Masuk Kandang Singa

1287 Words
Langkah kaki Geo terhenti begitu gerbang otomatis rumahnya terbuka. “Gadis kecil, siapa kamu? Kenapa berdiri di depan rumahku?” suaranya tajam, dingin. Dari posisi jongkok di depan pagar, Saskia mendongak. Cahaya sore membentuk siluet tubuh jangkung di hadapannya. Dia langsung berdiri, lututnya terasa lemas. “Om…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Om?” kening Geo berkerut, matanya menyipit curiga. “Ehh… Pak… saya ke sini mau minta tolong… jangan ambil rumah saya.” Nada suaranya bergetar, tapi matanya memaksa tetap menatap. “Mengambil rumahmu?” Geo menatapnya lama, tak mengerti. Gadis ini asing. Cantik, polos, tapi sorot matanya… penuh putus asa. Dia mungkin salah alamat. “Don!” suaranya berat memanggil asisten. “Ya, Pak!” Doni berlari kecil mendekat. “Urus dia. Kalau nggak jelas, usir saja.” “Baik!” Doni mengangguk, lalu menatap Saskia. “Nona, sebaiknya kamu pergi,” ucapnya datar, walau matanya masih mencoba sopan. Geo sudah kembali ke mobilnya, tak tertarik melanjutkan. “Gak mau!! Aku gak mau!!” suara Saskia meninggi, penuh kepanikan. “Nona, jangan bikin masalah. Jangan bikin Pak Geo marah,” desis Doni, mencoba menghindarkan gadis ini dari bahaya. “Aku bukan mau bikin marah… aku cuma mau minta tolong…” suaranya pecah di ujung kalimat. Doni menghela napas, mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya, mencoba mengakhiri urusan cepat-cepat. Saskia menatap uang itu, lalu menggeleng cepat. “Gak mau… aku mau rumahku jangan diambil.” Kesabaran Doni mulai tipis. Rahangnya mengeras. “to the point saja. Siapa namamu? Rumah apa yang kamu maksud? Karena Pak Geo nggak pernah ambil yang bukan haknya.” “Namaku Kia… Saskia Tanto. Ayahku Josh Tanto. Kalian sudah ambil satu-satunya peninggalan Mama. Aku nggak punya rumah, nggak punya tempat tinggal… tolong aku…” Kata-katanya tersendat di ujung. Tiba-tiba, Saskia berlutut. Kedua tangannya terkatup di depan d**a, matanya basah. Doni menatapnya lama. Ada rasa iba, tapi ia tahu masalah ini bukan main-main. “Nona… kamu tahu nggak apa kesalahan ayahmu? Dia bawa lari uang Pak Geo. Rumah yang kamu maksud bahkan nggak sebanding dengan jumlah itu.” “Aku akan bayar hutang ayahku. Tapi biarkan aku tetap tinggal di rumah itu…” suaranya memohon, tangannya gemetar. Geo yang dari mobil menyaksikan, perlahan keluar. Sepatu kulitnya menginjak tanah dengan suara berat. Wajahnya datar, tapi tatapannya mematikan. “Om… tolong saya…” Saskia kini berlutut di kakinya. “Dia anak Josh Tanto, Pak,” Doni menjelaskan cepat. Geo membungkuk. Jemarinya mencengkeram dagu Saskia, memaksa wajah gadis itu mengangkat. Jarak mereka nyaris hanya sejengkal. “Kamu tahu… berapa uang yang dibawa kabur ayahmu?” suaranya rendah, tapi tajam menusuk. Saskia menggeleng, bibirnya bergetar. “Dua ratus lima puluh miliar.” Kata-kata itu jatuh seperti palu godam. “Sekarang… bilang ke aku… bagaimana kamu mau bayar?” “Du-dua ratus…” Saskia tak sanggup melanjutkan. Matanya memerah. Uang sebanyak itu… bahkan tak pernah ia bayangkan. Hari ini ulang tahunnya yang ke-18. Seharusnya ia pulang membawa berkas pendaftaran kuliah. Tapi yang menunggunya hanyalah pintu rumah yang terkunci dan suara orang asing mengusirnya. Hanya satu koper pakaian yang bisa ia bawa. “Pergi!” Geo melepaskan dagunya, mendorong bahunya. “Kamu nggak akan sanggup bayar.” “Aku… aku bisa jadi pelayan di rumah Om…” Geo menoleh, ekspresinya sinis. “Pelayan? Pelayanku sudah banyak. Dan tangan sekecil itu… bisa apa?” “A-aku bisa! Aku bisa!!” Sudut bibir Geo terangkat. Senyum itu dingin. “Oke. Don… bawa dia masuk.” “Tapi, Pak—” “Kita sandera dia. Sampai ayahnya balik. Dia pasti balik demi anaknya.” “Baik, Pak.” “Kamu. Masuk ke mobil!” perintah Doni. Saskia tertegun, lalu pelan-pelan berdiri. Mata yang semula basah kini memantulkan cahaya harapan… …tanpa tahu ia baru saja masuk ke dalam kandang serigala. *** “Kamu ikut saya!” perintah Geo terdengar sangat otoriter, nadanya berat seperti tak memberi ruang untuk penolakan. Saskia menunduk, menggenggam erat handle koper kecilnya, berusaha membawanya