Bagian 2 - Ah! Jangan Pergi

1043 Words
"Kamu siapa, sih? Kenapa nggak jawab, ahh!" rintih Bianca. Suaranya terdengar kacau, napasnya memburu karena efek obat yang sudah menjalar ke seluruh sarafnya. Pria itu tidak membuang waktu. Ia membungkam bibir wanita itu dengan ciuman dalam yang menuntut, sebelum membisikkan ancaman rendah tepat di telinganya. "Diamlah. Nikmati saja dulu, atau kamu akan menyesal setelah ini, wanita." "Ahh, seram. Kamu se—" Belum sempat Bianca menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar terbuka kasar dari luar. Dia langsung melotot tajam, ia memperdalam ciumannya, tangannya yang terluka menekan pundak Bianca dengan kasar. "Katakan pada mereka agar jangan ganggu," bisik Biantara penuh tekanan. "Argh sialan! Sedang apa kalian di sana!" teriak suara pria kasar dari balik pintu yang terbuka sedikit. Bianca yang tidak lagi bisa mengendalikan diri karena suhu tubuhnya yang membakar, ikut memekik. "Pergi!!" "b******k! Tutup pintu kalau sedang bercocok tanam, sialan!" hardik pria di luar sana. Pintu kamar kembali ditutup rapat dan dikunci dari luar. Pria itu hendak bangkit, namun tangan Bianca mencengkeram kemejanya erat. Wanita itu terlalu kepanasan, akal sehatnya benar-benar sudah hilang. "Kamu penjahat, ya? Kamu siapa sih!" Bianca mendesah panjang, matanya sayu menatap wajah pria di atasnya. "Eungh, jangan pergi, kumohon." Pria bertubuh tegap itu meringis saat lukanya di lengan kembali berdenyut nyeri. Ia menatap gadis di bawahnya dengan tajam. "Kamu mabuk, gadis gila." "Kamu mafia, ya? Orang jahat kayak di film, bener kan?" Bianca tertawa kecil, lalu menggigit bibir bawahnya karena rasa gerah yang tak tertahankan. "Gila, apa aku beneran mabuk atau aku lagi sekarat sekarang?" Ia menarik napas panjang, matanya menatap penampilan Bianca yang sudah acak-acakan. "Kalau aku memang mafia, kamu mau apa, gadis kecil? Mau pingsan atau mau menangis di sini?" "Hngg! Tuan mafia, jadi kamu beneran? Gila memang, kamu beneran mafia?" Tanpa malu, Bianca menarik tanktop yang terasa menyesakkan itu dan melemparnya sembarangan hingga hanya menyisakan pakaian dalam. Ia menarik leher kemeja pria itu, memaksa pria itu mendekat. "Siapapun kamu, jangan pergi. Aku mohon, aku butuh kamu." Bianca terlihat semakin liar dan putus asa. Pria yang dipanggil Tuan Mafia oleh Bianca itu menggeram rendah, berusaha mempertahankan sisa logika yang ia miliki sebelum akhirnya menyerah pada keadaan. Godaan wanita ini benar-benar menyiksanya. Dengan gerakan kasar, pria itu melepas kemejanya yang bersimbah darah. Otot-otot dadanya yang bidang dan keras terlihat jelas, ditambah bekas luka parut di bahunya yang menambah kesan berbahaya. Bianca membelalak, napasnya tersengal. Tangannya gemetar saat menyentuh kulit d**a pria itu. "Uh! Kamu besar banget, Tuan Mafia," desahnya tanpa sadar. Pria itu tidak lagi menjawab dengan kata-kata. Ia merengkuh tubuh Bianca, membalas setiap sentuhan dengan tarikan yang membuat ruangan itu seolah bergetar. Bianca melengkungkan punggungnya, mengeluarkan suara desahan yang meruntuhkan pertahanan terakhir pria itu. Dalam kepasrahan dan rasa panas yang mendera, Bianca terus memanggil sosok di atasnya dengan sisa suaranya yang serak. ** Pria itu meringis saat ujung pisau kecil yang ia panaskan di atas korek menyentuh daging lengannya. Dengan tangan gemetar karena sisa adrenalin dan rasa perih yang hebat, ia mencungkil peluru yang bersarang di sana. Darah segar kembali merembes, menodai seprai putih yang kini sudah tidak berbentuk. Bayangan wanita yang tadi mengerang nikmat di bawah kungkungannya masih tertinggal di ingatan. Benar-benar gila, pikirnya. Bahkan dalam kondisi terluka parah seperti ini, ia masih bisa membuat wanita itu kehilangan akal sehatnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengabaikan denyut nyeri saat menaburkan bubuk obat keras langsung ke luka terbuka tersebut. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu yang nyaring memecah keheningan fajar. "Kak Bian, buka pintunya. Aku tahu Kakak di dalam, kan?" Pria itu menggeram rendah, memaki dalam hati. "Sial. Kenapa harus sepagi ini, sih, Tiana," umpatnya lirih. Ia buru-buru menyambar kemeja bersih dan mencoba menutup luka yang masih berdarah. "Tiana, jangan ganggu aku dulu, kumohon," balasnya dengan nada dingin yang berusaha ia jaga agar tetap stabil. "Kak Bian, Kakak janji mau kencan buta, kan? Ayolah, Kak. Aku terus memikirkan Kakak. Mau sampai kapan sih Kakak memilih sendiri begini?" suara Tiana terdengar tidak sabar dari balik pintu. Pria itu menarik napas panjang, menahan emosi yang mulai membuncah. "Hentikan, Tiana. Aku sudah bilang aku tidak akan menikah." "Tiana, sudahlah, jangan dipaksa." Itu suara Leonel, suami Tiana. Pria itu tahu betul nada bicara kakak iparnya yang penuh tekanan. Sebagai salah satu pimpinan senior di organisasi gelap mereka, Leonel cukup cerdas untuk menangkap situasi. Ia bisa menebak bahwa di dalam sana, pria itu tidak sedang sendirian, dan kondisi kesehatannya mungkin jauh lebih buruk dari yang ia akui. "Biarkan dia istirahat, Tiana. Kita pergi sekarang," perintah Leonel tegas, meski matanya menatap pintu kamar dengan sorot curiga yang sulit diartikan. Pukul delapan pagi, Biantara Narendra Tama sudah duduk tegak di kursi kebesarannya di kantor pusat Tama Grup. Kemeja putihnya yang disetrika licin menutupi perban yang membalut luka tembak di lengannya. Meski wajahnya tampak tenang, matanya menatap tajam ke arah layar monitor yang menampilkan data transaksi ilegal yang disamarkan dalam laporan keuangan legal perusahaan. Bagi Biantara, kantor ini adalah benteng utama, tempat ia mencuci kekuasaan dunia gelapnya menjadi legitimasi yang tidak bisa disentuh hukum. Sementara itu, di hotel, Bianca terbangun dengan kepala yang masih berdenyut kencang. Ia mengerjap, mencoba menyesuaikan penglihatan dengan cahaya matahari yang menembus celah gorden. Saat ia mencoba bangkit, selimut yang menutupi tubuhnya merosot, memperlihatkan kulitnya yang penuh dengan bercak kemerahan bekas ciuman. Bianca tertegun, napasnya tercekat melihat kondisi dirinya yang telanjang tanpa sehelai benang pun di bawah selimut. Ingatan semalam menyerbu otaknya. Suara decapan ciuman Sinta dan Revan, air soda yang terasa aneh, hingga sosok pria asing berdarah yang menindihnya. "Semalam! Astaga!!" Belum sempat ia memproses kehancuran hatinya, ponselnya di atas meja berdering nyaring. Sebuah panggilan dari kantor polisi. "Selamat pagi, benar ini dengan pihak kerabat saudari Sinta Sundari?" tanya suara di seberang telepon. "Kami mengabarkan bahwa saudari Sinta mengalami kecelakaan lalu lintas serius bersama seorang pria bernama Revan Nadim. Keduanya saat ini berada di rumah sakit dalam kondisi kritis." Ponsel itu jatuh dari genggaman Bianca. Dunia Bianca seolah berhenti berputar. Semua kepingan kejadian mulai tersusun dengan kejam. "Ah! Faster please, Tuan Mafia!" "Kumohon, jangan pergi, lakukan apa pun asal jangan tinggalkan aku, Tuan." "Uh, kamu besar sekali, aku mau lagi, kumohon..." Bianca menggeleng, ingatan itu sangat nyata hingga kepalanya pening. Jadi, Sinta dan Revan kecelakaan, dan dia sama sekali tidak peduli. Mereka jahat padanya, tapi Bianca terus kepikiran, pria semalam itu siapa? Hingga ponselnya kembali berdering. Nomor telepon tak dikenal memanggil. "H-Halo?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD