***
"Pergi dari sini, Zaki," suara Sekar rendah, tajam, dan tidak bergetar sama sekali.
Zaki justru semakin mengeratkan genggamannya pada buket bunga yang sudah layu itu.
Wajahnya yang memelas mencoba mencari sisa-sisa kasih sayang di mata Sekar.
"Aku nggak akan pergi sebelum kamu bilang 'iya', Kar. Kita masih bisa perbaiki semuanya. Pernikahan minggu depan tetap harus jalan. Aku sudah bilang ke keluarga besarku,"
Sekar tertawa getir.
"Kamu sudah bilang ke keluarga besar? Setelah apa yang kamu lakukan dengan kakakku di belakangku? Setelah bayi itu ada di rahimnya?"
"Itu kesalahan, Sekar! Aku terjebak!" Zaki berseru, mulai menarik perhatian beberapa karyawan yang lewat.
"Tapi aku cintanya sama kamu! Ranti bisa kita urus nanti, aku akan tanggung jawab secara materi saja, tapi istriku tetap kamu. Aku nggak akan beranjak dari sini sampai kamu setuju untuk tetap menikah denganku minggu depan!"
Sekar menatap kening Zaki, lalu beralih ke matanya.
"Kamu menolak pergi?"
"Ya! Aku akan tunggu di sini sampai kamu luluh!"
Sekar menarik napas panjang, mengabaikan denyut di keningnya yang kian menyiksa.
"Zaki, dengar baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya," ucap Sekar, melangkah satu titik lebih dekat hingga Zaki bisa melihat memar merah yang tertutup makeup di keningnya.
"Minggu depan, tidak akan ada pernikahan antara kita. Tidak ada kamu, tidak ada janji suci, dan yang paling penting... tidak ada lagi uang dariku,"
"Sekar, jangan begitu..."
"Setiap detik kamu berdiri di sini, bunga yang kamu pegang itu semakin busuk, sama seperti harga dirimu," potong Sekar.
"Kamu mau tetap di sini? Silakan. Tapi perhatikan mobil yang baru saja berhenti di depan,"
Sekar menunjuk ke arah mobil polisi yang kebetulan lewat untuk patroli rutin di area perkantoran.
"Jika dalam tiga puluh detik kamu tidak memutar tubuhmu dan menghilang, aku akan melaporkanmu atas tindakan pelecehan dan pengancaman. Dan jangan lupa, Zaki... apartemen tempat kamu menyimpan baju-bajumu? Kuncinya sudah kuganti satu jam yang lalu. Semua barangmu sudah kulempar ke tempat sampah di depan gerbang,"
Wajah Zaki mendadak pucat pasi.
"Kamu... kamu nggak mungkin sekejam itu, Kar,"
"Aku belajar dari ahlinya," sahut Sekar dingin.
"Sekarang pergi, sebelum aku benar-benar menghancurkan sisa hidupmu yang tinggal sedikit itu,"
"Aku tidak akan pergi," tolak Zaki.
"Terserah,"
Sekar mengacuhkan Zaki dan berjalan masuk ke dalam kantor.
Langkah Sekar limbung. Dunia di sekitarnya seolah berputar hebat, efek dari hantaman di dasbor mobil dan tekanan batin yang bertubi-tubi sejak pagi.
Penglihatannya mengabur, dan tepat saat lututnya akan menyentuh lantai marmer lobi, sepasang tangan menangkap bahunya dengan kasar.
"Sekar! Kamu nggak apa-apa?" suara Zaki terdengar panik tepat di telinganya.
Sentuhan itu, hangat tangan Zaki yang dulu pernah ia puja, kini terasa seperti api yang membakar kulitnya. Rasa mual di perut Sekar memuncak bukan karena pusing, tapi karena jijik.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Sekar menyentak tangan Zaki dengan kekuatan yang mengejutkan.
Ia mundur dua langkah, napasnya tersengal, matanya berkilat penuh amarah yang meluap-luap.
"Lepaskan! Jangan berani-berani kamu menyentuhku dengan tangan kotor itu, Zaki!" teriak Sekar, suaranya bergema di langit-langit lobi yang tinggi.
"Kar, aku cuma mau bantu, kamu mau pingsa,"
"Aku lebih baik jatuh di lantai ini daripada harus ditolong oleh pengkhianat sepertimu!" desis Sekar tajam.
Ia menunjuk wajah Zaki dengan jari yang gemetar karena emosi.
