Kehamilan Amanda berjalan pelan namun penuh warna. Setiap minggu membawa perubahan kecil yang tak selalu nyaman, tapi selalu bermakna. Perutnya mulai membulat, langkahnya sedikit melambat, dan dunianya seperti mengecil hanya pada satu pusat: kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Nalendra menjadi saksi paling setia dari setiap perubahan itu. Ia menghafal jam mual Amanda, tahu kapan istrinya tiba-tiba ingin makanan tertentu, dan belajar membedakan antara lelah biasa dan lelah yang butuh pelukan lebih lama. Suatu pagi, Amanda duduk di meja makan, menatap semangkuk bubur yang sama sekali tak menggugah selera. Nalendra memperhatikannya diam-diam. “Nggak bisa?” tanyanya lembut. Amanda menggeleng pelan. “Hari ini rasanya semua aneh.” Nalendra bangkit tanpa banyak bicara. Ia mengganti

