19. Akhirnya Sah

1723 Words

Luna berdiri di depan cermin yang ada dalam kamarnya. Kebaya putih sederhana membalut tubuhnya yang mungil, jatuh anggun tanpa banyak payet atau detail mewah. Rambutnya disanggul rapi, riasan tipis hanya menegaskan mata yang sejak tadi menyimpan kegelisahan. Cantik, jelas iya. Tapi kecantikan itu lahir dari kesedihan yang ditahan, bukan dari kebahagiaan yang meluap. Tangannya gemetar saat merapikan ujung kebaya. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek-pendek. Ini hari pernikahannya. Hari yang seharusnya penuh tawa dan harap. Namun yang ia rasakan justru kebingungan, ketakutan, dan perasaan seperti sedang berjalan ke sebuah tempat yang tak tentu di mana arahnya. Aksara Mahendra bukanlah lelaki yang dia inginkan menjadi pendamping hidupnya. Apalagi seumur hidup itu lama. Aluna memejamkan mata

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD