Undangan

1167 Words
Hazel menarik napas lega begitu keluar dari hotel. Udara sore menyambutnya dengan lembap dan berangin, tapi baginya terasa seperti beban besar baru saja diangkat dari pundak. Ya… Diego memang tampan. Bahkan sangat tampan. Meskipun dibandingkan dengan bintang-bintang yang lebih muda darinya, dia jauh lebih tampan. Hazel jarang memuji orang. Tapi Diego adalah pengecualian. Terlalu tampan, malah. Tapi bukan tipe pria yang pernah Hazel bayangkan, apalagi inginkan. Jangankan Diego Ronan Blake yang aktor sekaligus tycoon yang wajahnya menghiasi setiap papan iklan di Herlington, bahkan untuk menarik perhatian Pemimpin Redaksi-nya yang duda, Hazel tak pernah berhasil. Ia terkekeh pelan, miris pada dirinya sendiri. “Ya Tuhan, Hazel,” gumamnya sambil mengibaskan rambut, “kamu bahkan bukan tipe pria berumur yang kesepian.” Hazel tersenyum karena membayangkan Pak Martin yang klimis, dia tampan tapi jangan dibandingkan dengan Diego. Namun, tetap saja dia menjadi idola para karyawan perempuan di kantor. Meskipun demikian, bayangan Diego kembali melintas di benaknya — tatapan matanya, nada suaranya, cara pria itu menyebut namanya seolah sudah mengenalnya lama, mengingat itu tubuh Hazel tiba-tiba merinding. Ada sesuatu dalam gestur dan kalimat Diego tadi yang membuat darahnya terasa berdesir aneh. Tidak seperti yang terlihat di layar kaca atau di media, sosok dingin dan dominan itu ternyata menyimpan sisi lain. Sesuatu yang… menakutkan. Hazel menggigit bibir bawahnya, mencoba menepis pikiran yang meluncur begitu saja. “Pasti sudah banyak wartawan cantik yang dia cicipi,” pikirnya sinis, tapi justru bayangan itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat. “Oh, my God, Hazel, kamu gila!” Ia buru-buru mempercepat langkah, menahan diri agar tidak terlihat seperti wanita yang baru saja kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Begitu pintu apartemen mungilnya tertutup, Hazel langsung melepaskan blazer kebesarannya dan menjatuhkan tubuh ke sofa two-seater di ruang tengah. “Finally…” helanya panjang. Satu botol air mineral langsung ia tenggak habis, dinginnya meredakan panas yang aneh di tenggorokan. Bukan udara luar yang membuatnya gerah akan tetapi sesuatu yang lain, yang menempel di pikirannya sejak pertemuan itu. Hazel baru saja menyalakan laptop ketika ponselnya berdering. Nama Pak Martin muncul di layar, si duda Pemimpin Redaksi yang sekaligus dosennya dulu waktu masih kuliah. Lelaki berusia empat puluhan, duda tanpa anak, yang keras tapi cukup adil. “Hazel,” suara Martin serak di seberang, “aku baru dapat kabar dari manajer Diego. Katanya dia… senang dengan hasil wawancaranya bersamamu.” Hazel nyaris tersedak. “Ma—maaf, Pak? Senang?” “Iya. Katanya kamu berbeda,” Martin menirukan nada seseorang yang masih tidak percaya. “Entah apa maksudnya, tapi dia bahkan minta kamu datang ke gala premiere film terbarunya besok malam.” Hazel mendadak duduk tegak. “Saya?!” “Ya, kamu. Jangan kaget, ini kesempatan langka. Tapi, Hazel…” nada Martin merendah sedikit, setengah bercanda setengah memperingatkan, “jangan sampai bikin malu. Temanya Earth Elemental, pakai baju yang bagus. Jangan lagi pakai blazer kebesaran dan sepatu karet andalanmu itu.” “Saya bareng Bapak, kan? Saya … “ “Iya. Kamu akan datang sama saya. Gala premier dilakukan minggu depan, sebelum gala premier hasil wawancara exclusive sudah harus tayang, karena ini dua hal berbeda. Besok kamu harus setor transkripnya” Hazel mendengus, tetap saja dia ditekan dengan pekerjaan yang orang lain angkat tangan. Namun, tiba-tiba saja Hazel menatap dirinya sendiri lewat pantulan kaca jendela — rambut acak-acakan, kaus longgar, wajah tanpa riasan. Lucu, pikirnya. Dunia benar-benar punya cara aneh untuk bercanda. Ia mematikan telepon dan terdiam sejenak. Tangannya masih gemetar saat meraih cangkir di meja. Entah karena senang, gugup, atau… kenapa aku jadi deg-degan, c’mon Hazel, back to your sense!. Hazel menutup mata, mencoba mengatur napas. Tapi bayangan tatapan Diego, abu-abu kehijauan, tajam tapi hangat di ujungnya — kembali muncul tanpa diundang. Dan kali ini, ia tak bisa menepis perasaan bahwa ada rasa penasaran dan tidak sabar dengan acara gala premier mendatang. Malam itu, apartemen Hazel sunyi. Hanya suara hujan rintik-rintik di luar jendela dan dengung halus dari kulkas tua di dapur. Hazel duduk di depan laptop, layar putih kosong menatap balik padanya seperti cermin. Biasanya, menulis naskah pesanan klien, terutama naskah yang bertema erotika, tidak pernah sulit. Ia tahu rumusnya, yaitu deskripsi lembut, tempo lambat, sedikit rayuan. Tapi malam ini… jari-jarinya tak bisa tenang. Setiap kali ia mencoba mengetik, wajah Diego muncul begitu saja di pikirannya. Tatapan mata elangnya yang tajam, menyimpan misteri tapi membuat tersesat dalam waktu bersamaan. Nada suara berat yang menyeret setiap kata seperti rahasia yang tak boleh dibuka. Cara pria itu menatapnya lama, seolah tahu apa yang ia sembunyikan di balik senyum profesionalnya. Hazel menelan ludah, mencoba fokus. Ia mulai mengetik kalimat pertama. ‘Tangannya menyentuh kulit wanita itu perlahan, tanpa tergesa. Bukan karena ragu, tapi karena ia tahu, setiap sentuhan akan meninggalkan jejak.’ Hazel berhenti. Dadanya naik-turun. Tangannya bergerak lagi. ‘Nafasnya berat, nyaris seperti bisikan di telinga. “Tenang,” katanya. Tapi wanita itu tidak bisa tenang. Tidak setelah merasakan tatapan yang seolah menelanjangi setiap inci dirinya.’ Ia menatap layar itu lama. Kalimatnya mengalir terlalu mudah karena semua terasa nyata seolah gadis yang ada di dalam tulisan itu adalah dirinya. Dan ia sadar, kalau setiap kata yang tertulis, setiap gestur pria dalam ceritanya itu adalah Diego. Dia dan Diego yang ada di dalam cerita. Hazel menutup mulutnya dengan tangan, nyaris malu pada dirinya sendiri. Tapi jari-jarinya tetap menari di atas keyboard, menulis hingga halaman itu penuh dengan deskripsi yang lebih jujur dari yang seharusnya. Saat akhirnya ia berhenti, napasnya tercekat. Teks di layar terasa seperti pengakuan yang tak sengaja. Ia menatap jam — hampir tengah malam. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menekan send dan mengirim naskah itu ke kliennya. Beberapa menit kemudian, suara notifikasi email berbunyi. Hazel membuka pesan itu, dan membaca cepat. [Naskahnya luar biasa. Feel-nya hidup sekali. Kamu bisa buat adegan selanjutnya lebih detail, Hazel? Pembaca pasti akan suka. Aku tunggu, ya! Kalau kali ini bukuku menjadi best seller lagi, aku akan berikan kamu bonus menarik] Hazel terdiam, menatap layar itu. “Lebih detail?” gumamnya pelan. “Adegan lebih detail itu seperti apa?” Ia menggigit bibir bawahnya, dia menahan sesuatu. Tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Bayangan Diego muncul lagi dan kali ini tanpa jas, tanpa kemeja, hanya kulit kecokelatan dan otot d**a yang bergerak di bawah cahaya. Tatapan mata elang, itu tetap sama, dominan, tenang, tapi membakar dari dalam. Hazel memejamkan mata, mencoba menepis. Tapi tubuhnya bereaksi seolah memiliki pikirannya sendiri, denyutan halus di pangkal kakinya membuat napasnya tersengal. “Cukup, Hazel! Jangan murahan! ” bisiknya pada diri sendiri. Ia menutup laptop, menekan tombol power seolah ingin menghapus bayangan itu bersama cahaya layar. Tapi yang tersisa justru hangat yang aneh, yang menolak pergi bahkan setelah ruangan kembali gelap. Hazel bersandar di sandaran sofa, menatap langit-langit. Malam itu terasa panjang. Sebelum matanya benar-benar terpejam, bayangan terakhir yang melintas di benaknya bukanlah layar laptop atau naskah yang belum selesai—melainkan sepasang mata abu-abu kehijauan yang menatapnya dengan senyum tipis penuh arti. ‘Hazel, jangan baper, ya! Diego Ronan Blake gak mungkin suka sama kamu bahkan untuk menjadikanmu mainannya pun dia tidak tertarik!’ Hazel mengingatkan dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD