"Apa yang kalian lakukan?! Cari mati ya!"
Semua orang menutup mulut saat melihat Lucian menampar kekasih dan ibunya sendiri. Bagaimana bisa?
"Dinda, jangan-jangan dia ...."
"Sekertaris Roy! Pecat semua orang yang telah menyakiti Dindaku!"
Duar!
Seperti ada kembang api yang meledak di siang bolong, semua orang kaget bukan main. Termasuk Mega yang sejak tadi berdiri paling depan, menyalahkan Dinda atas retaknya hubungan Tuan Lucian dan Bella.
"Tuan Lucian saya mohon, tolong ampuni saya. Saya sama sekali tidak ikut andil dalam pertengkaran mereka." Mega mencoba membela diri.
Nindi segera maju membela sahabatnya, "Bohong! Dialah penyebab awal pertengkaran ini. Dia memanas-manasi keadaan agar mereka menyerang sahabatku, Dinda!"
"Bukankah dia kepala staf yang sok besar nyali itu?!"
"Benar, Tuan." Sekertaris Roy membenarkan.
Lucian membopong Dinda yang kini sudah pingsan, tangannya mengepal.
"Diturunkan dari jabatan ternyata tidak membuatmu berfikir. Singkirkan dia dari hadapanku! Blacklist semua perusahaan atas namanya!" titah Lucian kemudian pergi membawa Dinda.
"Lucian, apa yang kamu lakukan?! Dia ini hanya karyawan biasa, sama sekali tidak pantas untukmu. Bella lebih pantas untukmu. Tolong, dengarkan nasihat ibumu ini, Nak."
"Tutup mulutmu!"
Lucian memberikan Dinda kepada Sekertaris Roy, memerintahkan untuk membawanya lebih dulu. Sedang dia memetikkan jari-jari lebih dulu kemudian mencekik wanita yang mereka sebut Nyonya Helen itu dengan sangat kuat.
"Nyonya Helen ...." Bella ketakutan. Helen yang ibu tirinya saja ia cekik, apalagi dirinya yang belum mempunyai hubungan pribadi dengan Lucian. Tamatlah sudah riwayatnya.
Ya, Helen memang hanya ibu sambung. Ibu Lucian meninggal ketika ia masih duduk di bangku smp. Dan ketika itulah Helen datang bersama anaknya. Mengaku jika mereka adalah keluarga. Lucian Alexander Blane lebih tepatnya, disaat anak-anak seusianya bisa belajar dengan tenang, berbeda dengan Lucian yang harus menjalani kehidupan pahit setiap hari. Saat itu, Lucian belum sedewasa ini untuk melawan dan mengekspresikan ketidak setujuannya. Tapi kini tidak lagi, ia bahkan tidak peduli lagi. Hanya menghormati Helen demi ayahnya.
"Apa kamu pikir kamu juga pantas jadi ibuku? Ck!"
Lucian berdecih, melepaskan cengkraman dan mendorong dengan kasar. Sementara Helen sudah mengepal kuat. Sial! Ia tidak bisa di perlakukan seperti ini. Apalagi sampai di permalukan dihadapan semua orang. Hanya karena wanita rendahan itu pula!
"Kembalikan dia pada ayahku, beritahu dia apa saja ulahnya hari ini."
"Lalu bagaimana dengan Nona Bella, Tuan?"
"Bereskan dia untukku, jangan beri ampun."
"Siap, Tuan."
Tangan kanan Sekertaris Roy yang terkenal kejam menunduk hormat, kemudian mencengkram tangan Bella dengan begitu kuat dan menyeretnya.
"Lucian, tidak! Aku ini kekasihmu! Kamu ngga bisa perlakukan aku kyk gini, Lucian!"
Tak menghiraukannya sama sekali, Lucian pergi dengan semua perasaannya. Perasaan khawatir bercampur penyesalan. Ya, ia menyesal menunda-nunda untuk memiliki Dinda karena dirinya yang pecundang. Ya, ia sebut dirinya pecundang hanya karena ia terlalu takut. Takut jika Dinda berada dalam bahaya karena banyaknya musuh yang ia punya. Itulah sebabnya Lucian menunda semuanya. Tapi siapa sangka semuanya akan malah jadi seperti ini? Bahaya Dinda justru terjadi dari orang-orang kecil seperti mereka.
"b******k!" Lucian menghajar stirnya sendiri.
Ia takut, mungkinkah setelah ini Dinda masih mau menemuinya? entahlah.
"Bagaimana kondisinya?!" tanya Lucian setelah dia tiba di rumah sakit.
"Nona Dinda mengalami cedera ringan di bagian kepala. Sepertinya, Nyonya Helen dan Nona Bella membenturkan kepalanya saat pertengkaran tadi."
Amarah lucian tak tertahan, tapi ia juga tidak bisa terus menahan diri untuk tidak melihatnya.
"Dimana dia?"
"Di dalam, Tuan."
Lucian lari, menghampiri Dinda yang kini sudah duduk di ranjang.
"Tuan saya mengundurkan diri."
Tuh, kan.
Lucian tak menjawab, hanya ingin mengecek kondisi Dinda dengan menyentuh kepalanya tapi wanita itu menghindar.
"Apa kamu marah padaku?!"
"Memangnya siapa aku berani marah padamu?!" Mengatakannya tanpa menatapnya. Sebenarnya ingin sekali ia cakar wajah tampan milik Lucian. Sudah memiliki kekasih tapi masih saja menggoda wanita lain. Mereka dari kalangan atas, pantas saja langsung murka saat melihatku.
"Ah, sakit sekali!"
Dinda memegangi kepalanya sendiri. Sementara Lucian kelimpungan, bertanya bagian mana yang sakit.
"Yang mana? Biar aku obati."
Dinda tak menjawab, hanya menatap pria itu dengan sedikit marah.
"Katakan saja, Tuan! Apa saja syarat yang harus kupenuhi agar bisa keluar dari perusahaanmu."
Tak menjawab, Lucian malah duduk bersimpuh di hadapan Dinda.
"Tuan, apa yang kau lakukan?!" pekik Dinda. Bisa-bisa, ia potong dan dijadikan sate kalau kedua wanita tadi melihatnya.
Dinda ingat betul saat datang dan memperkenalkan diri.
"Apa kamu yang bernama Dinda?"
Dinda menatap wanita yang baru saja memanggilnya. Cukup tua tapi cukup cantik juga. Tapi sayang, penampilannya terlalu glamor menurutnya.
"Aku dengar kamu berusaha menggoda putraku, Lucian. Aku Helen, Nyonya besar dari keluar Blane. Ingat ya, Lucian adalah orang paling berpengaruh di negeri ini. Ia memiliki kekayaan lebih dari delapan puluh persen dari seluruh kekayaan yang ada di negeri ini," katanya dengan sombong.
Dinda menganga, tidak percaya. Ternyata, sekaya itu ya orang yang telah tidur dengannya.
"Dan ini Bella, calon istri Lucian. Aku pilihkan langsung khusus untuknya. Dia seorang model majalah dan artis papan atas. Jadi kamu, jangan pernah berfikir bisa jadi pasangannya." Hina Nyonya Helen sembari menatap Dinda dengan jijik.
Dinda mengangguk patuh. Tanpa nyonya Helen turun tanganpun sebenarnya ia akan memutuskan semua hubungannya dengan Lucian.
"Bagus!"
Baru saja hendak pergi, Mega yang memiliki dendam datang, menghasut Nyonya Helen dan Bella hingga terjadilah pertengkaran seperti tadi.
"Tentu saja minta maaf padamu. Karenaku, kamu jadi mendapatkan perlakuan seperti ini," ucapan Lucian menyadarkan Dinda.
"Bangunlah, Tuan. Mereka bisa kembali menghukumku jika melihatmu seperti ini di depanku."
Lucian kembali menggila.
"Persetan dengan mereka, aku tidak peduli!"
Lucian menarik Dinda dan memeluknya.
"Tuan apa yang kamu lakukan?"'
"Aku berjanji, tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu. Mereka yang telah menyakitimu tadi, sudah mendapatkan balasannya," katanya dengan tegas.
Dinda menatap Lucian dengan lekat, "Kamu menghukum mereka?"
"Tentu saja."
"Tapi kenapa? Bukankah mereka kekasih dan ibumu?"
Lucian sesaat terdiam, "Ya, tapi hanya ibu sambung. Ibu kandungku telah meninggal sejak aku smp." Lucian berkata seadanya. Mendengar itu, Dinda yang tadinya kekeh pengen pergi tiba-tiba jadi kasihan. Ia juga memiliki ibu tiri sama seperti Lucian, jadi ia tahu betapa sulitnya hidup bersama dengan ibu tiri.
"Lalu Bella?"
Ya, Dinda sedikit penasaran perihal wanita itu.
"Tentu saja aku tidak menyukainya. Bukankah sudah kubilang kamulah calon istriku," ucap Lucian sembari mencium pipi Dinda lembut. Sontak membuat Dinda gelagapan. Mendorong d**a bidang Lucian.
"Tuan jangan macam-macam, aku tidak pernah mengiyakan perihal itu sebelumnya."
"Benarkah?" Ikut naik ke atas ranjang dan menindih tubuh Dinda tanpa sungkan.
"Tapi aku dengar, gadis yang mengikat syal ke kepalaku itu terus meminta. Dia terus mendesah sembari terus meminta aku jadi suaminya agar terus bisa melakukannya."
"MANA ADA!"
Dinda meneguk saliva kuat, kemudian menatap Sekertris Roy dengan tajam.
"Aku tidak mengatakannya Nona, sungguh. Tuan Lucian sendiri yang mengetahuinya."
Semakin melotot, Dinda mengumpat dalam hati.
Dasar bodoh! Dengan mengatakan beginipun kamu sudah membocorkan rahasiaku, manusia dingin!
"Bukan hanya syal, aku bahkan hafal setiap inci dari tubuhmu meski aku buta."
Semakin terdengar begitu menakutkan Dinda berusaha agar bisa lepas tapi tidak bisa. Lucian menyuruh Sekertris Roy pergi lewat tatapan matanya.
"Jadi bagaimana, apa aku bisa menikahimu sekarang, hm?!"
"Aaaaa tunggu-tunggu!" Dinda mendorong d**a Lucian berusaha menghentikan.
"Ada apa?!"
"Kamu belum mengatakan bagaimana pendapat ayahmu, Tuan. Bukankah dia ayah kandungmu? Aku yakin dia pasti akan lebih memperhatikan perasaanmu dari pada Nyonya Helen tadi."
Tak menjawab, Lucian sudah membulatkan tekad untuk memiliki Dinda. Mencium bibir gadis itu dengan lembut dan mesra. Tak sampai menggelora, Lucian menghentikan aktifitas mereka.
"Ada apa?!"
"Ada yang ingin aku perlihatkan padamu. Mau ikut?!"
Tanpa pikir panjang Dinda mengangguk setuju, melingkarkan tangannya ke tangan Lucian dan pergi dari sana.
Bersambung....