadi membeli kopi 2 di depan. Saya ingin memberikannya satu pada dokter Abraham, apakah Dokter Abraham mau menerimanya?" Elina menatap Abraham tanpa menghilangkan senyum manis di bibirnya, membuat Abraham ik