“Bagaimana penampilanku?” Arielle berputar di depan suaminya. Zayne bertepuk tangan. “Wow, cantik sekali, Sayang.” “Gaun ini tidak berlebihan, Sayang?” “Tidak, kalau pun berlebihan juga nggak rnasalah. Karena ini pesta.” Zayne menghampiri istrinya, memutar tubuh Arielle dan hendak mengecup bibir, tapi sang istri berkelit. “Jangan, nanti lipstick berantakan.” Zayne mengalah, berdecak dalam hati dan mengakui kecantikan istrinya. Semenjak mereka menikah, Arielle lebih banyak menghias wajah, memakai pakaian bagus, dan lebih anggun. Penampilannya berubah dari gadis lugu menjelma menjadi perempuan dan istri yang cantik. Ia merasa sangat beruntung, karena seorang perempuan yang baik seperti Arielle bersedia menjadi istrinya. “Sudah siap?” “Ayo.” Mereka berpamitan pada Axel sebelum meningg

