Hazel menatap pantulan dirinya di cermin kecil di sudut meja.
Wajah tanpa riasan, kulit pucat, dan mata kecokelatan yang sangat jujur untuk dunia ini. Ia menarik rambutnya ke belakang, merapikan blouse putih sederhana dan blazer abu yang sedikit kebesaran. Tidak ada yang istimewa. Tapi anehnya, jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya.
Hazel menepuk pelan dadanya, menenangkan diri.
Saat menutup laptop dan bergegas menuju pintu, ia sempat melirik langit di luar jendela kantor. Herlington mendung, tapi sinar matahari menembus tipis di antara awan. Seolah menyorotnya — seolah dunia sadar bahwa hari ini akan mengubah segalanya.
Seperti biasa, langit Herlington sore itu berwarna abu-abu, seolah kota ikut menahan napas bersama Hazel Quinn. Mobil hitam kantor tabloid berhenti di depan Grand Bellagio Hotel, bangunan kaca menjulang yang pantulan sinarnya seolah memantulkan dunia yang terlalu mahal untuk dimasuki seorang jurnalis tabloid kelas bawah.
Hazel berdiri di trotoar, menatap pintu kaca berputar itu cukup lama. Tangannya memegang map dan rekorder kecil, sementara jantungnya berdenyut kencang seperti drum perang.
Hal ini mengingatkan Hazel pada pengalaman pertamanya bertemu narasumber.
“Tenang, ini cuma wawancara,” bisiknya pada diri sendiri.
Namun bahkan ia tahu, kebohongan itu terlalu tipis untuk dipercaya.
Begitu melangkah masuk, aroma white lily dan kayu cendana langsung memenuhi indra penciumannya. Lantai marmer berkilau, lampu gantung kristal menyorot lembut, dan setiap orang yang lewat berpenampilan seolah baru keluar dari majalah mode. Hazel menelan ludah — jaket blazernya terasa semakin kebesaran.
Seorang resepsionis mengantarnya ke lantai atas, ke sebuah suite privat yang sudah dipesan untuk sesi wawancara.
Hazel tidak siap ketika pintu itu terbuka.
Jantungnya berdebar-debar, rasanya lebih menakutkan dari pertama kali dia bekerja di bidang ini.
Ruangan itu luas, dengan jendela besar menghadap kota, dan di tengahnya berdiri sosok yang membuat waktu berhenti.
Diego Ronan Blake.
Wow! Dia sangat tampan dari yang dilihat di layar kaca. Kulitnya yang eksotis dan postur tubuhnya yang … ah Hazel benar-benar terpanah. Tersihir oleh ketampanan pria itu.
‘Hazel, fokus…fokus…’ dia menenangkan dirinya sendiri.
Diego mengenakan kemeja hitam, lengan tergulung hingga siku, memperlihatkan urat tangan yang menegaskan kematangan seorang pria. Cahaya sore jatuh di wajahnya — rahang tegas, mata abu-abu kehijauan yang dalam dan menatap seperti bisa membaca isi kepala orang lain.
Hazel terpaku.
Dalam sekejap, udara di paru-parunya lenyap.
Auranya yang dominant mampu melumpuhkan syaraf-syaraf kesadaran Hazel. Tapi, Hazel harus profesional.
Satu kilasan liar melintas di kepalanya, kilau kulit yang berkeringat, bibir pria itu menyusuri lehernya, napas berat yang berbisik di telinganya.
Potongan-potongan mimpi semalam datang seperti badai — terlalu cepat, terlalu panas, hingga ia harus menunduk agar pipinya yang memerah tidak terlihat.
“Miss Quinn?” suara Diego rendah dan serak, sama persis dengan suara dalam mimpi itu.
Hazel hampir menggigit lidah sendiri untuk memastikan ia benar-benar terjaga.
“Ya, saya… dari Herlington Daily Buzz,” ucapnya gugup. “Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu.”
Diego tersenyum tipis. “Aku tidak punya banyak waktu, jadi mari kita mulai.”
Tentu saja Anda tak memiliki banyak waktu, Mr. Blake!
Nada suaranya sopan tapi dingin, seperti seseorang yang terbiasa memberi jarak pada dunia. Ia duduk di sofa kulit di dekat jendela dengan kaki bersilang, menunjukkan kharismanya yang tak terbantahkan. Hazel menyalakan rekorder, berusaha menyingkirkan bayangan tubuhnya di bawah pria itu, tubuh yang dalam mimpi menjerit sekaligus menyerah.
