Malam itu tidak langsung membawa tidur untuk Amanda. Ia masih duduk di tepi ranjang, lampu kamar diredupkan, hanya cahaya kecil dari lampu meja yang menyinari foto Nalendra. Hatinya terasa tenang dengan cara yang asing, bukan karena kesedihan hilang, melainkan karena untuk pertama kalinya ia berhenti melawan rasa sakit itu. Ia membiarkannya ada, berdampingan dengan napasnya. Di luar kamar, rumah Darwis telah sunyi. Langkah-langkah kaki terakhir pelayan sudah lama menghilang. Namun Amanda tahu, di kamar sebelah, Rangga belum tidur. Ada intuisi yang tak bisa ia jelaskan, sebuah tarikan halus yang membuat dadanya menghangat dan cemas sekaligus. Amanda bangkit, ragu sejenak, lalu melangkah keluar kamar. Lorong panjang terasa dingin di bawah telapak kakinya. Ia berhenti di depan pintu kamar

