Aldi menemui seseorang karena dia ingin memastikan sesuatu saja. Semoga duganya benar, dia hanya ingin meminta izin atas hal yang akan aku lakukan.
"Kamu sudah menemui pria itu?"
"Iya bos. Saya juga sudah mengatakan kalau anda akan menikahi anaknya."
"Apa yang dia katakan?" tanya Aldi yang memang penasaran. Dia tidak datang langsung menemui orang tersebut. Dia menyuruh orang suruhannya untuk datang ke sana. Hanya tidak ingin nanti malah akan mencurigai dirinya.
"Dia hanya berpesan untuk tidak menyakiti anaknya."
Aldi hanya mengangguk tersenyum dengan penuh arti. Lalu mengibaskan tangannya untuk mengusir pria suruhannya. Sudah bisa dia tebak akan jadi lebih baik.
"Aku akan menyakiti anaknya kalau anaknya berani licik padaku," gumam Aldi.
Tidak ada yang mengetahui kalau Aldi yang memang selama ini tau tentang ayahnya Nindy karena pria itu adalah selingkuhan ibu tirinya. Sayangnya dia belum berhasil membuat Rini masuk penjara karena dia tidak punya barang bukti. Semuanya sudah dilimpahkan kepada ayahnya Nindy.
Aldi mendapatkan sambungan teleponnya dari Nindy, wanita itu menghubunginya.
"Hallo," ucap Aldi lada orang yang ada di sebrang teleponnya.
"Ada barang Pak Aldi yang ketinggalan di apartemen saya!"
Tentu saja Aldi memang sengaja menaruh barang itu, tidak ada yang tau kalau adalah pulpen yang memang sengaja dirancang untuk merekam sesuatu. Aldi memang sengaja meninggalkan benda itu agar dia bisa mendengar rencana dari Nindy.
Memang terdengar licik, tapi setidaknya dia harus pintar dari Nindy. Aldi tidak akan kalah dari calon istrinya itu. Apalagi dia akan lebih mudah mengendalikan Nindy nantinya.
"Besok saya ambil." Aldi memang sengaja menaruh benda kecil itu untuk mengetahui rencana licik Nindy. Dia sudah memanipulasi semuanya dengan baik.
"Baiklah kalau begitu, saya mau istirahat."
"Iya."
Aldi memutuskan sambungan teleponnya dari Nindy. Dia bibirnya tersenyum iblis. Dia sudah tidak sabar mendengar percakapan Nindy dengan kedua orang tua yang disewanya itu. Dan lagi rencana wanita itu selanjutnya setelah menjadi istri sahnya.
Tok.. tok.. tok..
Terdengar suara orang mengetuk pintu, dia menaikan sebelah alisnya. Siapa orang yang tau tentang dia yang menginap di hotel ini? Kemudian dia ingat dengan temannya yang memang dia kasih tau tadi.
Aldi akhirnya memutuskan untuk membuka pintu tersebut dan muncullah sosok pria yang memang membuat dia menaikan sebelah alisnya.
"Ada apa?"
"Kamu yakin bro akan menikah dengan Nindy?" tanya David sambil melirik kearah Aldi.
"Iya tentu saja aku yakin, kenapa?" jawab Aldi dengan singkat.
"Gila bro, bukannya kamu yang bilang sendiri kalau Nindy itu orang yang licik. Wanita itu adalah anak dari selingkuhan ibu tirimu!" peringat David.
"Aku tidak akan lupa dengan pengkhianatan itu David, aku justru sedang malas karena Nindy selama setahun ini tidak ada tindakkan yang dilakukan oleh Nindy untuk balas dendam. Aku menikahinya untuk memberikan wanita itu peluang lebih besar dekat dengan impiannya yaitu menghancurkan keluargaku, kalau sudah aku gep tadi, aku akan menjebloskan dia ke penjara," seringai dari wajah Aldi dengan pandangan penuh artinya.
David yang mendengar itu hanya tersenyum tipis saja. Sudah kenal dengan sifat Aldi yang memang seperti itu dari dulu sampai sekarang. Dia tidak pernah berubah sama sekali.
"Aku rasa kalian berdua malah terlihat cocok, sama-sama licik dan punya rencana jahat," canda David.
