BAB 8

2098 Words
Allana menatap sampo Lifebuoy, yang masih berada di dalamn tas kresek dan diletakkan di atas meja ruang tamu. “Kenapa kok murung? Ini udah aku ganti samponya,” ucap Marchell dengan ekspresi tanpa dosa. Allana tak lagi peduli soal sampo, hatinya justru cemas melihat penampilan Marchell saat mengantar Michy. Aroma parfum merebak, rambut rapi dengan sedikit styling, kaos hitam dipadu jaket bomber army. Penampilan itu membuat Allana terkesima sekaligus khawatir. Tanpa usaha besar pun Marchell sudah tampak menawan, karena wajah ganteng selalu terlihat bagus. Namun malam itu jelas berbeda, lebih niat dari biasanya, mengingat Marchell sering tampil santai dengan kaos dan celana seadanya. “Mau kemana?” tanya Allana sambil mengernyitkan dahi. “Mau ke rumah Papa mama,” jawab Marchell kalem. “Tumben dandan ...” Allana menatap tak percaya. “Ya. kenapa?” Marchell mengecek sejenak penampilannya sendiri. “Hmm ... Allana kembali memperhatikan penampilan Marchell. Rasa-rasanya terlalu berlebihan jika hanya untuk bertemu kedua mantan mertuanya. Allana masih hafal, aroma parfum mahal Marchell yang dihemat setengah mati itu hanya digunakan pada saat-saat tertentu saja. “Kamu mau nge-date ya?” Tatapan Allana menajam. “Enggak!” Marchell menggeleng cepat. “Aku mau ke rumah Papa mama,” jawabnya kemudian yang terlihat begitu tidak meyakinkan di mata Allana. “Bentar. Michy ikut!” Tatapan Allana menantang kedua mata Marchell. “Oh..” Marchell menggaruk kepalanya sebentar. “Ya ya udah ...” “Michyyy! lkut Papa Nak!” Allana berteriak tanpa menoleh kepada Michy yang sudah berbaring nyaman di kamarnya. “Michy nantuuukkkk..” Terdengar jawaban dari dalam kamar. “Michy ikut Papa, Sayang! Dibeliin kue sama Papa !” Allana melirik kesal pada Marchell yang hanya berdiri diam sembari menekan bibir. “Mmm nooo! Michy nantuuukk!” Terdengar lagi jawaban dari dalam kamar. “Michy nggak tidur siang?” tanya Allana masih dengan nada tinggi. “Tadi dia tidur tapi cuma bentar,” jawab Marchell kalem. “Ya udah sana!” Allana melengos kesal. “Hei. Kamu kenapa?” Sentuhan lembut Marchell menahan bahunya. “Nggak pa-pa!” jawab Allana dengan nada ketus. “Kamu cemburu yaa? Kamu takut yaa aku pacaran sama cewek lain?” goda Marchell dengan senyuman jahil di wajah. “Enggak! Idih siapa! Pergi sono! Aku nggak peduli kamu mau pacaran kek, mau ke mana kek, serah!” “Ya udah aku nggak jadi pergi.” Marchell melepas jaketnya dan duduk di atas sofa. “Kok nggak jadi?” Allana menatap Marchell yang kini sedang mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku jaketnya. “Habis kamu marah-marah nggak jelas.” “Aku nggak marah!” Marchell tersenyum sembari menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa. “Kamu cemburu kan ...” “Enggak ngapain? Kita udah cerai. Ngapain aku cemburu?” Allana masih berdiri sembari melipat kedua tangan di depan d**a. “Takut kehilangan aku mungkin,” jawab Marchell sambil membakar ujung rokoknya. Allana tersenyum kering. “Kenapa aku harus takut kehilangan kamu?” Marchell menghembuskan asap rokoknya santai, sembari melirik Allana yang masih menunggu jawabannya. “You, still loving me ... “ “Ha.. ha.. ha! Kalau aku masih cinta sama kamu, aku nggak akan milih cerai Chel!” jawab Allana tegas sambil memperhatikan Marchell yang meletakkan batang rokok pada pinggiran asbak. “Really?” Marchell menajamkan tatapannya lalu berdiri mendekati Allana. “Kalau gitu kenapa nggak nolak tiap kali aku cium?” Allana membisu. Tatapan tajam Marchell mengunci gerak bibirnya. “Ayo kita perjelas. Kamu masih cinta sama aku kan?” Marchell semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka. “Chel jangan deket-deket ... “ Allana yang menjadi salah tingkah, menahan d**a bidang Marchell dengan telunjuknya. “Kenapa? Takut aku cium terus menikmati?” “Chel, stop! Jaga sikap kamu! Michy bahkan cerita kalau kamu cium dan gendong aku, di depan kelasnya!” Marchell tersenyum kering. “Nggak mau dilihat Michy?” “Ya iyalah!” “Kalo gitu ayo masuk kamar ...” Allana menaikkan kedua alisnya. Tak percaya dengan ucapan Marchell barusan. “Kita udah cerai ...” “Tahu kok..” “Mending kamu temuin aja cewek itu! Yang bikin kamu pingin pacaran lagi!” Allana mendorong kening Marchell dengan telunjuknya. “Ayolah ... udah lama lho kita cerai. Masa kamu nggak kangen gitu-gituan?” Marchell menangkap telunjuk Allana dan perlahan menurunkannya. “Nggak!” jawab Allana tanpa berani menatap kedua mata Marchell. Marchell maju, memaksa Allana mundur hingga terhimpit dinding. Tangannya mengangkat dagu Allana, napas hangatnya menyentuh wajah. Allana tahu ia akan dicium, bibir Marchell kian dekat. Tepat sebelum matanya terpejam, Marchell berbisik, “Aku pulang...” lalu berbalik, meraih jaket dan rokok. Allana hanya membisu, menatapnya pergi tanpa menoleh. Pintu tertutup, suara bariton terdengar lirih menyanyikan, “Ada uang abang disayang, gak ada uang abang ditendang...” Ekspresi tegang Allana berangsur melunak. “Mama?” Michy tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit. “Lho? Michy belum tidur?” “Michy pingin bobok cama Mama, cama Papa,” ucap gadis kecilnya dengan nada memohon. “Papa pulang ke rumahnya, Sayang. Besok ya ketemu Papa lagi.” “Hmm..” Michy menunduk kecewa. “Oke ...oke,” ucapnya kemudian sambil berbalik. Allana menatap Michy yang tengkurap di atas tempat tidur. Sedetik kemudian ia menyahut ponselnya di atas bufet, lalu dengan cepat membuka kolom chat-nya dengan Marchell. 'Chel.' Allana mulai mengetik. 'Kalau kamu mau pergi, silahkan pergi aja. Nggak usah ngerasa nggak enak sama aku. Kamu pergi aja ke rumah perempuan itu.' Allana mengirim pesan dengan hati bergemuruh. 'Perempuan siapa? Aku mau ke rumah Papa mama kok.' Allana tersenyum sinis usai membaca pesan balasan dari Marchell. 'Udah nggak usah bohong. Sana pergi. Temuin perempuan itu.' Allana masih bersikukuh menyuruh Marchell pergi. Entah untuk apa. Mungkin hanya ingin melihat apakah Marchell masih memilih dirinya setelah diberi lampu hijau atau malah pergi menemui si perempuan baru? 'Yakin?' Allana menatap nanar layar ponselnya saat membaca balasan singkat dari Marchell. Balasan yang seolah menantang nyali itu tidak membuatnya bergeming. 'Yakin 100% ☺' 'Ok.' Allana gusar, tak puas dengan jawaban Marchell. Ia heran, benarkah lelaki itu menunggu restunya? Sesak terasa di d**a, sadar risiko perceraian adalah kehilangan cinta. Namun Marchell tetap merayu, seolah tak pernah berubah, masih mengharapkan dirinya. Geram, Allana melempar ponsel, kesal karena Marchell tak menafkahi tapi berpacaran dengan perempuan baru. Tiba-tiba suara pagar bergeser, gembok dikunci, pintu terbuka. Allana menajamkan telinga, lalu melihat Marchell masuk dengan pakaian rumahan. “Ngapain?” tanya Allana dengan wajah keheranan. “Aku tidur sini,” jawab Marchell sembari tersenyum lebar. “Hah? Maksud kamu?” Allana menatap protes. “Bukannya kamu mau ketemu sama perempuan ...” Kalimat Allana terputus saat kecupan Marchell mendarat pelan di keningnya. Selama beberapa saat, Allana dibuat berdiri kaku di balik rengkuhan lengan Marchell. Aroma parfum Marchell tercium lebih tajam dari jarak sedekat ini. “Chel!” Allana memekik saat pelukan Marchell memaksanya masuk ke dalam kamar. la bagai kehilangan nyawa saat Marchell memaksanya ambruk ke atas ranjang. Sebelah tangan Marchell masih menahan tubuhnya, sementara wajah lelaki itu terbenam di ceruk lehernya. “CHELL! APA-APA ...” “Ssttt!” Telunjuk Marchell menempel di atas bibirnya. “Aku tidur sini.” “Kenapa?” Allana berusaha menyingkirkan sebelah lengan Marchell yang masih menahan tubuhnya. “Kangen.” Lengan Marchell semakin kuat mendekap tubuh Allana. “Chel!” Allana merasa sesak. Sebelah kaki Marchell juga sengaja menumpang di atas kakinya. “Papa ... Mama?” Suara Michy yang tiba-tiba muncul di ambang pintu membuat rengkuhan Marchell mengendur. “Michy belum bobok?” Allana segera duduk tegak sembari merapikan rambutnya yang menjadi sedikit berantakan. la menoleh ketus, saat belaian tangan Marchell mengelus lembut rambut panjangnya. Marchell hanya membalas dengan cengiran jahil. “Asiik! Ada Papa!” Michy terlihat begitu senang lalu segera naik ke atas tempat tidur, kemudian menempatkan diri di antara ayah dan ibunya. “Michy mau bobok cama Mama, cama Papa! Ayo bobok!” ucap gadis itu dengan nada riang. Allana tak bisa berkata-kata. la melihat Marchell tersenyum sembari menatap kedua matanya. “Michy no! Papa harus pulang!” tolak Allana tegas. “NO!” Michy melipat kedua tangan kemudian memasang wajah cemberut marah. “Michy mau bobok cama Papa! Cama Mama ugha!” Hening sejenak. Marchell hanya tersenyum kecil sembari mengelus pelan pipi gembil putri kesayangannya. “Mama cayang Papa?” Michy bertanya dengan dua bola mata yang berkaca-kaca. Allana menelan ludah, kemudian kembali menatap Marchell. la tahu Michy belum begitu mengerti situasi mereka saat ini. Gadis itu pasti akan kecewa jika ia menjawab tidak. Allana memaksakan senyum di wajahnya kemudian menjawab,”Sayang. Mama sayang Michy juga ...” “Papa sayang Mama?” Michy beralih menanyai Marchell. Marchell tersenyum lebar, seolah tanpa paksaan. “Papa sayang Mama. Sayaaaang sekali. Sangat sayang”jawab Marchell kemudian mengunci Allana dalam tatapannya, dan membuat Michy tersenyum puas. “Papa sayang Michy ... “ Jemari Marchell menjentik pelan ujung hidung putri kecilnya. “Juga sayang Mama.” Kemudian jemarinya mencubit pelan dagu Allana yang hanya bisa membisu. “Aciiikkkk!” Michy menarik selimut. Marchell dan Allana turut masuk ke dalam selimut dan tidur menyamping menatap putri kecil mereka. “Papa ongeng!” Michy memeluk guling dan menatap Marchell. “Aaaa ...” Marchell mengangkat kedua alisnya. “Dongeng apa ya?” Marchell berpikir sejenak. “Pawang kuda dan Tuan putli!” jawab Michy lantang, membuat Allana menaikkan sebelah alis. Dongeng apa itu? Seumur-umur ia belum pernah mendengarnya. “Mama belum tahu dongeng-nya!” Marchell menunjuk Allana dengan dagunya. “Dongeng apaan tuh?” Allana menatap curiga. “Dongeng tentang pawang kuda tampan yang jatuh cinta pada seorang putri raja,” jawab Marchell sebelum memulai kisah dongengnya. “Suatu hari Tuan putri berkuda dan tiba-tiba kudanya lepas kendali. Pawang kuda datang, menyelamatkan Tuan Putri seperti pahlawan. Sekuat tenaga, semampunya. Pawang kuda mempertaruhkan semua yang dia punya, bahkan nyawa sekali pun. Tuan Putri terpana pada kemampuan si Pawang Kuda dan singkat cerita mereka saling jatuh cinta. Namun Tuan Putri pada akhirnya memilih pergi karena tahu, ia tidak bisa mencintai pawang kuda karena laki-laki itu ...” Kalimat Marchell terhenti sejenak. “Laki-laki itu apa?” tanya Allana ingin tahu. “ ...bukan orang yang Tuan putri idam-idamkan. Pawang kuda itu bukan lelaki yang Tuan Putri inginkan untuk menghabiskan sisa umur.” Marchell menunduk dan mengecup pelan dahi Michy yang telah jatuh tertidur. Allana mengerti, sepertinya dongeng itu adalah perumpamaan kisah cinta mereka berdua. Tentu saja ia masih ingat, konsep foto pra-wedding mereka dulu, di mana ia menjadi Tuan Putri dan Marchell menjadi Pangeran Berkuda. Nyatanya, pangeran berkuda itu tidak ada dalam kehidupannya. “Jadi si Pawang Kuda itu menganggap dia bukan laki-laki idaman Tuan putri?” tanya Allana dengan nada sinis. “Baguslah! Tuan putri memang seharusnya ketemu sama ksatria yang akan melakukan apa saja demi masa depan mereka! Kalau belum-belum sudah menyerah, bisa kebayang gimana masa depan ...” “Aku diajak Deon ke Bali,” potong Marchell cepat, membuat Allana melupakan kalimatnya barusan. “Dia nawarin aku kerja di galerinya. Deon butuh orang buat ngurus galerinya di Bali, karena dia mau buka cabang di Jogja dan bakalan stay di sana selama beberapa waktu ke depan. Jadi dia nawarin aku buat ngurus galerinya.” Marchell menatap wajah Allana. “Terus jawaban kamu?” Allana menatap tegang. la tahu, impian Marchell adalah hidup dan menetap di Bali, kemudian membuka galeri lukisan di sana. “Aku belum kasih jawaban ...” “Kenapa?” Allana menatap heran. “Bukannya itu kesempatan bagus?” “Kalau aku ke sana, kamu sama Michy gimana? Siapa yang jagain Michy kalau kamu kerja? Siapa yang nemenin dia? Siapa yang ngurus dia? Aku belum tanya sih, berapa penghasilan aku di sana. Tapi aku takut belum sesuai ekspetasi kamu dan pengeluaran kamu jadi makin berat karena harus bayar pengasuh anak.” Allana menghela napas sejenak, kemudian pandangannya menerawang menatap dinding kamar. “Kamu nggak usah pusingin itu Chel. Aku bisa minta tolong Papa mama aku buat jaga Michy.” “Jadi kamu lebih suka aku pergi?” Allana membisu. la melihat kekecewaan dalam tatapan Marchell. “Sori. Aku lupa kita udah cerai.” Marchell tersenyum kecut, terlihat menyesali kebodohannya barusan. “Ya udah, aku pulang.” Marchell bersiap menuruni ranjang, namun Allana menahan tangannya. “Kamu tetep ayahnya Michy. Michy butuh kamu. Tidur aja di sini. Aku tidur di kamar Michy. Kita bicarain lagi lain waktu.” Allana tersenyum singkat kemudian turun dan menutup pintu demi menyembunyikan rasa kecewa di hatinya. Marchell diam memperhatikan pintu kamar yang telah tertutup rapat, kemudian perlahan kembali merebahkan kepalanya di atas bantal. “I love you Michy, “gumamnya pelan sambil menatap wajah polos putri kecilnya. “..and I love you All.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD