Setelah bangun, Lucian langsung membawa Dinda bertemu dengan Daren sesuai ucapannya. Namun, tidak riang seperti sebelumnya, Dinda malah bingung harus berkata dan berperilaku apa sekarang. "Kakak ipar, kamu baik-baik saja?" Awalan yang cukup baik, Lucian menepuk bahu adiknya. "Cabang perusahaanku di sini ada sedikit masalah, aku titip dia!" Langsung semangat, Daren segera hormat pada kakaknya. "Siap, kak. Aku akan menjaga kakak ipar dengan segenap nyawaku!" Hanya berdecih, Lucian kemudian menatap Sekertaris Roy lekat. "Tetap di sini, awasi dia!" Daren yang berdecih kali ini, untuk apa menitipkan jika masih di awasi? Pria aneh memang! Berbeda dengan Dinda yang sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Lucian, ia merasa kehilangan sekarang. Apalagi ini di negeri orang. Ya, meski ada Sek