"Setiap senti kulitmu yang menyentuhku membuatku merasa kotor. Pergi dari sini sekarang juga sebelum aku benar-benar kehilangan akal sehatku!"
Suasana di lobi semakin memanas. Zaki masih mencoba meraih tangan Sekar, sementara Sekar berdiri dengan napas tersengal, menahan pening sekaligus amarah yang meluap.
Di saat itulah, langkah kaki yang berat dan tegas bergema di lantai marmer.
Adrian muncul dari balik kerumunan staf, wajahnya datar namun sorot matanya memancarkan otoritas yang mematikan. Ia melihat tangan Zaki yang masih berusaha mendekati Sekar, dan seketika itu juga atmosfer di lobi berubah menjadi sangat mencekam.
"Singkirkan tanganmu dari dia," suara Adrian terdengar rendah, namun sanggup membungkam kegaduhan di sekitar mereka.
Zaki menoleh, wajahnya memucat melihat Adrian yang kini berdiri menjulang di samping Sekar.
"Ini urusan keluarga kami, Pak! Anda tidak perlu ikut campur!"
Adrian tidak membalas ucapan Zaki. Ia hanya melirik ke arah meja resepsionis dan memberikan kode singkat dengan kepalanya. Dalam hitungan detik, empat orang petugas keamanan bertubuh tegap berlari mendekat.
"Amankan pria ini," perintah Adrian dingin, matanya tetap tertuju pada Zaki.
"Dia masuk tanpa izin dan mengganggu ketertiban di lingkungan kantor saya. Bawa dia keluar dari area gedung ini sekarang juga,"
"Sekar! Kamu nggak bisa biarkan orang ini mengusirku! Aku calon suamimu!" teriak Zaki saat dua orang security mulai memegangi lengannya dengan kuat.
Sekar, yang kini bersandar pada meja untuk menjaga keseimbangannya karena rasa pening di kepalanya, menatap Zaki dengan pandangan yang paling menghina.
"Kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku, Zaki. Security, tolong lakukan tugas kalian,"
*
*
*
Pintu ruang rapat tertutup rapat setelah delegasi Jepang itu menghilang di balik lift. Keheningan yang mencekam langsung menyergap ruangan yang baru saja menjadi saksi bisu penandatanganan kontrak bernilai triliunan itu.
Sekar menghela napas panjang, pundaknya yang sedari tadi tegang kini sedikit merosot. Ia memijat keningnya yang berdenyut semakin hebat. Rasa pusing itu seperti ribuan jarum yang menusuk saraf matanya.
"Kepalamu... masih sakit?" suara Adrian memecah kesunyian.
Nadanya datar, tanpa intonasi yang menunjukkan kekhawatiran berlebih.
Sekar mendongak sedikit, mencoba tersenyum formal meski wajahnya pucat.
"Tidak apa-apa, Pak. Hanya sedikit berdenyut. Efek benturan tadi mungkin,"
Adrian tidak mendekat. Ia justru merapikan berkas-berkas di atas meja dengan gerakan yang sangat mekanis.
"Minum obatmu. Saya tidak butuh manajer yang pingsan saat laporan mingguan besok,"
Adrian kemudian berdiri tegak, memasukkan kedua tangannya ke saku celana bahan mahalnya. Tatapannya yang tadi sedikit melunak kini kembali mengeras menjadi es.
"Dan satu hal lagi, Sekar," ucap Adrian dengan nada otoritas yang mutlak.
"Saya menghargai apa yang kamu lakukan untuk Mr. Tanaka hari ini. Tapi, saya tidak mau melihat drama lobi seperti tadi pagi terulang kembali. Kantor ini adalah tempat bekerja, bukan panggung opera sabun untuk urusan domestikmu,"
Sekar tertegun. Rasa perih di keningnya mendadak pindah ke dadanya.
"Pak, saya tidak bermaksud..."
"Saya tidak peduli apa maksudmu atau siapa pria tadi," potong Adrian tajam.
"Berstatus tunangan, mantan, atau apa pun, pastikan dia tidak menginjakkan kaki di gedung ini lagi. Urusan pribadimu harus selesai sebelum kamu menginjakkan kaki di area parkir perusahaan. Mengerti?"
Sekar menelan ludah, ia merasa harga dirinya baru saja dipangkas habis di depan mejanya sendiri.
"Baik, Pak. Saya mengerti. Saya pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi,"
Tiba tiba sebuah panggilan masuk ke ponsel Adrian. Pria itu mengangkatnya dengan tenang, lalu setelah beberapa detik, Adrian segera keluar dari ruangan dengan cepat.