"Jangan samakan aku dengan wanita itu!" tegas Aldi yang tidak mau disamakan dengan Nindy.
Baginya Nindy tidak lebih dari wanita licik yang pasti dengan penuh rencana. Wanita itu akan balas dendam pada keluarganya. Buktinya saja dia bekerja dengan menggunakan identitas palsu, beruntung sekali Aldi punya informan seperti David yang mau membantu dirinya untuk menyelesaikan semua urusannya. Termasuk mengetahui tentang kebusukan Nindy.
"Aku hanya bisa mendoakan saja, semoga hubungan kalian langgeng," seru David sambil sedikit becanda.
"Kamu pikir aku mau menikah seumur hidup dengan wanita itu heh!" ketus Aldi tidak terima.
"Santai bro. Becanda saja dianggap serius!" sungut David jadi kesal.
"Sudah kalau tidak ada urusan lagi lebih baik kamu pulang. Jangan lupa urus semua pernikahanku!" perintah Aldi.
"Kamu mengusirku Aldi, tega sekali."
"PERGI!"
Mendengar suara tinggi dari Aldi barusan akhirnya David langsung pergi. Daripada nanti dia yang dapat bogeman dari Aldi. Ini yang akan membuat dia malah jadi kesal sendiri. Sudah jelas dia tidak akan terima dengan apa yang terjadi saat ini.
****
Semetara di tempat lain.
Nindy memberikan uang pada dua orang yang ada di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan orang tua yang memang dia sewa untuk berbohong.
"Sebenernya kami tidak usah diberikan ini juga gak papa nak," ucap Bagas.
"Kami senang melakukan ini, kamu juga sudah kami anggap sebagai keponakan sendiri seperti Lukas."
"Gak papa, Nindy justru senang memberikan ini pada kalian."
Nindy tersenyum tulus sambil memberikan uang ini pada Om dan Tante Lukas.
"Terimakasih Nindy, kalau begitu kita berdua pamit pulang dulu yah."
"Iya Om, Tante, hati-hati di jalan yah."
"Pasti."
Nindy memeluk Rani dengan erat. Entah kenapa dia merasa sedikit senang karena merasakan pelukan itu. Apalagi ibunya sampai sekarang belum dia temukan sama sekali.
Rani tau apa yang dirasakan oleh Nindy ketika wanita itu memeluk dirinya. "Kamu pasti merindukan bundamu yah."
"Iya Tante."
"Kamu tetap sabar, Lukas dan kami semuanya pasti akan membantu kamu untuk menemukan orang tersebut. Jadi tenang yah."
"Iya, Terimakasih banyak atas bantuannya."
Rani melepaskan pelukannya, lalu tersenyum pada Nindy sekilas sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Dia sudah tau kalau semuanya pasti akan seperti ini.
Dia sudah bisa nebak apa yang sudah terjadi padanya saat ini. Sudah tidak yakin kalau semuanya jadi begini.
"Kita pamit."
Nindy hanya bisa melihat kedua orang itu sekarang yang sudah pergi dari tempat ini. Dia hanya menghela nafas sejenak. Dia tau dengan keputusan yang akan dia ambil selanjutnya.
"Terimakasih banyak."
Dia hanya bergumam dengan pelan. Nindy tau tentang keputusan yang sudah dia ambil sekarang. Dia cukup sadar dengan semuanya. Menikah dengan Aldi pasti akan membuat dia semakin merasa terintimidasi. Tapi semoga pria itu tidak akan curiga.
"Apa besok aku harus datang ke penjara buat menemui ayah, sekaligus meminta izin pada ayah?" gumam Nindy yang merasa bimbang.
Tapi Nindy teringat dengan pesan yang ayahnya kasih lewat Lukas. Kalau ayahnya meminta dia untuk tidak menemui dirinya karena ini akan sangat membahayakan dirinya. Bukan tidak mungkin kalau Aldi kenal dengan pihak kepolisian dan rencananya akan ketahuan.
"Apa yang harus aku lakukan untuk bertemu ayah?" bingung Nindy. Apa dia harus menyamar besok?
BERSAMBUNG
______________________________