Malam itu, setelah Bi Laila tertidur, Nawang duduk di sudut kamar dengan ponsel di tangannya. Lampu kamar temaram, hanya cahaya layar ponsel yang memantul di wajahnya. Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan nama “Bik Fatimah” di daftar kontak. Suara sambungan terdengar beberapa kali sebelum akhirnya dijawab. “Assalamu’alaikum… Neng Nawang?” suara di seberang terdengar hangat, khas logat Jawa medok yang selalu membuat hati Nawang tenang. Ia seolah kembali ke masa lalu — ke masa ketika ibunya masih hidup dan semuanya baik-baik saja. “Wa’alaikumsalam. Apa kabar, Bik?” “Bibik baik. Neng bagaimana? Bi Laila memperlakukanmu dengan baik, kan? Paman Jalal sudah bisa menerima kehadiran Eneng belum?” suara Bik Fatimah di seberang sana terdengar penasaran. “Saya juga baik-baik