Namun baru saja ia mengajukan pertanyaan pertama, Diego menatapnya lebih lama dari seharusnya.
Tatapan itu — tajam, dalam, dan anehnya… akrab.
Hazel bisa merasakan kulit tengkuknya merinding, sama seperti di mimpi ketika pria itu menatapnya sebelum menariknya ke pelukan.
“Sudah berapa lama kamu bekerja di tabloid itu?” tanyanya tiba-tiba.
Hazel berusaha fokus. “Empat tahun. Saya mulai sejak kuliah, awalnya magang.”
“Empat tahun,” Diego mengulang perlahan, seperti sedang mengingat sesuatu. “Masih muda untuk menulis tentang kehidupan orang lain.”
Keheningan menggantung di udara. Hazel menelan ludah, setiap detik yang berlalu terasa seperti deja vu yang aneh.
Lalu Diego mencondongkan tubuh sedikit. “Apakah kita… pernah bertemu sebelumnya?”
Hazel tersenyum ‘Sudah, tapi dalam mimpi’ jawabnya cepat, tapi hanya dalam hati.
Karena jujur saja, pertanyaan itu menghantam Hazel seperti arus listrik.
Ia menatap pria itu, dan di balik tatapan dinginnya, ia seolah melihat pantulan dari mimpi — punggungnya yang tegang di bawah genggamannya, suara serak yang menyebut namanya.
Tatapan Hazel tanpa sadar jatuh pada kedua tangan Diego yang bertaut di atas pangkuannya. Jari-jari panjang itu tampak tenang, tapi entah kenapa, tubuh Hazel masih mengingat betul bagaimana rasanya sentuhan panas dari tangan sebesar itu—meski seharusnya, itu hanya mimpi.
Hazel memaksa bibirnya bergerak. “Saya… tidak yakin.”
Nada suaranya bergetar, tetapi ia tersenyum tipis, berusaha menjaga jarak yang mulai menguap di antara mereka.
Ingin rasanya mengaku kalau dia hanya wartawan kecil yang biasa mewawancarai artis menengah, tapi jelas itu non ethical dan akan membuat nama tabloid-nya rusak karena mengirim wartawan rendahan untuk seorang Diego Ronan Blake.
Diego menatapnya lama, terlalu lama. “Lucu,” katanya perlahan. “Karena rasanya aku sudah pernah… berada di dekatmu.”
Hazel berpura-pura tertawa kecil untuk meredakan rasa gugupnya, menatap rekorder di meja. “Mungkin saya pernah meliput acara Anda. Saya sering di lokasi gala.”
“Ya,” ucap Diego, matanya masih menatapnya, “mungkin.”
Namun getaran di suaranya tidak terdengar yakin.
Dan Hazel tahu, di balik tatapan itu, ada sesuatu yang berusaha keluar dari bawah permukaan, juga sesuatu yang tak bisa ia akui tanpa terdengar gila: bahwa mereka mungkin benar-benar pernah bertemu, tapi bukan di dunia yang sama.
Sesi wawancara berjalan dengan aneh, setiap pertanyaan formal berubah menjadi percakapan yang tak punya arah. Diego sesekali menjawab, tapi lebih sering diam, memperhatikannya.
Di luar, langit semakin gelap. Cahaya senja menelusup lewat tirai, jatuh di wajah Hazel, menyoroti mata cokelatnya yang bergetar antara gugup dan penasaran.
Dan di detik itu, Diego menatapnya dengan intensitas yang membuatnya ingin berpaling, namun tak mampu.
Tatapan itu bukan milik seorang selebritas yang diwawancarai.
Itu tatapan seseorang yang mengingat.
Hazel menelan napas, dan untuk sesaat, ia merasa mimpi semalam belum berakhir.
Mungkin, pikirnya ngeri sekaligus tergoda, mimpi itu baru saja mulai menjadi nyata.
Ada sesuatu di cara Diego menatapnya—tenang, tapi dalam, seperti tahu sesuatu yang seharusnya hanya ada di kepalanya sendiri.
Hazel tersenyum canggung, mencoba menjaga jarak aman, tapi senyum tipis pria di hadapannya terasa seperti menelannya hidup-hidup.
Atau… mungkinkah itu hanya perasaannya saja?
Entah kenapa, perasaan itu menempel lebih lama dari yang seharusnya, rasanya … seperti sisa mimpi yang menolak hilang, bahkan setelah ia benar-benar terjaga.