Nawang turun dari angkot dan berjalan cepat menuju gang rumahnya. Matahari mulai miring; langit sore menyisakan warna jingga pucat. Ia mempercepat langkah karena perutnya keroncongan. Di kampus tadi ia tidak sempat makan siang karena mengerjakan tugas di perpustakaan. Akhir-akhir ini ia lebih senang belajar di perpustakaan saat istirahat dibandingkan di kelas. Kasus Bisma yang kini mulai disidangkan membuatnya kerap disindir-sindir oleh Nora cs. Saat tiba di rumah, aroma masakan Bi Laila sudah tercium dari dapur. Sepertinya Bi Laila memasak gulai — makanan kesukaannya. Begitu masuk, Bi Laila sedang menyapu ruang tengah. “Sudah pulang, Naw?” tanya Bi Laila tanpa menoleh. “Iya, Bi.” Baru saja Nawang hendak menaruh tasnya, ponselnya bergetar. Nama Kenes muncul di layar. Ia mengangkatnya

