“Papa, aku mau panggil Om dulu, ya. Nanti Mama marah. Aku enggak suka lihat Mama marah. Aku mau jadi anak yang baik buat Mama.” Entah kenapa, kali ini aku terus emosional tiap mendengar Fafa bicara. Anak sekecil ini, sudah sepintar ini. Dan aku tidak menyaksikan tumbuh kembangnya. Sama sekali! Mulai sejak dia bisanya hanya tersenyum, tertawa, tengkurap, merangkak, sampai bicara dan jalan. Aku telah melewatkan banyak fase penting dalam hidup anakku sendiri. “Mata Papa merah kenapa?” tanya Fafa lagi. “Papa nangis?” “Enggak, kok, sayang. Papa enggak nangis.” “Teruuus?” “Papa senang lihat Fafa udah sepintar ini.” Fafa langsung tersenyum lucu. “Makasih, Papa.” Bahkan sampai detik ini, perasaan emosionalku tak kunjung turun. Mungkin karena aku merasa Yuna terlalu hebat dalam membesarkan

