Menenggak minuman keras ternyata tidak cukup mengusir gundah. Bahkan mengisap ganja juga tidak membuat hati tenang, justru makin kuatir. Sudah dua hari dua malam ia terkurung di dalam kamar, bahkan makan pun tidak. Ia makan kalau sang mama meletakkan nasi dan lauk pauk di depan pintu. Tidak peduli meski orang tuanya menggedor pintu, ia tetap tidak keluar. Yang terpenting mereka tahu kalau dirinya masih hidup. Ia memutar musik keras-keras, berteriak, bernyanyi, lalu mabuk lagi. Aroma tubuhnya sangat tidak sedap karena tidak tersentuh air selama dua hari ini. Sesekali ia marah dan mengumpat terutama pada Zayne. “Laki-laki b******k! b******n! Seenaknya saja merebut apa yang menjadi milikku!” Terduduk di ranjang yang kotor, ia mulai tersedu dan menepuk dahi. Saat mendengar Lusia siuman, ia