ikut. Geo menoleh sekilas, lalu menggeleng. “Tinggalkan itu di sana,” suaranya datar tapi mengandung ancaman. Dengan perasaan takut namun diiringi secercah harapan, Saskia melangkah mengikuti Geo. Langkah laki-laki itu panjang, mantap, dan setiap hentakannya membuat d**a Saskia semakin sesak. Sampai akhirnya ia menyadari—mereka berhenti di depan sebuah ruangan besar. Saat pintu terbuka, aroma maskulin yang pekat langsung menyeruak. Inilah kamar pribadi Geo. Saskia menelan ludah. Jemari mungilnya meremas ujung roknya, tubuhnya tegang. “Tutup pintunya,” suruh Geo tanpa menoleh. Meski hatinya berdebar kencang, Saskia tetap memutar gagang pintu perlahan hingga terdengar bunyi klik yang menutup ruang itu rapat-rapat. “Lepas bajumu!” ucap Geo tiba-tiba. Suaranya begitu tenang… tapi mematikan. Mata Saskia langsung membulat. Ia menatap Geo dengan sorot mata merah basah. “Om… sa-saya harus ngapain? Katanya… jadi pelayan… kenapa harus lepas baju?” Geo menyipitkan satu mata, lalu melangkah mendekat. Tangan besarnya meraih pergelangan tangan Saskia, genggamannya kuat. “Tangan kecil ini… nggak akan sanggup mengerjakan pekerjaan kasar di rumah ini. Satu-satunya hal yang bisa kamu kerjakan di sini… adalah melayaniku.” “Me-melayani? Ta-tapi… kenapa harus lepas baju…?” suaranya nyaris berbisik. “Kalau nggak lepas baju… bagaimana?” tanya Geo, sebuah smirk tersungging di bibirnya. Saskia menatap sekeliling, matanya mencari jalan keluar. Ruangan itu terasa dingin, dindingnya seakan merapat menjeratnya. Dia tidak sepenuhnya polos—ia paham kini maksud Geo. “Om… saya akan layani Om… tapi bukan itu, ya…” suaranya penuh permohonan. “Bukan itu? Lalu mau apa? Aku orang dewasa… sudah bisa lakukan banyak hal sendiri. Hanya satu hal itu yang belum bisa aku lakukan sendiri. Dan aku butuh… perempuan cantik dan polos… yang mau membantuku.” Ucapannya berakhir di telinga Saskia, napas hangatnya membuat wajah gadis itu langsung memerah. “Ta-tapi… aku nggak bisa itu… aku nggak pernah…” Saskia berharap Geo akan berubah pikiran. “Itu sesuatu yang secara naluri… bisa kamu lakukan tanpa belajar. Atau… aku akan mengajarimu…” Saskia menggeleng cepat, wajahnya yang putih kini memerah sepenuhnya. “Om… jangan… aku ke sini minta pertolongan Om…” “Kalau kamu jadi aku, apa kamu akan melepaskan tawanamu? Dan menolongnya?” tanyanya dingin. Saskia terdiam, menunduk, jemarinya meremas-remas roknya. Lututnya akhirnya jatuh ke lantai, menyentuh karpet tebal yang membungkam suara. “Aku tahu Ayahku bersalah… mohon ampuni dia… aku akan lakukan apa saja… kecuali itu… asal Om mau tolong aku…” Geo berjalan menjauh, punggungnya tegap, lalu berbalik menatapnya dari jarak beberapa langkah. “Kalau kamu nggak mau lakukan itu… lupakan. Pergilah!” “Om… tolong aku… aku… aku nggak tahu harus pergi ke mana… dan… rumah itu…” “Bukan urusanku! Ayahmu saja meninggalkanmu… apalagi aku, orang lain!” Dada Saskia terasa diremas. “Ayahku tidak meninggalkanku… dia akan jemput aku…” “Oh, ya? Sudah coba hubungi?” Saskia buru-buru merogoh saku rok, mengambil ponsel. Pesan yang ia kirim beberapa jam lalu masih bercentang satu. Ponsel ayahnya tidak aktif. Ada rasa kecewa… dan pikiran buruk mulai merayap di kepalanya. “Bagaimana?” suara Geo menusuk. “Dia… dia…” “Dia membuangmu! Nggak peduli padamu! Pergilah!” “Om… kumohon… jangan usir aku!” “Boleh. Tapi lepas bajumu!!” Saskia menggeleng keras. “Keras kepala juga, ya?! Pergilah sebelum aku berbuat kasar… dan melemparmu ke jalanan!” bentaknya. “Om… apa nggak ada cara lain? Mungkin aku bisa… merawat anjing… atau kucing Om…” “Aku nggak punya peliharaan… tapi kalau kamu mau petting… kamu bisa petting ini…” Tatapan Geo turun ke arah di antara pahanya. Saskia sempat mendongak, lalu buru-buru menunduk lagi. Wajahnya memanas, jantungnya berdegup liar. “Kamu nggak punya pilihan. Buka bajumu sekarang… atau pergi!” tegas Geo, suaranya membelah udara. Jemari lentik Saskia bergetar. Dengan ragu, ia mulai menyentuh kancing blousenya… membuka satu demi satu… sementara detak jantungnya berdegup kencang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD