19. Dasar Yuna!

1801 Words

“Kayaknya waktu itu Fafa masih manggil Om ke ayah kandungnya, Na. Sekarang udah manggil Papa aja. Sejak kapan?” Pertanyaan itu muncul tepat setelah aku dan Mas Zayn menghabiskan makan siang. Aku mengambil tisu, mengelap mulut, lalu tersenyum. Saat ini kami makan di rumah makan tema bebakaran. Kami memilih yang simpel dan dekat saja. Apalagi waktunya terbatas. Aku harus segera kembali ke rumah sakit, sementara Mas Zayn harus segera kembali ke kampus. “Iya, Mas. Udah agak lama, kok. Soalnya, mau dihalangi kaya apa juga, nyatanya dia memang ayah kandung Fafa. Aku enggak bisa terus egois, Mas. Aku enggak bisa menghalangi Fafa yang memang sejak bisa bicara selalu merindukan sosok ayah kandungnya. Sekarang udah ketemu, mana bisa aku tega memisahkan mereka terus menerus? Awal-awal mungkin masi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD