Pintu depan terbuka dengan suara derit khas engsel tuanya. Langkah berat dan sisa aroma asap rokok masuk bersama sosok yang paling tidak ingin mereka lihat saat itu. Paman Jalal. Nawang buru-buru merapikan bungkusan perhiasan ke pangkuannya, sementara Bi Laila menutup kotaknya dan menarik kain penutup seadanya. Keduanya duduk kaku seperti dua anak kecil yang tertangkap basah. Jalal menatap mereka bergantian—dahi berkerut, mata menyipit. “Kenapa kalian berdua melihatku seperti melihat hantu?” tanyanya curiga. Nawang menelan ludah. Bi Laila lebih cepat bereaksi. “Perasaan banget sih, Abang,” cibirnya, berusaha terlihat santai. “Kami cuma kaget karena sedang membicarakan hal penting.” “Membicarakan apa?” Paman Jalal melangkah mendekat. Sepatu bututnya menggesek lantai, membuat Nawang m

