Makanan akhirnya tiba, terhidang lengkap di depan Saskia. Perutnya yang kosong sejak siang membuatnya kalap. Tangan bersedekap, Geo mengamati Saskia makan dengan tatapan geli—sedikit senyum muncul di sudut bibirnya.
"Pelan-pelan. Makanan itu banyak."
Saskia menghentikan suapannya, melirik Geo dari sudut matanya. Reaksinya itu membuat Geo murka. Dalam dua langkah, dia sudah di samping Saskia. Tanpa peringatan, tangannya menyusup ke dalam baju Saskia dari leher, telapak tangannya yang kasar langsung meraba kulit halus di bawahnya.
"Kalau sudah selesai, kita lanjutkan pelajaranmu," bisiknya, membungkuk mendekatkan bibirnya ke telinga Saskia. Napasnya panas menusuk.
"Be-belum, Om... aku belum selesai," Saskia menjawab lemah, mulai menyuap makanan lagi dengan pelan. "Mm... Om... bisakah kamu singkirkan tanganmu? Aku gak nyaman..."
Geo menyeringai. "Gak nyaman, ya? Lalu tadi yang merem-merem menikmati itu siapa?"
Saskia menggeleng, tapi ingatan sentuhan Geo sebelumnya langsung membanjiri kepalanya. Pipinya memerah lagi, panas membara.
"Membayangkan, hm?" Geo mengejek, punggung tangannya mengusap pipi Saskia yang membara.
"Om... kumohon lepaskan aku. Aku berjanji akan membayar hutang ayahku," Saskia mencoba negosiasi, suaranya bergetar.
Geo tertawa pendek. "Bagaimana? Bekerja? Menjadi pelayan? Kamu cuma lulusan SMA! Satu-satunya yang bisa kamu lakukan hanya menjual dirimu!"
Perkataan Geo menghunjam. Saskia terdiam—dia benar. Impian kuliah, masa depannya, semuanya hancur. Air matanya menetes, bercampur dengan nasi di mulutnya. Asin. Pahit.
"Sebenarnya," Geo tiba-tiba berbisik dingin, "kalau kamu bisa antarkan aku ke persembunyian Josh Tanto, kamu ga harus di sini."
"Aku benar-benar tidak tahu di mana dia—"
"Kalau begitu, kamu ga punya pilihan."
"Om... aku tidak menarik. Aku jelek, aku—"
"Benar," Geo memotong, "kamu memang tidak menarik. Tapi kamu anak Josh Tanto—si tua bangka yang kabur dengan wanita jalang itu!"
"Aku tahu Om marah... aku juga marah pada ayahku. Bagaimana kalau—"
Geo menyergap, mendorongnya hingga sendok di tangan Saskia jatuh berdentang. "JANGAN coba bernegosiasi denganku!" Cengkeramannya di rahang Saskia mengeras, memaksanya menatap mata Geo yang gelap. "Kamu beruntung aku mau pelihara kamu. Karena aku bisa saja jual kamu ke rumah bordir. Mengerti?!"
Saskia mengangguk cepat, napasnya tersendat. Ketakutan.
"Selesaikan makanmu!" Geo melepas cengkeramannya dengan dorongan kasar.
Saskia mengangguk patuh. Makanan yang tadi terasa lezat di lidahnya kini terasa seperti logam dingin—hambar, tak ada rasanya.
"Kenapa tidak semangat?" Geo menggertak, matanya menyipit melihat cara makan Saskia yang setengah hati.
"Bu-bu—"
"Kamu bilang tadi lapar? Buang saja kalau tak mau!"
Sebelum Saskia bisa bereaksi, Geo sudah menyapu piring itu dari meja. Pecahan gelas berdentangan, nasi dan lauk berceceran di lantai seperti bangkai yang terserak.
Saskia langsung berjongkok, tangannya gemetar mengumpulkan pecahan piring dengan jari-jari yang mulai terluka. Air matanya menetes deras, bercampur keringat dingin.
"Hentikan!" Geo menggeram.
Tapi Saskia malah semakin cepat, terburu-buru membersihkan seolah nyawanya tergantung pada itu. Sebuah serpihan kaca menancap di telapak tangannya, tapi dia terus mengais-ngais lantai seperti orang kesurupan.
"AKU BILANG HENTIKAN!"
Geo menyerang. Tangannya mencengkeram lengan Saskia dengan kekuatan brutal, menariknya berdiri lalu—BAM!—melemparkan tubuh ringkih itu ke kasur hingga pegasnya berderit.
"Kenapa gak nurut, heh?" Geo membentak, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Saskia yang ketakutan.
"Aku... aku hanya membersihkan—"
"DIAM!" Geo menggebrak kasur di samping kepala Saskia, membuatnya terkejut. "Jangan bicara kalau aku gak suruh! Mengerti?!"
Saskia mengangguk kuat, dagunya bergetar.
Geo tak memberinya waktu. Tubuhnya menindih Saskia, berat dan panas. Salah satu tangannya menahan pergelangan tangan Saskia di atas kepala, sementara yang lainnya meraih dagu Saskia dengan cengkeraman yang bisa meninggalkan memar.
"Kamu belajar nurut hari ini," desisnya, "atau aku akan membuatmu menyesal lebih dalam."
Saskia mengangguk patuh, matanya terpejam rapat. Dadanya naik-turun tak beraturan, jantung berdebar kencang seperti ingin keluar dari sangkar tulang rusuknya.
Jari kasar Geo menyapu air mata di pipinya yang merah bengkak. "Berhenti menangis," perintahnya, suara rendah tapi terasa sangat mengintimidasinya.
Saskia mengangguk lagi, gigitan bawahnya gemetar menahan isak.
"Bagus. Diam di sini."
Geo berdiri, langkahnya berat menghilang ke ruang ganti. Beberapa saat kemudian, dia kembali membawa kotak P3K. Tangannya yang tadi begitu kasar kini bergerak telaten, membalut luka di jari-jari Saskia satu per satu. Setiap sentuhan terasa panas—seperti kulitnya terbakar oleh kontradiksi ini.
"Malam ini tidur di kamarku. Biar pelayan yang bersihkan ini," gumam Geo tanpa emosi.
Saskia menggeleng takut, tapi tatapan tajam Geo membuatnya kaku. Tubuhnya bergerak sendiri—angguk pendek, penyerahan.
Dengan mudah, tubuh jangkung Geo mengangkatnya. Saskia terkulai lemas di gendongannya, wajahnya terbenam di leher Geo yang berbau alkohol dan sesuatu yang lebih tajam—kekuasaan.
Kamarnya gelap, hanya diterangi lampu samping yang redup. Geo meletakkannya di atas ranjang besar, lalu menyelimutinya rapat. Tapi bukan kenyamanan yang datang—selimut itu terasa seperti sangkar baru.
Saskia meringkuk seperti anak terluka, gemetar tak terkendali. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan di dadanya. Langkah nekatnya mendatangi Geo kini berubah menjadi mimpi buruk yang tak bisa dibangunkan.
"Kamu takut?"
Suara Geo menggantung di udara seperti pisau di atas leher. Saskia menggeleng cepat, pandangannya menancap di selimut.
"Apa aku jahat?"
Geleng lagi.
"Kamu benar," bisik Geo, jarinya menyisir rambut Saskia yang berantakan dengan gerakan palsu lembut. "Yang jahat itu Josh Tanto..."
Saskia menahan napas ketika Geo membelai rambutnya—sentuhan itu salah, terlalu halus untuk tangan yang tadi melemparkannya ke kasur.
"Kamu ingin tahu kejahatan apa saja yang dilakukan ayahmu?"
Geleng.
"Kamu salah," Geo mendesis, jarinya tiba-tiba mencengkeram rambut Saskia—tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membuatnya kaku. "Seharusnya kamu mengangguk."
Saskia mengangguk patuh.
"Dia tidak hanya mencuri uang," Geo melanjutkan, suaranya tiba-tiba berubah dingin seperti baja, "tapi juga mencuri tunanganku."
Tangan Geo kembali membenahi rambut Saskia, kali ini dengan gerakan posesif—seperti menata barang miliknya.
"Kamu harus menebus kesalahan ayahmu. Apa kamu setuju?"
Angguk.
"Aku menakutimu, Kia?"
Geleng.
"Buka matamu," perintahnya, suara tiba-tiba berubah lembut seperti beledu beracun. "Dan tatap mataku."
"Sekarang, boleh aku menyentuhmu?"
Suara Geo rendah, berat, seperti pisau tumpul yang menggesek kulit. Di dalam hati, Saskia berteriak tidak. Tapi matanya menatap sorot mata Geo - dingin, tajam, dan penuh ancaman yang tak terucap. Perlahan, tanpa suara, kepalanya mengangguk.
"Sangat manis... Aku suka..."
Selimut tergeser dengan gerakan lambat. Punggung jari Geo menyentuh kulit Saskia - dingin seperti logam, tapi meninggalkan bekas panas. Sentuhannya terlalu halus, terlalu perlahan, sengaja dibuat untuk membuat setiap saraf Saskia bergetar.
Bulu kuduknya berdiri. Napasnya tersendat. Tubuhnya tegang, tapi anehnya, ada sesuatu di dalam dirinya yang... menanggapi. Itu yang paling membuatnya mual - pengkhianatan tubuhnya sendiri.
Geo mengamati setiap reaksinya dengan mata gelap. "Kamu merinding," bisiknya, senyum tipis muncul. "Takut... atau sesuatu yang lain?"
Jarinya terus menjelajah, menelusuri garis tulang selangkanya dengan santai, seperti seseorang yang sedang memeriksa barang miliknya.
Saskia menaatinya dengan gemetar. Mata Geo menyala dalam gelap—tampan, berkarisma, tapi mematikan seperti predator yang sedang mengincar. Sorot matanya menusuk, menjanjikan kekerasan yang terselubung dalam keindahan.
“Sekarang, boleh aku menyentuhmu?” tanya Geo pelan dan mematikan.
Dalam hati Saskia berkata tidak tapi sorot mata Gel terlalu menakutkan sehingga membuat Saskia mengangguk.
“Sangat manis…aku suka….” ucapnya membuka selimut saskia lalu dengan punggung jari tangannya dia menyentuh Saskia dengan gerakan halus dan membuat bulu kuduk Saskia meremang.